Di tengah gejolak ekonomi yang ditandai pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kenaikan harga bahan bakar, dan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), masyarakat Indonesia justru menunjukkan geliat konsumsi yang tak terduga. Pusat perbelanjaan, festival kreatif, hingga tiket konser musik idola papan atas seperti BTS dan EXO dilaporkan laris manis, bahkan seringkali habis dalam hitungan menit. Fenomena ini mengundang pertanyaan: bagaimana mungkin pengeluaran untuk hiburan dan gaya hidup tetap tinggi di saat daya beli tertekan? Jawabannya terletak pada konsep ekonomi yang dikenal sebagai "Lipstick Effect".
Kisah Setiorini, seorang penggemar berat grup K-pop BTS asal Jakarta, menjadi salah satu ilustrasi nyata fenomena ini. Dengan tangan gemetar, ia berhasil mengamankan tiket konser BTS World Tour ARIRANG di Singapura pada 19 Desember 2026 dan kemudian di Jakarta pada 27 Desember 2026. Perjuangan "war" tiket, yang membutuhkan strategi, mental baja, dan keberuntungan, tak jarang membuat penggemar harus merogoh kocek dalam, bahkan mencapai sekitar Rp3 jutaan untuk satu tiket di kategori tribun bawah.
Tak hanya Setiorini, Michelle Larasati, 27 tahun, bahkan berhasil memenangkan "perjuangan" tiket konser BTS di tiga negara: Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Awalnya ia membeli tiket di Singapura dan Malaysia sebagai antisipasi jika gagal mendapatkan tiket di Jakarta. Bagi Michelle, yang berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN), pengeluaran untuk tiket konser ini membutuhkan tabungan selama 6-8 bulan. Ia mengakui harga tiket tersebut belum termasuk biaya akomodasi jika harus bepergian ke luar negeri.
Hal serupa terjadi pada Anisa Tiarani, 30 tahun, yang antusias menceritakan pengalamannya berbelanja di brightspotCITY 2026, sebuah festival kreatif yang menghadirkan berbagai produk fesyen, kuliner, dan gaya hidup. Anisa menghabiskan sekitar Rp2 juta untuk membeli lima item fesyen. Ia mengapresiasi acara tersebut yang berhasil mengumpulkan berbagai merek lokal berkualitas, menawarkan beragam pilihan mulai dari pakaian, aksesori, hingga makanan.
Jutaan rupiah yang dikeluarkan untuk tiket konser atau berbelanja fesyen tentu bukan angka yang kecil, terutama bagi sebagian masyarakat Indonesia yang tengah menghadapi ketidakpastian ekonomi. Pelemahan rupiah, kenaikan harga BBM non-subsidi, dan volatilitas pasar saham menjadi latar belakang yang membuat pengeluaran untuk kebutuhan non-esensial terasa berisiko. Namun, data dari berbagai platform belanja daring, pusat perbelanjaan, hingga penyelenggara festival menunjukkan bahwa masyarakat tetap aktif mengeluarkan uang untuk hiburan dan gaya hidup.
Fenomena inilah yang oleh para ekonom disebut sebagai "Lipstick Effect". Konsep ini menggambarkan kondisi ketika masyarakat, meskipun menghadapi tekanan ekonomi, tetap membelanjakan uang untuk barang atau pengalaman yang bersifat non-esensial, yang memberikan kepuasan sesaat. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa fenomena ini muncul ketika target finansial besar, seperti membeli rumah atau membiayai pendidikan anak, terasa semakin sulit dicapai.
"Ini menunjukkan orang butuh kebahagiaan kecil di area hiburan kecil karena mereka putus asa untuk bisa menabung beli rumah atau membiayai pendidikan anak," ujar Bhima kepada CNA. Ia menambahkan bahwa kelas menengah cenderung beralih membelanjakan uang untuk barang-barang tersier yang memberikan kepuasan instan, karena pemenuhan kebutuhan primer pun semakin sulit.
