Ketegangan politik di internal Israel kembali memuncak setelah tokoh oposisi sekaligus mantan kepala staf militer, Gadi Eisenkot, melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam sebuah pernyataan keras yang disampaikan pada Rabu (1/7), Eisenkot menuduh Netanyahu sengaja mengarang narasi palsu mengenai kemampuan nuklir Iran demi memanipulasi ketakutan masyarakat Israel. Tuduhan ini menambah daftar panjang friksi antara pemerintahan petahana dengan kubu oposisi yang kian meruncing di tengah situasi keamanan kawasan yang tidak menentu.
Dalam pidatonya di sebuah konferensi di Israel, Eisenkot secara terbuka menyebut klaim Netanyahu sebagai sebuah kebohongan besar. Ia menegaskan bahwa narasi yang menyebut Iran telah memiliki bom nuklir adalah fabrikasi yang tidak memiliki dasar fakta. Menurut Eisenkot, pernyataan tersebut tidak lain hanyalah taktik untuk menciptakan rasa cemas dan ketakutan di kalangan publik Israel agar dukungan terhadap langkah-langkah politik Netanyahu tetap terjaga.
Pernyataan Eisenkot merupakan respon langsung atas wawancara Netanyahu dengan saluran televisi Israel, Channel 14, pada Selasa lalu. Dalam wawancara tersebut, Netanyahu mengklaim bahwa dirinya telah mengambil langkah militer terhadap Iran sebanyak dua kali dengan tujuan menyelamatkan Israel dari ancaman kehancuran oleh senjata atom yang ia sebut sudah berada di tangan Teheran. Namun, klaim ini langsung dibantah keras oleh Eisenkot yang pernah memimpin militer Israel pada periode 2015 hingga 2019.
Eisenkot, yang kini memimpin partai Yashar dan telah menyatakan niatnya untuk maju sebagai calon perdana menteri, menilai tindakan Netanyahu sebagai bentuk penyesatan terhadap kenyataan. Ia menekankan bahwa hingga saat ini tidak ada laporan kredibel dari komunitas internasional maupun badan pengawas nuklir dunia yang mengonfirmasi bahwa Iran telah berhasil memproduksi senjata nuklir. Baginya, langkah Netanyahu memalsukan realitas ini merupakan tindakan yang menjijikkan karena mempermainkan psikologi publik demi kepentingan politik pribadi.
Situasi keamanan antara Israel dan Iran sendiri memang berada dalam titik didih yang sangat tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah rangkaian aksi militer yang melibatkan kedua negara secara terbuka. Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan besar-besaran yang menyasar instalasi serta infrastruktur militer strategis Iran. Serangan tersebut tidak dibiarkan begitu saja oleh Teheran, yang kemudian memicu aksi saling balas dan eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan militer AS di kawasan tersebut.
Tidak hanya itu, pada Juni 2025, Israel juga melancarkan operasi militer skala besar di dalam wilayah Iran. Saat itu, Tel Aviv mengeklaim bahwa target utama dari operasi tersebut adalah untuk melumpuhkan program nuklir serta menghancurkan kemampuan rudal balistik milik Teheran. Operasi tersebut menjadi salah satu titik balik dalam hubungan kedua negara yang sudah lama bermusuhan, terutama setelah klaim Israel mengenai ambisi nuklir Iran yang terus dipropagandakan secara masif.
Di sisi lain, pemerintah Iran secara konsisten membantah tuduhan bahwa mereka sedang berupaya mengembangkan senjata pemusnah massal. Teheran bersikeras bahwa seluruh program nuklir yang mereka jalankan sepenuhnya bersifat damai dan ditujukan untuk kepentingan sipil, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir dan riset medis. Iran berargumen bahwa klaim yang dilontarkan oleh pejabat Israel hanyalah bagian dari kampanye disinformasi untuk membenarkan tindakan agresif mereka di Timur Tengah.
Kritik yang dilontarkan oleh Eisenkot ini mencerminkan keterbelahan opini yang dalam di Israel mengenai bagaimana pemerintah harus menyikapi ancaman dari Iran. Sebagai mantan petinggi militer yang memahami seluk-beluk pertahanan nasional, pandangan Eisenkot memiliki bobot politik yang cukup signifikan. Tuduhan bahwa Netanyahu memanipulasi informasi sensitif demi kepentingan politik domestik diprediksi akan memicu perdebatan sengit di parlemen Israel, Knesset, dalam beberapa hari mendatang.
Bagi publik Israel, isu nuklir Iran memang menjadi perhatian utama yang memengaruhi persepsi keamanan nasional. Selama bertahun-tahun, isu ini selalu menjadi kartu as dalam narasi politik Netanyahu untuk memenangkan hati pemilih. Namun, dengan munculnya tantangan terbuka dari tokoh sekaliber Eisenkot, posisi Netanyahu kini berada di bawah tekanan besar untuk memberikan pembuktian faktual atas klaim-klaim yang ia sampaikan di media.
Sejauh ini, belum ada tanggapan resmi dari kantor perdana menteri terkait tuduhan spesifik yang dilayangkan oleh Eisenkot tersebut. Namun, para pengamat politik menilai bahwa dinamika ini menunjukkan krisis kepercayaan yang semakin nyata di lingkaran kekuasaan Israel. Ketidakpastian mengenai kebenaran informasi nuklir ini tidak hanya berdampak pada stabilitas politik domestik Israel, tetapi juga memengaruhi persepsi komunitas internasional terhadap kredibilitas narasi yang dibangun oleh para pemimpin negara tersebut.
Di tengah situasi yang masih memanas, masyarakat Israel kini dihadapkan pada dua narasi yang saling bertolak belakang. Satu pihak meyakini bahwa Iran merupakan ancaman eksistensial yang nyata dan harus dihadapi dengan kekuatan militer, sementara pihak lain, seperti Eisenkot, memperingatkan agar publik tidak terjebak dalam skenario ketakutan yang sengaja diciptakan oleh penguasa untuk menutupi kegagalan kebijakan lainnya. Seiring dengan berjalannya waktu, pembuktian di lapangan dan pengawasan dari lembaga internasional akan menjadi satu-satunya penentu kebenaran di tengah silang sengkarut klaim politik yang kian membingungkan ini.











