NASA baru saja meluncurkan misi penyelamatan luar angkasa yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sebuah pesawat ruang angkasa robotik bernama LINK dikirim untuk menangkap teleskop Swift yang kini terancam jatuh kembali ke atmosfer Bumi.
Teleskop Swift merupakan aset krusial bagi komunitas sains global. Alat ini memiliki kemampuan unik untuk mendeteksi ledakan energi paling kuat di alam semesta yang terjadi akibat kematian bintang raksasa atau tabrakan antar sisa bintang.
Selama ini, Swift telah membantu peneliti mempelajari fenomena energi tinggi yang tidak bisa diobservasi dengan alat lain. Namun, aktivitas matahari yang meningkat belakangan ini menyebabkan atmosfer Bumi memuai dan menyentuh orbit Swift.
Gesekan atmosfer tersebut memperlambat laju teleskop dan menurunkan ketinggian orbitnya secara drastis. Saat diluncurkan pada 2004, Swift berada di ketinggian 600 kilometer, namun kini telah turun hingga ke angka 360 kilometer.
Dr. Simeon Barber, seorang ilmuwan ruang angkasa dari Open University, menyebut misi ini sangat berisiko. Namun, NASA menilai teleskop ini terlalu berharga untuk dibiarkan hancur terbakar saat masuk kembali ke atmosfer Bumi.
Pesawat LINK dirancang menyerupai kulkas berukuran besar yang dilengkapi dengan tiga lengan robotik. Setelah diluncurkan pada Jumat lalu, LINK akan menghabiskan beberapa minggu ke depan untuk mengaktifkan sistem navigasi, kamera, dan sensornya.
Misi ini menjadi tantangan teknis yang berat karena LINK harus mengejar target yang terus bergerak. Sekitar tiga hingga empat minggu setelah peluncuran, LINK diproyeksikan akan berada di posisi sejajar dengan Swift untuk melakukan pemetaan visual.
Tantangan utama terletak pada kondisi Swift yang tidak pernah dirancang untuk ditangkap atau diubah orbitnya oleh robot lain. Para insinyur harus memastikan lengan robotik tersebut mencengkeram bagian yang tepat agar tidak merusak struktur teleskop yang telah berusia dua puluh tahun di orbit.
Jika berhasil menempel, LINK akan menyalakan pendorong kecilnya secara perlahan untuk mengangkat kembali Swift. Proses ini tidak akan dilakukan secara mendadak, melainkan dengan tarikan halus agar stabilitas teleskop tetap terjaga.
Targetnya, LINK akan menarik Swift dari ketinggian 360 kilometer kembali ke orbit aman di angka 600 kilometer. Proses pemulihan ini diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga bulan.
Keberhasilan misi ini menjadi tolok ukur penting bagi masa depan eksplorasi ruang angkasa. Jika misi ini berjalan mulus, NASA kemungkinan besar akan mempertimbangkan operasi penyelamatan serupa untuk Teleskop Luar Angkasa Hubble yang jauh lebih ikonik di masa depan.











