Di lantai atas Pasar Johar Selatan, Semarang, Yeyen (60) tampak tekun menggoreskan kuas di atas kanvas. Di tengah heningnya suasana yang menyelimuti deretan lapak, ia merampungkan lukisan kawanan ikan koi bergaya realis. Sekelilingnya dipenuhi karya seni yang tersandar rapi, mengubah sudut pasar menjadi galeri mini yang estetik. Namun, pemandangan kontras tersaji di depannya; banyak kios yang masih dibiarkan kosong, tertutup kain, atau sekadar dibiarkan tanpa aktivitas. Kesunyian ini telah menjadi keseharian yang akrab bagi para pedagang sejak kawasan ikonik ini kembali ditempati pascarevitalisasi besar-besaran.
Hampir tiga tahun sudah Yeyen berjualan di lokasi tersebut, namun ia mengakui bahwa denyut nadi Pasar Johar belum sepenuhnya pulih seperti masa keemasannya dahulu. Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota Semarang bersama komunitas untuk mengundang kembali keramaian, mulai dari penyelenggaraan berbagai acara kreatif hingga promosi kawasan. Sayangnya, arus pengunjung yang diharapkan belum juga terlihat nyata. Yeyen sendiri merasa heran mengapa antusiasme warga belum mampu menyentuh lantai tempat ia berdagang. Padahal, ia mencatat sudah banyak agenda yang digelar untuk memantik kehidupan di area tersebut, namun hasilnya masih jauh dari harapan.
Upaya menghidupkan kembali kawasan Pasar Johar kini bertumpu pada inisiatif kreatif dengan mengusung konsep New Pasar Maling (New PM). Langkah ini bukan sekadar upaya administratif, melainkan sebuah strategi kultural untuk membangkitkan kembali memori kolektif masyarakat Semarang. Bagi warga lokal, istilah Pasar Maling bukanlah hal asing. Kawasan yang terletak di antara Pasar Kanjengan dan Masjid Agung Semarang ini pernah menjadi pusat jual beli barang bekas yang legendaris, terutama saat menjelang malam, pada kurun waktu 1970-an hingga awal 2000-an.
Konsep New Pasar Maling ini mencoba mengadopsi nostalgia tersebut dengan menghadirkan kembali pedagang barang bekas sebagai magnet utama. Dahulu, lokasi tersebut dikenal sebagai surga bagi mereka yang berburu peralatan elektronik, onderdil kendaraan, hingga berbagai jenis alas kaki dengan harga miring. Tak jarang, asal-usul barang di pasar tersebut menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan pembeli. Kini, jejak kenangan itu coba dihadirkan kembali di tengah wajah baru Pasar Johar. Di beberapa lapak, pedagang seperti Isti (53) menjajakan pakaian bekas yang tertata, sementara di sebelahnya, etalase berisi deretan sepatu bekas dari berbagai merek ternama dipajang dengan harapan menarik mata pengunjung yang melintas.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa menghidupkan kembali sebuah legenda tidak semudah membalikkan telapak tangan. Isti, yang kesehariannya menggantungkan hidup dari berdagang di sana, mengaku bahwa berbagai kegiatan yang diselenggarakan sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap volume transaksi. Menurutnya, ada diskoneksi antara acara yang digelar dengan kebutuhan dasar pedagang akan pembeli tetap. Ia berharap ke depannya, penyelenggara tidak hanya fokus pada seremoni, tetapi juga memastikan setiap agenda memiliki dampak langsung yang nyata bagi ekonomi para pedagang.
Lebih jauh, Isti memberikan masukan agar revitalisasi kawasan tidak hanya sekadar mengandalkan penyelenggaraan acara sesaat. Penataan komposisi jenis dagangan dianggap sangat krusial agar keberagaman barang yang tersedia di Pasar Johar menjadi lebih kaya dan menarik. Jika pilihan barang yang ditawarkan variatif, masyarakat akan memiliki alasan yang lebih kuat untuk datang, berbelanja, dan menjadikan Pasar Johar sebagai destinasi belanja rutin kembali. Keberagaman produk adalah kunci agar kawasan ini tidak hanya menjadi pajangan fisik, melainkan pusat ekonomi rakyat yang aktif.
Tantangan yang dihadapi Pasar Johar hari ini mencerminkan dinamika pasar tradisional di era modern. Transformasi fisik melalui revitalisasi adalah langkah awal, namun pengisian ruang dan penciptaan ekosistem perdagangan yang organik membutuhkan waktu serta strategi yang lebih adaptif. Pemerintah Kota Semarang dituntut untuk terus mendengarkan aspirasi pedagang di lapangan, seperti Yeyen dan Isti, agar kebijakan yang diambil tidak melenceng dari kebutuhan nyata. Sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pedagang menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa New Pasar Maling bukan sekadar label, melainkan identitas baru yang mampu mengembalikan kejayaan Pasar Johar.
Hingga Selasa (30/6/2026), suasana di lantai atas Pasar Johar Selatan masih menyisakan catatan PR besar bagi semua pihak. Harapan untuk melihat koridor-koridor pasar kembali dipadati pembeli seperti masa lalu masih menyala di mata para pedagang yang bertahan. Mereka menunggu langkah konkret berikutnya yang mampu mengubah kesunyian menjadi riuh rendah transaksi, membuktikan bahwa jiwa Pasar Johar yang legendaris masih bisa diselamatkan. Keberhasilan inisiatif New Pasar Maling ini nantinya tidak hanya diukur dari seberapa banyak acara yang digelar, tetapi dari seberapa besar arus pengunjung yang datang dan seberapa sering transaksi terjadi di lapak-lapak sederhana milik warga.











