Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni tak tinggal diam menanggapi tudingan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebutnya berupaya mendongkrak popularitas dengan memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Meloni balik menyerang, menyarankan Trump untuk lebih fokus pada elektabilitasnya sendiri. Perseteruan keduanya memanas setelah Trump mengklaim Meloni memohon untuk berfoto dengannya di sela KTT G7.
Ketegangan antara pemimpin Italia dan mantan Presiden AS ini mencuat ke publik setelah Trump melontarkan klaim bahwa Giorgia Meloni "memohon" untuk bisa berfoto dengannya dalam pertemuan KTT G7 di Prancis. Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada Sabtu (waktu setempat). Tidak hanya itu, Trump juga salah menulis nama Meloni menjadi "Gigiorgia" dan menuduhnya ingin berteman lagi demi mendongkrak angka popularitasnya.
Meloni segera merespons pernyataan Trump melalui unggahan di akun Instagramnya dalam bahasa Inggris. Ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap serangan yang dianggapnya terus-menerus dan tanpa alasan. "Presiden Trump, serangan-serangan yang terus-menerus dan tanpa alasan ini tidak masuk akal," tegas Meloni. Ia menambahkan, "Popularitas saya bukan urusan Anda. Saya sarankan Anda fokus pada popularitas Anda sendiri." Lebih lanjut, perdana menteri perempuan pertama Italia ini menyindir Trump dengan mengatakan bahwa menjadi temannya justru tidak membantu mendongkrak popularitasnya.
Perseteruan ini berakar dari dinamika politik yang sedang berlangsung di kedua negara. Tingkat dukungan publik terhadap kepemimpinan Giorgia Meloni, yang menjabat sejak Oktober 2022, memang menunjukkan tren positif. Setelah sempat mengalami penurunan, popularitasnya kini dilaporkan meningkat sekitar 35 persen. Partainya, Brothers of Italy, secara konsisten memimpin berbagai survei elektabilitas dengan perolehan suara sekitar 28 persen, mengungguli partai oposisi utama, Democratic Party, yang berada di kisaran 22 persen.
Di sisi lain, Donald Trump yang berambisi kembali ke Gedung Putih pada pemilihan presiden Januari 2025, juga mengalami kenaikan tingkat persetujuan publik. Dalam beberapa hari terakhir, elektabilitasnya dilaporkan naik satu poin persentase menjadi 36 persen. Namun, angka ini masih berada di dekat level terendah sepanjang karier politiknya, menurut survei Reuters/Ipsos. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meredanya ketidakpuasan publik terhadap isu biaya hidup yang sempat menjadi perhatian utama.
Selain perselisihan personal, isu geopolitik juga turut mewarnai hubungan antara Italia dan AS di bawah kepemimpinan kedua tokoh ini. Trump sempat melontarkan kritik terhadap Italia karena dianggap tidak mengizinkan penggunaan pangkalan militer AS di wilayahnya selama perang melawan Iran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari. Meloni menanggapi kritik tersebut dengan tegas, menegaskan bahwa penggunaan pangkalan militer AS di Italia diatur oleh perjanjian bilateral yang selalu dihormati oleh pemerintah Italia.
"Penggunaannya diatur oleh kesepakatan yang selalu kami hormati," ujar Meloni, menekankan komitmen Italia terhadap perjanjian yang ada. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Italia, di bawah kepemimpinan Meloni, tetap berpegang pada prinsip-prinsip diplomasi dan perjanjian internasional, meskipun dihadapkan pada tekanan politik dari sekutu utamanya.
Insiden ini menjadi sorotan karena menampilkan dinamika hubungan antara dua pemimpin negara besar yang memiliki pandangan dan gaya politik berbeda. Kemampuan Meloni dalam merespons serangan Trump secara langsung dan lugas menunjukkan kepercayaan dirinya dalam memimpin Italia dan mengelola isu-isu domestik maupun internasional. Sikapnya ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk memperkuat posisinya di hadapan publik Italia, yang semakin menaruh harapan pada kepemimpinannya.
Selama KTT G7 yang berlangsung di Puglia, Italia, pada 13-15 Juni 2024, para pemimpin dunia membahas berbagai isu global, termasuk perang di Ukraina, ancaman dari Tiongkok, serta tantangan ekonomi global. Dalam konteks inilah, interaksi antara Meloni dan Trump menjadi salah satu momen yang paling menarik perhatian, sekaligus menunjukkan potensi friksi yang bisa muncul di tengah kerja sama internasional.
Trump, yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang blak-blakan dan seringkali kontroversial, tampaknya menggunakan platform media sosialnya untuk melancarkan serangan politik, baik terhadap lawan domestik maupun pemimpin negara lain. Tindakan ini seringkali bertujuan untuk menciptakan narasi yang menguntungkan posisinya dan menarik perhatian publik.
Sementara itu, Giorgia Meloni, yang memimpin koalisi sayap kanan di Italia, telah berhasil membangun citra sebagai pemimpin yang tegas dan berprinsip. Responsnya terhadap Trump menunjukkan bahwa ia tidak ragu untuk membela diri dan mempertahankan kedaulatan serta martabat negaranya di mata internasional. Keberaniannya dalam menghadapi sosok sekuat Trump ini bisa jadi akan semakin memperkuat basis dukungannya di dalam negeri.
Perkembangan hubungan antara Italia dan Amerika Serikat, terutama dalam konteks kepemimpinan Meloni dan potensi kembalinya Trump ke tampuk kekuasaan di AS, akan terus menjadi perhatian para analis politik internasional. Bagaimana kedua pemimpin ini akan menavigasi perbedaan pandangan dan kepentingan mereka di masa depan akan menentukan arah kerja sama bilateral dan dampaknya pada lanskap geopolitik global. Peristiwa ini juga menjadi pengingat akan kompleksitas hubungan internasional yang seringkali dipengaruhi oleh dinamika politik domestik dan kepribadian para pemimpinnya.