Belanja Tetap Berjalan di Tengah Ketidakpastian
Antusiasme masyarakat terhadap hiburan tampaknya tidak terpengaruh oleh bayang-bayang ekonomi yang sedang lesu. Penjualan tiket konser BTS World Tour ARIRANG in Jakarta untuk hari ketiga saja, melalui ARMY Membership Presale, membludak hingga menembus 960.000 orang. Sebelumnya, penjualan umum untuk hari pertama dan kedua ludes dalam 10 menit dengan antrean daring mencapai 700.000 orang. Konser grup K-pop EXO di Jakarta pada April 2026 juga tak kalah heboh, tiketnya habis terjual kurang dari satu jam dengan antrean lebih dari 180.000 orang.
Fenomena serupa tercermin dalam data belanja masyarakat, baik daring maupun luring. Salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia, Lazada, mencatat kenaikan 52 persen dalam nilai rata-rata pembelanjaan pelanggan selama kampanye diskon 6.6 Super WOW Sale dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan terbesar justru datang dari kategori non-esensial seperti elektronik yang melonjak empat kali lipat dan fesyen yang meningkat enam kali lipat dibandingkan hari biasa.
Tak hanya belanja daring, aktivitas belanja luring pun menunjukkan peningkatan. Anton Wirjono, pendiri brightspotMRKT, penyelenggara brightspotCITY 2026, mengungkapkan festival yang berlangsung selama dua pekan di Agora Mall tersebut dikunjungi 216.000 orang. Festival yang menghadirkan 251 tenant fesyen, kuliner, olahraga, dan merek kreatif ini mencatat lonjakan transaksi penjualan sebesar 74 persen dibandingkan festival sebelumnya.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyatakan tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan masih relatif stabil meskipun industri ritel memasuki periode low season setelah Lebaran. "Sebagaimana biasanya, dalam berbagai kondisi dan situasi, masyarakat Indonesia tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan," katanya. Ia menambahkan bahwa pusat perbelanjaan tetap menjadi ruang sosial yang disukai masyarakat Indonesia untuk berkumpul.
Asal-usul dan Makna "Lipstick Effect"
Istilah "Lipstick Effect" dipopulerkan oleh Leonard Lauder, mantan Chairman Estée Lauder Companies, setelah penjualan lipstik perusahaannya meningkat sekitar 11 persen pasca serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. Lauder berpendapat bahwa ketika ekonomi melemah, orang cenderung menunda pembelian besar seperti rumah atau mobil, namun tetap mencari cara memanjakan diri melalui kemewahan kecil yang lebih terjangkau, seperti lipstik.
Fenomena ini tidak terbatas pada kosmetik, tetapi meluas ke berbagai barang atau pengalaman yang memberikan kenyamanan emosional tanpa membebani keuangan secara signifikan. Mulai dari makanan dan minuman, gadget, konser, hingga liburan singkat. Namun, keberadaan fenomena ini masih menjadi perdebatan di kalangan ekonom. Sebagian menganggapnya sebagai perubahan pola konsumsi di tengah ketidakpastian ekonomi, bukan indikator pasti resesi.
Bhima Yudhistira menambahkan bahwa fenomena ini kerap muncul menjelang atau saat ekonomi mengalami tekanan. Contoh lain yang ia sebutkan adalah lonjakan minat terhadap tanaman hias dan hewan peliharaan saat pandemi COVID-19, yang kemudian banyak ditinggalkan setelah situasi normal. Di Indonesia, fenomena ini sering diikuti tren spekulatif seperti ikan louhan, batu akik, hingga Pokemon Card, sebagai cerminan pencarian kepuasan atau keuntungan yang dianggap lebih mudah dijangkau.
Lebih dari Sekadar Pengeluaran Konsumtif
Bagi sebagian orang, pengeluaran untuk hiburan bukan semata-mata soal konsumtif. Setiorini melihat keputusannya menggunakan kartu kredit untuk membeli tiket konser BTS sebagai bentuk self-reward setelah bekerja keras. Bagi dia, BTS telah menjadi bagian penting dalam berbagai fase hidupnya.
