Jakarta – Tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang bertahan selama puluhan bulan akhirnya terhenti. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, angkat bicara mengenai kondisi tersebut. Ia menyebut bahwa pembengkakan defisit pada sektor minyak dan gas (migas) menjadi faktor utama di balik rapor merah tersebut.
Menurut Purbaya, kenaikan harga komoditas minyak dunia secara global memberikan tekanan berat terhadap nilai impor Indonesia. Hal inilah yang kemudian menggerus kinerja perdagangan nasional sepanjang bulan Mei 2026.
"Dugaan saya karena kita impor migas, harganya lagi bisa naik kan. Minyak, saya pikir di situ yang membuatnya naik," ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Rabu (1/7/2027).
Defisit ini menjadi sorotan karena Indonesia telah lama menikmati masa surplus perdagangan yang konsisten. Data BPS menunjukkan bahwa angka USD1,61 miliar tersebut merupakan defisit pertama yang dialami Indonesia setelah sekian lama mencatatkan tren positif secara beruntun.
Meski demikian, Purbaya meminta masyarakat dan pelaku pasar untuk tidak terlalu khawatir. Ia menegaskan bahwa secara akumulatif, kinerja perdagangan Indonesia dari Januari hingga Mei 2026 masih berada di zona hijau.
Ketahanan neraca perdagangan ini masih ditopang kuat oleh sektor nonmigas. Surplus yang dihasilkan dari ekspor sektor nonmigas dinilai masih cukup besar, sehingga mampu menjaga keseimbangan neraca perdagangan nasional secara keseluruhan meski sempat tertekan pada Mei lalu.
Pemerintah sendiri terus memantau pergerakan harga komoditas global yang sangat fluktuatif. Pengendalian impor migas menjadi salah satu tantangan strategis bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas neraca perdagangan ke depannya.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan terus berupaya melakukan pembenahan internal. Selain memantau neraca perdagangan, Purbaya saat ini tengah fokus pada peningkatan efisiensi sistem administrasi perpajakan nasional.
Salah satu agenda yang tengah dipersiapkan adalah uji coba perbaikan sistem Coretax yang dijadwalkan akan dilakukan pada pekan depan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat fundamental ekonomi di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Pemerintah optimis bahwa meski sempat mencatatkan defisit, fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga. Sinergi antara kebijakan fiskal dan perdagangan terus diperkuat guna memastikan keberlanjutan surplus di masa mendatang.











