JAKARTA – Bulan Mei 2026 mencatat catatan kelam bagi perekonomian Indonesia. Neraca perdagangan nasional dilaporkan mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar Amerika Serikat, setara dengan sekitar Rp 25 triliun. Data yang dirilis Bank Indonesia, merujuk pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan bahwa membengkaknya defisit sektor migas menjadi biang keladi utama di balik kondisi ini.
Defisit migas pada periode tersebut mencapai angka signifikan, yakni 3,76 miliar dolar AS. Menurut BI, pelebaran defisit ini terjadi karena nilai ekspor minyak dan gas bumi (migas) mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan dengan pelemahan nilai impor migas. Ini mengindikasikan bahwa tidak hanya permintaan global terhadap produk migas Indonesia yang menurun, namun juga pasar ekspor migas menjadi lebih lemah.
Kondisi ini secara langsung memengaruhi posisi transaksi eksternal negara. Ketergantungan Indonesia pada impor energi masih menjadi kerentanan yang nyata. Peningkatan defisit di sektor vital ini secara otomatis mempersempit ruang gerak pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Menjaga pasokan energi domestik tanpa menambah beban neraca perdagangan menjadi tantangan tersendiri.
Namun, di tengah gempuran defisit migas, sektor nonmigas masih menunjukkan performa yang patut diapresiasi. Sektor ini berhasil mencatatkan surplus sebesar 2,15 miliar dolar AS. Surplus ini ditopang oleh nilai ekspor nonmigas yang mencapai 22,44 miliar dolar AS.
Komoditas berbasis sumber daya alam tetap menjadi tulang punggung kinerja ekspor nonmigas. BI mencatat bahwa bahan bakar mineral, nikel beserta produk turunannya, menjadi kontributor penting dalam surplus ini. Pasar utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia juga tidak mengalami pergeseran signifikan, dengan Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih mendominasi sebagai destinasi terbesar.
Kinerja positif dari sektor nonmigas ini menjadi penahan agar dampak defisit migas tidak semakin parah. Tanpa adanya surplus dari nonmigas, angka defisit perdagangan pada bulan Mei 2026 bisa membengkak jauh lebih besar. Struktur ekspor yang masih sangat bergantung pada komoditas mentah tetap menyimpan potensi risiko, terutama saat terjadi fluktuasi harga dunia yang tidak menguntungkan.
Berikut rinciannya:
Neraca Perdagangan Total: Defisit 1,61 miliar dolar AS
Neraca Migas: Defisit 3,76 miliar dolar AS
Neraca Nonmigas: Surplus 2,15 miliar dolar AS
Ekspor Nonmigas: 22,44 miliar dolar AS