Anisa Tiarani pun menegaskan bahwa pengeluarannya untuk fesyen tidak mengganggu rencana keuangannya karena ia telah menyiapkan dana khusus yang tidak terpakai. Ia memastikan alokasi dana untuk investasi tetap terjaga.
Anton Wirjono dari brightspotMRKT menolak anggapan bahwa tingginya penjualan fesyen dan makanan semata mencerminkan perilaku foya-foya. Menurutnya, kedua kategori tersebut merupakan kebutuhan dasar yang akan selalu dicari masyarakat, terlepas dari kondisi ekonomi. "Kalau dia tidak ke Brightspot, tidak beli coklat Dubai Chewy atau beli matcha, dia tetap harus beli makanan untuk sustaining hidupnya. Jadi, it’s actually kebutuhan dasar," ujarnya.
Ia juga melihat pelemahan rupiah membuka peluang lebih besar bagi merek lokal. Ketika produk impor semakin mahal, masyarakat memiliki alasan lebih kuat untuk melirik produk dalam negeri.
Di sektor pariwisata, pelemahan rupiah juga memicu pergeseran rute liburan kelompok menengah atas. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, menjelaskan bahwa mahalnya ongkos ke luar negeri membuat wisatawan domestik mengalihkan anggaran ke destinasi lokal yang mudah dijangkau, khususnya di Pulau Jawa.
Namun, Maulana mengingatkan bahwa semaraknya "Lipstick Effect" di Jawa dan Bali tidak mencerminkan realitas nasional. Tingginya harga bahan bakar yang melambungkan tiket pesawat justru memukul pariwisata di wilayah lain di luar Jawa, seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, yang membuat bandara di sana sepi. Imbasnya, bisnis perhotelan dan restoran di daerah tersebut terpaksa melakukan efisiensi.
Peringatan dan Proyeksi ke Depan
Bhima Yudhistira dari CELIOS mengingatkan masyarakat untuk tidak berbelanja berlebihan, terutama jika pengeluaran tersebut semakin banyak ditopang oleh pembiayaan utang. Ia menyoroti pertumbuhan penggunaan PayLater yang pesat, sementara pertumbuhan kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru melambat. Data per April 2026 menunjukkan kredit Buy Now Pay Later (BNPL/PayLater) perbankan tumbuh 37,29 persen year-on-year menjadi Rp29,3 triliun, dengan 31,76 juta rekening.
Kondisi ini mengindikasikan pola keuangan yang kurang sehat dan berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari. Bhima menyarankan masyarakat untuk mengurangi belanja impulsif dan tidak mudah tergoda oleh promo pinjaman konsumtif. Fenomena ini diperkirakan akan mereda ketika kondisi ekonomi membaik dan masyarakat kembali yakin untuk mengejar tujuan finansial jangka panjang.
Ia juga mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru menganggap ramainya pusat perbelanjaan atau tingginya konsumsi sebagai tanda bahwa kondisi ekonomi sedang baik. "Jadi jangan melihat ramai menjadi indikator ekonomi baik-baik saja. Justru harus membacanya secara lebih kritis di balik fenomena orang membelanjakan sesuatu," tegasnya.
Setiorini mengakui keputusannya menghadiri konser di Singapura dan Jakarta bukanlah pilihan paling hemat. Namun, baginya, itu adalah bentuk self-reward yang terencana. "Aku bekerja, menabung, merencanakan semuanya dengan baik. Jadi, aku tidak melihatnya sebagai pemborosan," ungkapnya.
Fenomena "Lipstick Effect" ini menjadi cerminan kompleksitas perilaku konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi, di mana kebutuhan akan kebahagiaan sesaat dan pemenuhan diri bersinggungan dengan tantangan finansial yang nyata.











