Tim Nasional Iran harus menelan pil pahit setelah dipastikan tersingkir dari persaingan menuju babak 32 besar Piala Dunia 2026. Kepastian pahit ini datang menyusul hasil imbang dramatis 3-3 antara Aljazair dan Austria dalam laga terakhir Grup J yang digelar di Arrowhead Stadium pada Minggu pagi WIB, 28 Juni 2026. Pertandingan yang penuh gejolak emosi hingga menit-menit akhir ini secara langsung mengakhiri perjalanan Iran di turnamen sepak bola paling bergengsi sejagat tersebut.
Hasil seri ini menempatkan Austria kokoh di posisi runner-up Grup J, sekaligus mengamankan tiket langsung ke fase gugur mendampingi Argentina. Sementara itu, Aljazair berhasil melaju ke babak 32 besar melalui jalur delapan tim peringkat ketiga terbaik. Ironisnya, nasib Iran yang bergantung penuh pada kemenangan salah satu tim di laga tersebut, harus pupus di pengujung laga.
Detik-detik krusial yang menentukan nasib Iran terjadi pada waktu tambahan babak kedua. Aljazair sempat memimpin 3-2 berkat gol kapten Riyad Mahrez di menit ke-90+3, memanfaatkan umpan cerdik dari Houssem Aouar. Skor tersebut sempat menghidupkan kembali harapan "Team Melli" untuk lolos, mengingat satu-satunya skenario kelolosan mereka adalah jika laga Aljazair versus Austria tidak berakhir imbang.
Namun, hanya dua menit berselang, mimpi Iran hancur berkeping-keping. Penyerang jangkung Austria, Sasa Kalajdzic, muncul sebagai mimpi buruk bagi penggemar sepak bola Iran. Sundulan kepalanya di menit ke-90+6, memanfaatkan umpan silang akurat, berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3, sekaligus memupus harapan terakhir Iran. Drama lima menit terakhir ini menjadi klimaks dari pertandingan yang memang sudah berjalan ketat sejak awal.
Jalannya pertandingan di hadapan 69.045 penonton di Arrowhead Stadium memang menyajikan jual beli serangan yang mendebarkan. Austria membuka keunggulan terlebih dahulu pada menit ke-28 melalui gol Marko Arnautovic. Penyerang veteran itu berhasil mengonversi umpan lambung akurat dari David Alaba yang merangsek dari lini belakang, menunjukkan ketajaman yang masih dimilikinya.
Aljazair tidak tinggal diam dan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 sebelum jeda babak pertama. Rafik Belghali menjadi pahlawan dengan sepakan kerasnya setelah memanfaatkan bola muntah di dalam kotak penalti, memastikan kedua tim memasuki ruang ganti dengan skor imbang. Momen ini menunjukkan respons cepat dari tim asal Afrika Utara tersebut.
Memasuki paruh kedua, Austria kembali memimpin pada menit ke-55. Kali ini, gelandang serang Marcel Sabitzer mencatatkan namanya di papan skor setelah menerima operan terukur dari Konrad Laimer di sisi kanan. Gol ini kembali membuat Austria berada di atas angin dan memegang kendali pertandingan.
Namun, Aljazair kembali menunjukkan semangat juang mereka. Hanya lima menit berselang, Riyad Mahrez kembali menjadi sorotan. Lewat skema serangan balik cepat yang terorganisir, Mahrez berhasil menyelesaikan peluang dengan tenang untuk mengubah skor menjadi 2-2 di menit ke-60. Gol ini kembali membuktikan kualitas individu dan kolektif Aljazair dalam transisi permainan.
Menurut statistik resmi FIFA yang dikutip oleh Antara, intensitas pertandingan sempat melambat sesaat setelah jeda hidrasi babak kedua. Namun, ketegangan kembali memuncak dan meledak secara dramatis di waktu tambahan, menghasilkan dua gol penentu yang mengubah nasib Iran. Momen-momen akhir tersebut menjadi pengingat betapa ketatnya persaingan di Piala Dunia 2026.
Dengan hasil ini, Austria akan bergabung dengan Argentina sebagai wakil Grup J yang melaju ke babak selanjutnya. Mereka dijadwalkan akan menghadapi juara Eropa, Spanyol, dalam pertandingan yang diprediksi akan berlangsung sengit. Sementara itu, Aljazair akan menantang Swiss di babak 32 besar, memanfaatkan kuota delapan tim peringkat ketiga terbaik yang lolos ke fase gugur.
Bagi Tim Melli, nasib malang ini melengkapi rentetan hasil kurang memuaskan sebelumnya. Mereka hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Mesir dalam laga sebelumnya, di mana gol kemenangan di menit akhir sempat dianulir oleh keputusan Video Assistant Referee (VAR) yang kontroversial. Kekalahan bersaing dalam produktivitas gol dengan tim peringkat ketiga lainnya, seperti Senegal dan Republik Demokratik Kongo, menjadi alasan utama mengapa Iran harus angkat koper lebih awal.
Piala Dunia 2026, yang kini diikuti oleh 48 tim, memang menawarkan lebih banyak slot, termasuk bagi tim peringkat ketiga terbaik. Namun, persaingan yang semakin ketat membuat setiap detail, termasuk selisih gol, menjadi sangat krusial. Kegagalan Iran menembus babak 32 besar adalah pelajaran berharga tentang betapa tipisnya garis antara keberhasilan dan kegagalan di panggung sepak bola dunia.











