Harapan akan meredanya ketegangan di perbatasan Lebanon dan Israel seketika memudar setelah militer Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon selatan. Aksi militer ini terjadi hanya berselang satu hari setelah kedua belah pihak secara resmi menandatangani kesepakatan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Situasi yang seharusnya menjadi awal masa tenang justru kembali memanas, memicu kekhawatiran baru bagi warga sipil yang berada di zona konflik.
Berdasarkan laporan dari berbagai sumber internasional termasuk Aljazeera, Anadolu, NNA, serta media lokal Israel seperti Times of Israel dan Haaretz, serangan udara yang melibatkan pesawat nirawak atau drone itu menyasar wilayah Kegubernuran Nabatieh pada Sabtu (27/6). Salah satu titik yang menjadi sasaran serangan adalah taman hiburan Farah yang terletak di Nabatieh al-Fawqa, ibu kota wilayah tersebut. Hingga saat ini, laporan dari Anadolu menyatakan bahwa tidak ada korban jiwa yang tercatat dalam insiden serangan terbaru tersebut.
Ketegangan tidak hanya terjadi di udara, tetapi juga di daratan. Pasukan Israel terpantau melakukan pergerakan maju ke arah pinggiran Kfar Shouba yang berada di distrik Hasbaya. Dalam pergerakan tersebut, militer Israel dilaporkan melepaskan tembakan menggunakan senapan mesin sedang dan berat, yang semakin memperkeruh situasi di lapangan pasca-penandatanganan perjanjian keamanan pada Jumat lalu.
Perjanjian damai yang diteken kedua negara sebenarnya bertujuan untuk menciptakan zona aman dan mengurangi intensitas permusuhan lintas batas yang telah berlangsung selama berbulan-bulan antara Israel dan kelompok Hizbullah. Sebagai bagian dari kerangka kesepakatan tersebut, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sempat menyatakan komitmennya untuk menarik mundur pasukan dari wilayah utara dan selatan Sungai Litani. Wilayah yang ditinggalkan tersebut nantinya akan diserahkan pengawasannya kepada militer Lebanon sebagai langkah awal program percontohan stabilitas keamanan.
Netanyahu menyebut penarikan pasukan ini sebagai langkah meninggalkan lokasi yang dianggap tidak lagi dibutuhkan secara strategis oleh militer Israel. Namun, aksi serangan udara yang terjadi justru menimbulkan tanda tanya besar mengenai konsistensi komitmen tersebut di lapangan. Sebelum serangan Sabtu terjadi, militer Israel memang sempat mengumumkan akan melakukan pengurangan personel secara temporer di Lebanon, meski tidak memberikan rincian spesifik mengenai sektor mana yang akan dikosongkan.
Konflik yang melanda kawasan ini memiliki akar sejarah yang panjang, dengan beberapa wilayah di Lebanon selatan diketahui telah diduduki oleh Israel selama beberapa dekade. Ketegangan semakin memuncak sejak perang yang pecah pada periode 2023-2024. Data statistik mencatat bahwa sejak 2 Maret lalu, eskalasi militer Israel di Lebanon telah memberikan dampak kemanusiaan yang sangat masif. Tercatat sebanyak 4.243 orang kehilangan nyawa, sementara 12.186 orang lainnya mengalami luka-luka. Dampak pengungsian juga mencapai angka yang mengkhawatirkan dengan lebih dari 1 juta penduduk terpaksa meninggalkan rumah mereka demi mencari tempat yang lebih aman.
Situasi keamanan di Lebanon kembali terpuruk setelah aksi militer Israel yang mematikan di Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai bentuk pembalasan, milisi Hizbullah kemudian meningkatkan serangan ke wilayah Israel. Pemerintah Israel merespons balik dengan dalih bahwa keberadaan dan aktivitas Hizbullah di wilayah tersebut merupakan ancaman langsung terhadap kedaulatan serta keamanan nasional negara Zionis tersebut.
Bagi masyarakat di Lebanon selatan, ketidakpastian ini menjadi beban psikologis yang berat. Meski kesepakatan damai telah ditandatangani di atas kertas, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perdamaian yang berkelanjutan masih menjadi tantangan yang sangat besar. Penandatanganan perjanjian tersebut awalnya digadang-gadang sebagai kerangka kerja diplomatik yang solid untuk mengakhiri siklus kekerasan, namun serangan drone pada akhir pekan ini menjadi pengingat bahwa dinamika konflik di Timur Tengah sangat fluktuatif dan mudah berubah dalam hitungan jam.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak otoritas keamanan Lebanon terkait langkah apa yang akan diambil menanggapi pelanggaran kesepakatan tersebut. Dunia internasional kini tengah menanti bagaimana Amerika Serikat sebagai mediator utama merespons aksi sepihak yang dilakukan militer Israel. Keberhasilan program percontohan yang melibatkan Angkatan Bersenjata Lebanon untuk mengisi wilayah yang ditinggalkan Israel kini berada di titik nadir, mengingat kepercayaan antara kedua belah pihak yang masih sangat rapuh.
Perkembangan situasi di Nabatieh dan distrik Hasbaya terus dipantau secara ketat oleh organisasi kemanusiaan global yang khawatir akan keselamatan warga sipil yang terjebak di zona transisi. Dengan belum adanya kepastian kapan penarikan pasukan Israel akan benar-benar terealisasi secara penuh dan permanen, penduduk Lebanon selatan terpaksa harus terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan serangan susulan. Masa depan kesepakatan damai ini pun kini bergantung pada sejauh mana kedua negara mampu menahan diri dan mematuhi protokol keamanan yang telah disepakati bersama sebelumnya.











