Panggung Piala Dunia 2026: Ronaldo Tak Bersinar, Portugal Ditahan Imbang DR Kongo

Danu Ilham

Piala Dunia 2026 kembali menyajikan drama di lapangan hijau. Jika sehari sebelumnya Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Lionel Messi bersinar dengan performa gemilang yang mencetak rekor dan gol, panggung pada Rabu (waktu setempat) menjadi saksi bisu kebintangan Cristiano Ronaldo yang meredup. Sang kapten Portugal gagal mengikuti jejak para megabintang sepak bola lainnya, hanya mampu membantu timnya meraih hasil imbang 1-1 melawan tim kuda hitam, DR Kongo.

Pertandingan yang digelar di Houston ini menjadi kesempatan bagi Ronaldo untuk menorehkan sejarah baru, yakni menjadi pemain pertama yang mampu mencetak gol di enam edisi Piala Dunia. Namun, impian tersebut pupus seiring dengan performa Portugal yang kurang meyakinkan dan Ronaldo yang kesulitan memberikan kontribusi signifikan. Keputusan pelatih Roberto Martinez untuk mempertahankan Ronaldo di lapangan selama 90 menit menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk mantan striker Premier League, Chris Sutton.

Sutton, yang bertindak sebagai komentator untuk BBC Radio 5 Live, menyayangkan keputusan Martinez yang dinilainya "memalukan". "Dia takut untuk menariknya keluar. Dia bukan manajer sesungguhnya. Ronaldo mungkin akan mencetak gol kemenangan, tetapi permainannya sudah tertinggal zaman hari ini," ujar Sutton. Ia menilai, meskipun Ronaldo memiliki rekam jejak impresif dengan 229 penampilan dan 143 gol untuk timnas Portugal, performanya di laga ini tidak lagi relevan dengan dinamika permainan modern.

Sebelum laga, Wayne Rooney, mantan rekan setim Ronaldo di Manchester United, memprediksi bahwa Ronaldo akan termotivasi oleh performa gemilang para rivalnya. "Itulah cara dia mendorong dirinya sendiri. Mentalitasnya adalah segalanya adalah tantangan baginya," kata Rooney. Ia menambahkan bahwa persaingan antara Ronaldo dan Messi selama bertahun-tahun telah mendorong keduanya untuk mencapai level tertinggi. "Dia ingin menjadi yang terbaik, dan itu bukan dalam arti yang buruk. Dia ingin tampil dan mencetak dua atau tiga gol malam ini untuk menunjukkan bahwa dia masih berada di level itu."

Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Portugal yang lebih diunggulkan justru harus tertinggal lebih dulu. Gol pembuka tercipta pada menit keenam melalui sundulan Joao Neves, memanfaatkan umpan silang dari Pedro Neto. Sayangnya, keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Yoane Wissa berhasil menyamakan kedudukan untuk DR Kongo sesaat sebelum jeda turun minum melalui sundulan yang terukur.

Meskipun mendominasi penguasaan bola dengan 75 persen, Portugal hanya mampu melepaskan tujuh tembakan ke gawang DR Kongo, dengan hanya satu yang akurat dan berbuah gol. Statistik ini menunjukkan betapa mandulnya lini serang Portugal, terlepas dari kualitas pemain yang mereka miliki.

Cristiano Ronaldo sendiri memiliki dua peluang emas untuk mencetak gol di pertengahan babak kedua. Peluang tersebut datang berkat kreasi dari Francisco Conceicao yang masuk sebagai pemain pengganti di awal babak kedua. Pada kesempatan pertama, umpan Conceicao sedikit di belakang Ronaldo, sehingga tendangannya hanya mampu melebar ke sisi tiang. Pada kesempatan kedua, meski bola lebih ideal, Ronaldo gagal memanfaatkan tekanan dari bek DR Kongo dan tendangannya kembali melenceng.

Dalam pertandingan tersebut, Ronaldo hanya mencatatkan 25 sentuhan bola, jumlah paling sedikit di antara pemain Portugal yang bermain penuh. Lebih memprihatinkan lagi, Ronaldo kini telah menjalani 10 pertandingan berturut-turut di turnamen mayor tanpa mampu mencetak gol. Situasi ini semakin memperpanjang rentetan performa kurang memuaskan sang megabintang di panggung internasional.

Wayne Rooney, usai pertandingan, mengakui bahwa statistik Ronaldo mungkin tidak akan pernah menjadi yang terbaik. "Yang dia butuhkan adalah peluang. Jika dia mendapatkan peluang yang bagus, dia akan mencetak gol," ujar Rooney. Namun, ia juga menyoroti bahwa peluang yang didapatkan Ronaldo pada laga tersebut tidak terkonversi menjadi gol.

Komentator lain, mantan pemain timnas Prancis Gael Clichy, berpendapat bahwa Conceicao seharusnya mengambil inisiatif menembak sendiri pada peluang pertama ketimbang mengoper bola kepada Ronaldo. Ia berargumen bahwa status bintang Ronaldo dapat secara tidak sadar memengaruhi cara rekan setimnya bermain. "Kita mengatakan di awal pertandingan bahwa Ronaldo akan membantu pemain muda karena karakter dan pengalamannya, tetapi terkadang secara tidak sadar pemain seperti itu bisa mengambil terlalu banyak sorotan," jelas Clichy.

Clichy menambahkan bahwa dalam situasi pertama, jika bukan Ronaldo yang berada di sana, Conceicao mungkin akan mencoba menembak ke gawang. Ia menyamakan situasi ini dengan pengalamannya di Arsenal dan Manchester City, di mana pemain bintang terkadang menyerap semua perhatian dari pemain lain. "Saya tidak mengatakan itu benar atau salah, tetapi ketika Anda menarik mereka keluar, Anda dapat melihat pemain lain mengambil tanggung jawab," katanya.

Meskipun demikian, Clichy menegaskan bahwa ini bukanlah kesalahan Ronaldo. "Ini normal dan di sinilah pilihan manajer menjadi penting. Karena selama 90 menit, kami bertanya-tanya, ‘apakah dia akan menariknya keluar karena kami tahu dia memiliki gol di kakinya?’ Tetapi pada saat yang sama, kita tahu bahwa terkadang permainan tidak berjalan alami karena keberadaannya di lapangan." Keputusan untuk mempertahankan Ronaldo hingga akhir laga menjadi pertanyaan besar bagi banyak pengamat sepak bola, terutama ketika tim membutuhkan gol kemenangan.

Hasil imbang ini tentu menjadi pukulan bagi Portugal dalam ambisi mereka di Piala Dunia 2026. Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian krusial bagi tim Seleção das Quinas untuk bangkit dan menunjukkan kualitas mereka yang sebenarnya, sekaligus memberikan kesempatan bagi Cristiano Ronaldo untuk membuktikan bahwa ia masih memiliki taji di usianya yang tidak lagi muda.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All