Lewis Ferguson, gelandang yang kini menjelma menjadi pilar krusial bagi tim nasional Skotlandia dalam perjalanannya menuju Piala Dunia 2026, membuktikan bahwa kematangan dan adaptabilitas adalah kunci. Perjalanan kariernya yang impresif, dari Accies hingga menjadi kapten Bologna di Serie A Italia, telah menempa dirinya menjadi pemain yang siap menghadapi tantangan terbesar. Empat musim di Italia dan gelar Coppa Italia bukan sekadar catatan statistik, melainkan bukti nyata kapabilitasnya yang tak lagi bisa dianggap remeh.
Sebelumnya, Ferguson kerap kesulitan menembus skuad utama timnas Skotlandia, sebuah konsekuensi logis dari melimpahnya talenta di lini tengah tim. Namun, takdir seringkali membuka jalan melalui ketidakberuntungan orang lain. Cedera lutut yang dialami Billy Gilmour pada laga persahabatan melawan Curacao bulan lalu menciptakan kekosongan signifikan di lini tengah, tepat di belakang Scott McTominay sebagai gelandang bertahan. Situasi inilah yang kemudian dimanfaatkan Ferguson dengan gemilang.
Dalam peran barunya, Ferguson tampil luar biasa. Statistik menyoroti kontribusinya yang masif, terutama dalam pertandingan melawan Maroko. Ia tercatat berhasil memutus serangan lawan sebanyak 15 kali, jumlah terbanyak di antara pemain Skotlandia yang berposisi menyerang. Lebih mengejutkan lagi, Ferguson menawarkan diri untuk menerima umpan sebanyak 76 kali selama pertandingan tersebut. Angka ini jauh melampaui pemain lain, dengan Che Adams berada di urutan kedua dengan 35 kali.
"Bagian yang tanpa pamrih itu, saya menikmatinya," ujar Ferguson kepada BBC Scotland. "Saya mewakili negara saya – saya akan memainkan peran apa pun. Saya sering memainkannya saat masih muda. Pelatih telah menemukan peran yang cocok untuk saya." Ia menambahkan bahwa tugasnya mencakup banyak pekerjaan ‘kotor’, seperti menutup ruang, melindungi rekan di belakang, dan mendukung pemain di depan. "Tekel, duel – itu bagian dari permainan saya. Itu sangat penting dalam tim. Pertandingan-pertandingannya cukup fisik dan saya menikmatinya," katanya.
Kecintaan pada sepak bola mengalir deras dalam keluarga Ferguson. Ayahnya, Derek, adalah mantan gelandang yang pernah membela Rangers, Hearts, dan Sunderland, serta mengoleksi dua caps bersama tim nasional Skotlandia. Pamannya, Barry Ferguson, juga merupakan legenda sepak bola Skotlandia, mantan kapten Rangers dan timnas, bahkan dianggap sebagai salah satu pemain terbaik era modern yang belum pernah merasakan atmosfer turnamen mayor, sebuah pencapaian yang kini dilampaui keponakannya.
"Dia ada di Miami. Saya mengiriminya pesan untuk mengucapkan Selamat Hari Ayah," cerita Lewis tentang ayahnya, Derek. "Membuat saya bahagia bisa membiarkannya melihat putranya bermain di Piala Dunia. Dari apa yang saya tahu, dia mungkin ingin mencapai lebih dari yang dia lakukan. Dia mungkin mewujudkan itu melalui saya. Senang melihat betapa bangga dan bahagianya dia. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang saya dengarkan dalam sepak bola. Dia telah memainkan peran yang sangat penting dalam hidup dan karier sepak bola saya. Dia menjadi lebih suportif seiring bertambahnya usia saya."
Derek Ferguson diakui sebagai panutan terpenting dalam karier Lewis. "Jika bukan karena dia, saya tidak akan berada di sini," tegas Lewis. Ia mengingat masa-masa sulit ketika dilepas oleh Rangers di usia muda. "Itu sulit, tetapi dialah yang memberi saya keyakinan bahwa jika saya bekerja keras, saya bisa menjadi pemain sepak bola profesional dan mencapai Piala Dunia. Saya berutang segalanya padanya."
Permainan Lewis Ferguson dibangun di atas energi dan komitmen, dua atribut yang ia tunjukkan secara luar biasa di lapangan. Namun, peran sebagai gelandang bertahan tak pelak sedikit membatasi pengaruhnya dalam menyerang. Hal ini terlihat pada akhir pertandingan melawan Maroko, ketika masuknya Kenny McLean memberikan kebebasan lebih untuk bergerak. McLean juga tampil impresif sebagai pemain pengganti, menimbulkan pertanyaan apakah ia akan diturunkan sejak awal untuk memberikan Ferguson kebebasan lebih saat menghadapi Brasil.
Menentukan formasi dan strategi melawan tim sekaliber Brasil tentu menjadi dilema tersendiri bagi pelatih Steve Clarke. Skotlandia saat ini mengoleksi tiga poin dan berpotensi lolos dari fase grup dengan keunggulan selisih gol yang tidak terlalu besar. Kepastiannya pun baru akan diketahui beberapa hari setelah pertandingan melawan Brasil di Miami. Namun, hasil imbang melawan juara dunia lima kali itu hampir pasti akan mengamankan tiket ke babak selanjutnya bagi Skotlandia.
"Lewis Ferguson telah menjadi pemain andalan di kedua pertandingan," ujar mantan internasional Skotlandia, Leanne Crichton, kepada BBC Scotland. "Yang menjadi perhatian Lewis adalah kita mungkin telah mengurangi beberapa kekuatannya. Fakta bahwa dia diidentifikasi sebagai gelandang bertahan di mana dia tidak dapat menembus garis pertahanan lawan sebanyak yang mungkin dia lakukan jika diberi kebebasan sebagai gelandang box-to-box."
Crichton menambahkan, "Saya rasa menjelang pertandingan di Miami melawan Brasil, kita mungkin akan melihat duet Ferguson dan McLean dalam hal penggunaan bola untuk mencoba membebaskan Lewis Ferguson sedikit. Dia telah menjalani turnamen yang sangat kuat sejauh ini dan kualitasnya benar-benar terlihat." Peran Ferguson yang solid di lini tengah, ditambah dengan kemampuannya untuk beradaptasi, menjadikannya aset tak ternilai bagi Skotlandia dalam ambisi mereka mengukir sejarah di Piala Dunia 2026.











