Ketegangan Vatikan dan SSPX: Mengapa Serikat Tradisionalis Ini Kembali Berulah dengan Menahbiskan Uskup Ilegal?

Heni Maulidya

Dunia Katolik kembali dihadapkan pada situasi pelik setelah Serikat Santo Pius X (SSPX) memutuskan untuk menempuh jalur konfrontasi dengan Vatikan. Kelompok ultra-tradisionalis yang berbasis di Swiss ini secara terbuka mengabaikan otoritas Takhta Suci dengan rencana menahbiskan empat uskup baru tanpa mandat resmi dari Paus. Langkah berani yang dianggap sebagai tindakan skismatik ini memicu peringatan keras dari Vatikan, mengingat sejarah panjang perseteruan antara kedua pihak yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Upacara pentahbisan yang kontroversial tersebut dijadwalkan berlangsung di Econe, Swiss, sebuah lokasi yang memiliki nilai historis dan simbolis kuat bagi gerakan ini. Di tempat inilah, sekitar 38 tahun lalu, pendiri SSPX yakni Uskup Agung Marcel Lefebvre pernah melakukan tindakan serupa yang berujung pada ekskomunikasi massal. Kali ini, sekitar 15.000 umat diperkirakan akan memadati ladang Econe untuk mengikuti rangkaian misa dalam bahasa Latin yang berlangsung selama empat jam. Empat calon uskup yang akan ditahbiskan terdiri dari dua warga negara Prancis, satu warga Amerika Serikat, dan satu warga Swiss, termasuk Pastor Michael Goldade yang saat ini memimpin seminari SSPX di Virginia, Amerika Serikat.

Paus sendiri telah memberikan respons cepat dan tegas melalui surat resmi yang ditujukan kepada pimpinan SSPX. Dalam pesannya, Paus memohon dengan sangat agar kelompok tersebut membatalkan niat mereka demi menjaga kesucian dan keutuhan Gereja Katolik. Paus menekankan bahwa tindakan pentahbisan uskup tanpa persetujuan otoritas pusat adalah perbuatan skismatik yang mengoyak jubah Kristus yang tak terpisahkan. Ia menyebut langkah ini sebagai dosa berat yang dapat mencederai persatuan umat Katolik secara global.

Namun, di pihak lain, pimpinan SSPX saat ini, Pastor Davide Pagliarani, tetap bergeming. Dalam pernyataan resminya, ia bersikeras bahwa serikatnya tidak berniat untuk menjadi kelompok skismatik atau memposisikan diri sebagai musuh Gereja. Menurut Pagliarani, langkah ini justru diambil sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap tradisi Gereja yang mereka nilai sedang mengalami degradasi. Pihak SSPX berargumen bahwa mereka bertindak atas dasar darurat rohani, di mana keselamatan jiwa umat harus menjadi prioritas utama di tengah arus modernisasi yang dianggap merusak iman.

Sejarah berdirinya SSPX sendiri tidak bisa dilepaskan dari sosok Marcel Lefebvre yang mendirikan serikat ini pada 1970 di Swiss. Sejak awal, SSPX memang mengusung semangat tradisionalisme ekstrem sebagai antitesis terhadap reformasi yang digulirkan melalui Konsili Vatikan II pada tahun 1960-an. Kelompok yang kerap disebut sebagai kaum Lefebvrist ini secara konsisten menolak berbagai pembaruan yang dianggap liberal, termasuk penggunaan bahasa lokal dalam peribadatan, dialog ekumenis dengan agama lain, hingga pandangan baru mengenai kebebasan beragama.

Bagi pengikut SSPX, Gereja Katolik saat ini dinilai telah terlalu banyak menyesuaikan diri dengan nilai-nilai duniawi sehingga kehilangan esensi spiritualitasnya. Penolakan mereka terhadap ajaran Konsili Vatikan II bukan sekadar masalah teknis liturgi, melainkan persoalan fundamental mengenai iman. Mereka meyakini bahwa ritual Misa Latin yang dipimpin oleh imam dengan posisi menghadap altar—memunggungi jemaat—adalah satu-satunya cara yang benar untuk menghormati pengorbanan Kristus. Keyakinan inilah yang membuat mereka merasa perlu untuk tetap menjalankan struktur hierarki sendiri, termasuk memiliki uskup-uskup yang mereka pilih dan tahbiskan secara mandiri.

Meski memiliki pengikut sekitar 600.000 orang di seluruh dunia dengan dukungan sekitar 700 imam, pengaruh SSPX dianggap sebagai tantangan serius bagi persatuan Katolik. Jumlah ini memang tampak kecil jika dibandingkan dengan populasi umat Katolik global yang mencapai 1,4 miliar jiwa dan dilayani oleh sekitar 400.000 imam. Namun, posisi SSPX yang militan dan terorganisir, dengan lima seminari aktif di berbagai negara, membuat mereka memiliki basis massa yang sangat loyal dan militan dalam mempertahankan ideologi mereka.

Ketegangan ini semakin memuncak dengan dirilisnya dokumen setebal 28 halaman berjudul Profesi Iman Katolik oleh SSPX. Dokumen tersebut disusun sebagai upaya mereka untuk mencerahkan jiwa-jiwa umat di tengah apa yang mereka sebut sebagai berbagai kesalahan modern yang merasuk ke dalam Gereja. Pihak SSPX menuduh bahwa Gereja saat ini telah membiarkan masuknya gagasan-gagasan liberal yang tidak sesuai dengan ajaran murni para pendahulu. Argumentasi ini sering digunakan untuk membenarkan tindakan pembangkangan mereka terhadap instruksi dari Vatikan, yang menurut mereka, telah dipengaruhi oleh pemikiran modernis yang sesat.

Situasi di Econe saat ini mencerminkan betapa dalamnya jurang pemisah antara kelompok ultra-tradisionalis dan arus utama Gereja Katolik. Meskipun Vatikan telah berupaya melakukan berbagai pendekatan diplomasi dan pastoral selama bertahun-tahun, kesenjangan visi mengenai masa depan Gereja tetap menjadi tembok penghalang. Pentahbisan yang akan berlangsung ini menjadi bukti bahwa SSPX tetap teguh pada pendirian mereka untuk memelihara apa yang mereka anggap sebagai tradisi yang tidak boleh diubah oleh zaman.

Perkembangan ke depan masih menjadi tanda tanya besar bagi banyak pihak. Apakah akan ada upaya rekonsiliasi lebih lanjut atau justru sanksi yang lebih berat dari Vatikan, akan sangat bergantung pada respons SSPX setelah upacara tersebut selesai. Saat ini, dunia Katolik hanya bisa menyaksikan dari jauh bagaimana perpecahan ini terus membayangi keutuhan institusi keagamaan tertua di dunia tersebut. Bagi banyak pengamat, konflik ini merupakan cerminan dari tantangan modernitas yang harus dihadapi oleh institusi keagamaan besar dalam menjaga identitas tradisi mereka di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All