Korea Selatan diprediksi akan menjelma menjadi pusat kekuatan dunia dalam industri robotika dan pabrik yang ditenagai kecerdasan buatan (AI). Prediksi ini datang dari Jensen Huang, pendiri dan CEO Nvidia, perusahaan semikonduktor terkemuka yang menjadi tulang punggung pengembangan teknologi AI global.
Huang melihat posisi strategis Korea Selatan sebagai pemimpin manufaktur global dengan ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari produksi chip, elektronik, hingga otomotif, sebagai fondasi kuat bagi ambisi tersebut. Keberhasilan negara ini dalam membangun rantai pasok yang solid menjadikannya lahan subur untuk inovasi dan penerapan teknologi AI fisik serta robotika.
Kunjungan kedua Jensen Huang ke Korea Selatan dalam kurun waktu tujuh bulan terakhir menegaskan komitmen Nvidia untuk memperdalam kolaborasi dengan raksasa teknologi lokal. Dalam lawatannya, ia menjadwalkan pertemuan strategis dengan sejumlah pemain kunci industri, termasuk Samsung Electronics, SK Hynix, Hyundai Motor, LG, dan Naver. Fokus diskusi mencakup penguatan kemitraan di sektor chip semikonduktor dan pengembangan teknologi fisik AI.
"Karena Korea adalah pusat manufaktur dunia, kita dapat menerapkan teknologi robotika, teknologi AI fisik yang kita temukan di sini untuk industri," ujar Huang, seperti dilansir Reuters pada Minggu, 21 Juni 2026. Ia menekankan bahwa integrasi mendalam antara kecerdasan buatan dan robotika akan menjadi motor penggerak utama bagi kemajuan industri manufaktur chip di masa depan.
Huang menambahkan bahwa kemitraan dengan perusahaan-perusahaan di Korea Selatan menawarkan peluang besar untuk mendorong inovasi yang berpotensi mengubah lanskap industri manufaktur global secara fundamental. "Jadi kami memiliki peluang besar untuk bermitra dengan perusahaan semikonduktor di sini juga," tegasnya.
Peran krusial Korea Selatan dalam ekosistem Nvidia terlihat jelas dari pasokan chip memori. Saat ini, Samsung Electronics dan SK Hynix bersama-sama memasok sekitar 70% kebutuhan chip memori yang esensial untuk mendukung sistem AI canggih buatan Nvidia. Huang juga mengonfirmasi bahwa kedua perusahaan tersebut, bersama dengan Micron, telah berhasil lolos kualifikasi untuk memasok chip memori High Bandwidth Memory 4 (HBM4). Chip HBM4 ini akan digunakan untuk platform AI terbaru Nvidia yang diberi nama Vera Rubin.
"Ketiga vendor tersebut sedang dalam tahap produksi, dan mereka semua berlomba untuk mendukung Vera Rubin," jelas Huang, menyoroti persaingan ketat dalam memenuhi permintaan chip memori generasi terbaru yang sangat dibutuhkan oleh platform AI mutakhir.
Lebih jauh, Nvidia telah mengambil langkah konkret dengan memulai perekrutan tenaga kerja untuk pusat penelitian dan pengembangan (R&D) yang berlokasi di Seoul. Inisiatif ini menjadi bukti nyata komitmen jangka panjang Nvidia untuk menjadikan Korea Selatan sebagai mitra strategis dalam pengembangan infrastruktur AI global. Kehadiran pusat R&D ini diharapkan dapat mempercepat transfer teknologi dan inovasi di antara kedua belah pihak.
"Apakah saya membawa hadiah untuk Korea? Saya membawa banyak bisnis untuk Korea. Saya punya beberapa kejutan," pungkas Huang, memberikan sinyal positif mengenai potensi investasi dan pengembangan bisnis lebih lanjut yang akan dibawa oleh Nvidia ke Korea Selatan.
Posisi Korea Selatan sebagai pusat manufaktur global memang tidak dapat diremehkan. Negara ini telah lama dikenal sebagai produsen utama berbagai produk elektronik, mulai dari smartphone, televisi, hingga komponen penting seperti semikonduktor. Kemampuan industri dalam negeri untuk berinovasi dan beradaptasi dengan teknologi baru, termasuk AI dan robotika, menjadikannya kandidat kuat untuk memimpin era baru industri manufaktur.
Perkembangan teknologi AI fisik, yang menggabungkan kecerdasan buatan dengan kemampuan robot untuk berinteraksi dan beroperasi di dunia nyata, membuka berbagai kemungkinan baru. Dalam konteks manufaktur, ini berarti peningkatan efisiensi produksi, fleksibilitas yang lebih besar dalam lini produksi, dan kemampuan untuk menangani tugas-tugas yang sebelumnya dianggap terlalu kompleks atau berbahaya bagi manusia.
Kolaborasi antara Nvidia, sebagai pemimpin dalam teknologi chip AI dan komputasi, dengan perusahaan-perusahaan manufaktur terkemuka di Korea Selatan, berpotensi menciptakan sinergi yang kuat. Hal ini dapat menghasilkan solusi AI dan robotika yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga dapat diimplementasikan secara praktis di berbagai sektor industri.
Dukungan dari pemerintah Korea Selatan terhadap pengembangan teknologi tinggi, termasuk AI dan semikonduktor, juga menjadi faktor penting yang mendukung visi Huang. Kebijakan yang pro-inovasi dan investasi dalam sumber daya manusia yang terampil menjadi landasan bagi Korea Selatan untuk terus berada di garis depan kemajuan teknologi.
Dengan demikian, prediksi Jensen Huang menyoroti peran strategis Korea Selatan dalam membentuk masa depan industri robotika dan AI. Kerjasama yang erat antara Nvidia dan para pemain industri lokal diharapkan akan mendorong gelombang inovasi baru, memperkuat posisi Korea Selatan sebagai kekuatan manufaktur global, dan secara signifikan memengaruhi perkembangan teknologi di seluruh dunia.











