Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada tanggal yang belum spesifik namun diikuti oleh ratusan gempa susulan hingga 18 Juni 2026, telah memicu kewaspadaan dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Analisis mendalam menunjukkan adanya potensi bencana ikutan berupa retakan tanah dan fenomena likuefaksi di wilayah terdampak, khususnya yang berpusat di sekitar Struktur Graben Palolo.
Gempa utama yang berpusat di daratan, sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, tercatat memiliki mekanisme sesar turun atau normal fault. Tim geologi di lapangan terus memantau lebih dari 150 gempa susulan yang terekam, dengan kekuatan bervariasi antara Magnitudo 2,5 hingga 5,1. Intensitas guncangan di permukaan dilaporkan mencapai IX Skala MMI (Modified Mercalli Intensity), yang tergolong sangat kuat. Fenomena ini diperparah oleh kondisi tanah lunak di area permukiman penduduk, yang menjadi faktor pemicu percepatan gelombang seismik.
Badan Geologi dalam unggahan resmi di akun Instagramnya menjelaskan bahwa kompleksitas kondisi geologi wilayah tersebut menjadi penyebab utama terjadinya rangkaian gempa yang intensif. Keberagaman jenis litologi, mulai dari material yang kaku hingga lunak, serta sebaran struktur geologi yang aktif, berkontribusi pada kerumitan respons terhadap gempa utama. "Kejadian gempa bumi utama yang diikuti oleh banyaknya gempa bumi susulan, menunjukkan kondisi geologi yang rumit, dengan jenis litologi yang beragam baik rigiditas maupun kekerasannya, serta sebaran struktur geologi yang berkembang intensif di wilayah terdampak," ungkap Badan Geologi.
Perbedaan data magnitudo dari berbagai lembaga internasional sempat tercatat. USGS melaporkan Magnitudo 6,99 dengan kedalaman 11,5 kilometer, sementara GFZ mencatat Magnitudo 6,66 pada kedalaman 10 kilometer. Meskipun demikian, dampak guncangan di permukaan tetap terasa sangat kuat, terutama bagi masyarakat yang berada di daerah dengan topografi dan jenis tanah yang rentan.
Analisis lebih lanjut mengkonfirmasi bahwa mekanisme gempa dipicu oleh Sesar Palolo (graben), yang merupakan jenis sesar turun. Badan Geologi menegaskan bahwa gempa ini tidak terkait dengan aktivitas Sesar Palu-Koro atau Sesar Sausu yang memiliki mekanisme sesar mendatar. Hingga saat ini, tidak ditemukan indikasi keterlibatan Sesar Palu-Koro dalam gempa ini.
Fenomena naiknya air laut diikuti gelombang surut yang sempat terjadi pasca guncangan bukanlah indikasi tsunami. Badan Geologi menjelaskan bahwa kejadian tersebut merupakan akibat dari perubahan kondisi fisik pantai yang dipicu oleh kuatnya guncangan, termasuk adanya penurunan permukaan tanah atau land subsidence. Perubahan visual pada permukaan air laut ini lebih bersifat sementara dan merupakan respons langsung dari deformasi tanah.
Dampak fisik di lapangan yang teramati meliputi penurunan lahan yang cukup signifikan. Hal ini menyebabkan air laut di Teluk Palu sempat terlihat surut sesaat setelah guncangan mereda. Selain itu, ketidakstabilan lereng di Gunung Kamarora juga memicu terjadinya fenomena longsoran material. Amblesan pada badan jalan yang menghubungkan ke wilayah Napu juga dilaporkan terjadi, mengganggu akses transportasi.
Wilayah yang terdampak gempa ini berada dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) tingkat menengah hingga tinggi. Klasifikasi jenis tanah di area ini bervariasi, mulai dari batuan lunak hingga tanah yang sangat lunak, dengan klasifikasi Vs30 kelas C, D, dan E. Kondisi tanah yang demikian sangat rentan terhadap fenomena likuefaksi, yaitu fenomena tanah yang kehilangan kekuatan akibat guncangan gempa, sehingga berperilaku seperti cairan. Potensi likuefaksi ini teridentifikasi di Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, dan sebagian wilayah Kabupaten Poso.
Menyikapi potensi bahaya ikutan ini, Badan Geologi memberikan rekomendasi penting bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Setiap bangunan di area tersebut disarankan untuk dirancang sesuai dengan kaidah konstruksi tahan gempa yang berlaku. Selain itu, penting untuk memastikan ketersediaan jalur evakuasi yang memadai di setiap permukiman.
Masyarakat juga diimbau untuk secara rutin memeriksa kondisi struktur bangunan tempat tinggal mereka. Memastikan keamanan bangunan sebelum kembali beraktivitas di dalamnya dapat meminimalkan risiko tertimpa reruntuhan akibat gempa susulan. Perhatian terhadap retakan pada bangunan menjadi indikator penting untuk segera melakukan perbaikan atau mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Mengenai potensi likuefaksi yang dipengaruhi oleh intensitas guncangan dan karakteristik tanah, Badan Geologi menegaskan akan terus melakukan pemantauan ketat di lapangan. Informasi terkini dan arahan dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat harus selalu diikuti. Penting bagi masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Badan Geologi menekankan pentingnya menjaga ketenangan dan kewaspadaan tanpa kepanikan. Gempa susulan merupakan respons yang wajar dari aktivitas tektonik di bawah permukaan. Masyarakat diminta untuk menghindari bangunan yang mengalami keretakan dan tidak mudah mempercayai isu atau berita bohong (hoaks). Rujukan informasi resmi dari BPBD, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta pemerintah daerah adalah sumber yang paling dapat dipercaya. Informasi yang akurat dan respons yang tepat adalah kunci untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana.











