JAKARTA – Di tengah pesatnya digitalisasi saat ini, muncul pertanyaan mengapa Sensus Ekonomi masih dilakukan dengan metode wawancara dari pintu ke pintu. Banyak pihak menilai sistem pengisian formulir mandiri secara online seharusnya jauh lebih praktis dan efisien.
Namun, pengumpulan data statistik berskala nasional tidak sekadar memindahkan angka ke dalam sistem. Tujuan utama dari sensus adalah memastikan setiap pertanyaan dipahami dengan makna yang sama oleh seluruh responden.
Di sinilah letak krusial peran petugas lapangan. Tanpa adanya interaksi langsung, perbedaan persepsi antarresponden dapat mengancam validitas data yang dikumpulkan nantinya.
Sebagai ilustrasi, mari kita ambil contoh pertanyaan mengenai kepemilikan usaha. Seringkali masyarakat menjawab tidak memiliki usaha karena menganggap pekerjaan sampingan atau bisnis rumahan bukan termasuk kategori usaha formal.
Bahkan, pelaku usaha yang berjualan melalui platform digital pun terkadang merasa bukan pelaku usaha karena tidak memiliki toko fisik. Padahal, dalam kacamata statistik resmi, aktivitas tersebut wajib tercatat sebagai kegiatan ekonomi.
Potensi kesalahpahaman ini juga berlaku pada istilah teknis lainnya. Terminologi seperti tenaga kerja, jaringan usaha, hingga biaya operasional seringkali diartikan secara beragam oleh masyarakat umum.
Jika responden mengisi kuesioner tanpa pendampingan, setiap orang akan menggunakan pemahaman subjektif masing-masing. Akibatnya, data yang terkumpul menjadi tidak seragam dan sulit dibandingkan satu sama lain.
Kondisi tersebut tentu akan menghasilkan output data yang kurang akurat. Padahal, data dari Sensus Ekonomi sangat vital sebagai navigasi bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan pembangunan nasional ke depan.
Oleh karena itu, metode wawancara tatap muka tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian besar responden. Petugas sensus bertugas tidak hanya untuk mencatat jawaban, tetapi juga menjadi fasilitator.
Mereka bertugas menjelaskan konsep dan definisi yang digunakan secara tepat di lapangan. Dengan bimbingan langsung, setiap responden memiliki persepsi yang sama terhadap pertanyaan yang diajukan.
Pendekatan ini memastikan jawaban yang diberikan konsisten dan akurat. Hasil akhirnya adalah gambaran kondisi ekonomi nasional yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan untuk kepentingan publik.
Jadi, meskipun teknologi sudah maju, kehadiran petugas di lapangan masih sangat diperlukan untuk menjaga kualitas data. Sensus Ekonomi bukan sekadar mengumpulkan jawaban, melainkan menjaga akurasi potret ekonomi bangsa.











