Kisah inspiratif terus bergulir di panggung Piala Dunia, kali ini melibatkan Vozinha, sang penjaga gawang veteran Cape Verde yang penampilannya gemilang berhasil menahan imbang raksasa Spanyol. Di tengah sorak-sorai publik dan apresiasi dunia maya, Vozinha akan segera merasakan kehangatan kehadiran ibunda tercinta di sisi lapangan. Sang ibu yang sebelumnya terhalang biaya dan kerumitan pengurusan visa Amerika Serikat, kini dipastikan dapat menyaksikan langsung putranya mencetak sejarah bagi negaranya.
Kepastian ini datang setelah intervensi dari tokoh penting di Amerika Serikat. Pemimpin Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS, Hakeem Jeffries, mengumumkan melalui platform X bahwa seluruh biaya visa untuk ibu Vozinha telah dibebaskan. Tidak hanya itu, pengaturan perjalanan untuk menyatukan kembali ibu dan anak di Miami, tempat pertandingan selanjutnya Cape Verde akan digelar, sedang dalam proses. "Tidak ada ibu yang seharusnya melewatkan kesempatan melihat anaknya mengukir sejarah," ujar Jeffries, menegaskan komitmennya untuk memfasilitasi momen emosional ini.
Jauh sebelum kabar gembira ini beredar, Vozinha sendiri sempat mengungkapkan rasa pilunya usai pertandingan melawan Spanyol. Ia bercerita bahwa ibunya tidak dapat hadir di Piala Dunia karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan visa Amerika Serikat. Keterbatasan finansial menjadi penghalang utama bagi sang ibu untuk menyaksikan langsung perjuangan putranya di turnamen akbar ini.
"Saya menangis karena saya tumbuh bersama kakek nenek saya. Sayangnya, mereka tidak di sini. Mereka meninggal beberapa tahun sebelumnya. Mereka adalah segalanya bagi saya, segalanya dalam hidup saya," tutur Vozinha dengan nada emosional, mengenang sosok-sosok penting dalam hidupnya. Ia melanjutkan, "Dan juga karena ibu saya. Dia tidak bisa hadir karena visa. Karena uang yang harus dibayar untuk visa, kami tidak bisa mengurusnya tepat waktu. Saya berharap dia bisa di sini."
Perjuangan Vozinha di dunia sepak bola memang tidak instan. Di usianya yang kini menginjak 40 tahun, ia menjadi pemain tertua yang tampil di laga debut Piala Dunia untuk sebuah negara. Perjalanan profesionalnya baru dimulai pada usia 25 tahun di tahun 2012, sebuah usia yang relatif terlambat bagi seorang pesepak bola. Namun, mimpi dan tekadnya yang kuat membuatnya terus berjuang, bahkan sempat terpikir untuk meninggalkan tim nasional.
"Saya mulai bermain sepak bola profesional ketika saya berusia 25 tahun, pada tahun 2012. Terlalu terlambat bagi orang seperti saya," ungkapnya. "Saya berpikir untuk meninggalkan tim nasional, tetapi kemudian saya terus melanjutkan demi mimpi ini." Dedikasi Vozinha terbayar lunas dengan penampilan impresifnya yang kini menjadikannya idola baru dan menarik jutaan pengikut baru di media sosial.
Kiper yang telah mengoleksi 91 caps untuk tim nasional Cape Verde ini saat ini bermain untuk Chaves di kasta kedua Liga Portugal. Kariernya yang panjang membentang melintasi berbagai negara, termasuk Slovakia, Angola, Moldova, dan Siprus, sebelum akhirnya mencapai puncak prestasinya di panggung Piala Dunia.
Intervensi Hakeem Jeffries, yang merupakan anggota Kongres dari Brooklyn, disambut hangat oleh berbagai pihak. Ia berterima kasih kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, pejabat Departemen Luar Negeri AS, pemerintah Cape Verde, dan FIFA atas kerja sama yang telah terjalin untuk mewujudkan reunifikasi emosional ini.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa tim visa mereka di Praia terus menjalin komunikasi erat dengan ibu Vozinha dan memberikan layanan yang diperlukan. Keputusan untuk membebaskan biaya visa ini sejalan dengan kebijakan resmi yang memungkinkan pengecualian dalam situasi tertentu, terutama bagi para penggemar yang telah memiliki tiket pertandingan.
Perlu dicatat bahwa warga dari lima negara yang berpartisipasi dalam turnamen ini, termasuk Cape Verde, diwajibkan oleh pemerintah AS untuk membayar deposit visa yang dapat dikembalikan, dengan kisaran nilai sekitar 11.000 poundsterling. Namun, pada bulan Mei lalu, kebijakan tersebut telah dimodifikasi dengan pembebasan bagi para penggemar yang memegang tiket pertandingan.
Kembalinya Vozinha ke lapangan untuk menghadapi Uruguay pada hari Minggu mendatang akan menjadi momen yang lebih istimewa dengan kehadiran ibunya di bangku penonton. Pertandingan ini menjadi bagian dari perjuangan Cape Verde di Grup H, yang juga akan menghadapi Arab Saudi pada 27 Juni. Dengan dukungan penuh dari keluarga dan publik, Vozinha diharapkan dapat terus menampilkan performa terbaiknya dan membawa kebanggaan bagi negaranya.











