Program Bantuan Sosial (Bansos) bagi lansia merupakan salah satu pilar penting dalam sistem perlindungan sosial di Indonesia. Didesain untuk membantu kelompok rentan memenuhi kebutuhan dasar, nominal bantuan yang diberikan seyogyanya mencerminkan realitas ekonomi terkini. Namun, belakangan ini, kritik mulai mengemuka dari para pakar sosial dan ekonomi mengenai kesesuaian nominal bansos lansia dengan laju inflasi yang terus bergerak.
Inflasi Menggerogoti Nilai Sebenarnya Bantuan
Inflasi, kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus, memiliki dampak langsung pada daya beli masyarakat. Bagi kelompok lansia yang seringkali memiliki keterbatasan pendapatan dan kondisi kesehatan yang membutuhkan pengeluaran lebih besar, inflasi bisa menjadi pukulan telak. Nominal bansos yang ditetapkan beberapa waktu lalu, ketika dikonversi dengan kondisi harga saat ini, dinilai oleh banyak pakar tidak lagi mampu menutupi kebutuhan pokok lansia secara memadai.
Dr. Ani Wijaya, seorang sosiolog yang kerap meneliti isu-isu sosial lansia, menyatakan keprihatinannya. “Kita melihat harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, hingga obat-obatan terus merangkak naik. Sementara itu, jumlah bantuan yang diterima lansia cenderung stagnan atau kenaikannya sangat lambat, tidak sebanding dengan laju inflasi. Ini berarti, secara riil, nilai bantuan yang mereka terima semakin kecil,” jelas Dr. Ani.
Kesenjangan Antara Harapan dan Realitas
Pemerintah seringkali menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk lansia. Namun, dalam praktiknya, kesenjangan antara retorika dan realitas tampak semakin lebar. Nominal bansos yang mungkin terasa cukup beberapa tahun lalu, kini terasa sangat minim ketika harus dibelanjakan di tengah kenaikan harga yang signifikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas program dalam mencapai tujuan utamanya, yaitu memberikan jaring pengaman yang kuat bagi lansia.
Ekonom dari sebuah lembaga riset independen, Budi Santoso, menambahkan bahwa pemerintah perlu melakukan evaluasi berkala terhadap nominal bansos, tidak hanya berdasarkan anggaran yang tersedia, tetapi juga berdasarkan indeks harga konsumen (IHK) yang mencerminkan inflasi riil. “Idealnya, ada mekanisme penyesuaian nominal bansos secara otomatis atau setidaknya dilakukan review setiap tahun untuk disesuaikan dengan inflasi. Jika tidak, maka program ini justru berpotensi mengurangi kesejahteraan lansia karena daya beli mereka semakin tergerus,” ujar Budi.
Dampak Bagi Lansia
Dampak dari ketidaksesuaian nominal bansos dengan inflasi ini bisa sangat merugikan bagi para lansia. Mereka mungkin terpaksa mengurangi porsi makan, menunda pembelian obat-obatan penting, atau bahkan mengorbankan kebutuhan lain demi memenuhi kebutuhan dasar yang harganya terus naik. Hal ini dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Banyak lansia yang bergantung sepenuhnya pada bansos ini sebagai sumber pendapatan utama. Ketika nilai bantuan tidak lagi mencukupi, mereka akan menghadapi kesulitan finansial yang serius. Para pakar menyarankan agar pemerintah segera meninjau kembali kebijakan ini dan mempertimbangkan kenaikan nominal bansos yang lebih signifikan agar relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
Solusi dan Rekomendasi
Para pakar sepakat bahwa penyesuaian nominal bansos lansia adalah langkah krusial yang harus segera diambil. Selain itu, perlu juga dipertimbangkan untuk memperluas cakupan penerima manfaat, memastikan data penerima tepat sasaran, dan meningkatkan edukasi mengenai pengelolaan keuangan bagi lansia. Keterlibatan berbagai pihak, termasuk akademisi, praktisi sosial, dan perwakilan lansia, dalam proses evaluasi dan perumusan kebijakan diharapkan dapat menghasilkan solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Kritik ini bukan bermaksud untuk meremehkan upaya pemerintah dalam program bansos, melainkan untuk mendorong perbaikan agar program tersebut benar-benar efektif dan mampu memberikan perlindungan yang layak bagi para lansia di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
