Lionel Messi sekali lagi membuktikan statusnya sebagai pesepak bola legendaris. Hanya bermain selama 30 menit dari bangku cadangan, bintang Argentina itu berhasil mencetak gol spektakuler yang mengukuhkan kemenangan timnya atas Yordania dalam pertandingan Piala Dunia Grup J yang berlangsung di Texas, Amerika Serikat. Gol tersebut tidak hanya memastikan kemenangan, tetapi juga menambah panjang daftar rekor pribadi La Pulga, sekaligus memberi penggemar momen tak terlupakan.
Sebagian besar penonton di stadion berkapasitas besar itu telah dilanda "Messidependencia" atau ketergantungan pada Messi, menunggu kehadirannya selama dua pertiga pertandingan. Suasana pertandingan yang awalnya cenderung datar dan minim tekanan, mengingat Argentina telah memastikan diri lolos sebagai juara Grup J, langsung berubah hidup begitu Messi melangkah masuk ke lapangan. Kehadirannya seolah menjadi crescendo yang ditunggu-tunggu, mengubah laga "mati" ini menjadi sebuah perayaan.
Momen magis itu tiba ketika Messi dilanggar sekitar 20 meter dari gawang Yordania. Tendangan bebas yang didapatkannya berada di posisi yang sangat menguntungkan, hampir di tengah, membuat eksploitasinya terasa tak terhindarkan. Messi kemudian melesakkan bola melengkung melewati pagar betis Yordania dengan presisi luar biasa, menembus jala gawang Yazeed Abulaila yang terlihat salah posisi.
Pelatih tim nasional Argentina, Lionel Scaloni, menjelaskan bahwa keputusan untuk memainkan Messi hanya selama 30 menit adalah kesepakatan bersama. "Dia sebenarnya bisa bermain 90 menit, tetapi tanpa meremehkan lawan, dia ingin rekan-rekan setimnya mendapatkan waktu bermain dan menghemat tenaganya untuk pertandingan selanjutnya," ujar Scaloni. Pelatih berusia 46 tahun itu menambahkan bahwa keputusan Messi yang lebih memikirkan tim daripada statistik pribadinya, menunjukkan kematangan dan kepemimpinannya.
Gol tunggal Messi dalam pertandingan ini bukan sekadar gol biasa; ia mencatatkan empat rekor baru yang mengesankan. Gol tersebut merupakan yang keenam bagi Messi di turnamen ini dari tiga pertandingan, menempatkannya dua gol di atas Kylian Mbappe dalam perburuan sepatu emas yang berpotensi luar biasa. Ini juga menjadi gol ke-19 Messi di semua edisi turnamen ini, memperpanjang rekor yang telah diukirnya sebelumnya. Lebih menarik lagi, gol ini adalah yang pertama baginya di usianya yang ke-40 tahun. Sebagai puncaknya, Messi menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam tujuh penampilan Piala Dunia secara berturut-turut.
Dengan dominasi di Grup J, Argentina kini menatap babak 16 besar dengan penuh percaya diri. Mereka akan menghadapi Cape Verde, yang diprediksi akan merasakan kekuatan Messi yang lebih bugar. Jalur menuju semifinal terlihat terbuka lebar bagi Albiceleste, dengan kemungkinan menghadapi lawan yang lebih berat seperti Kolombia atau Swiss. Meskipun demikian, Scaloni tetap berhati-hati. "Saya jamin, percayalah, mereka akan menjadi tim yang menyulitkan kami," katanya, merujuk pada lawan di babak 32 besar.
Dalam pertandingan yang sebenarnya tidak menentukan ini, Scaloni melakukan sembilan perubahan pada susunan pemainnya. Hal ini memberi kesempatan bagi banyak pemain cadangan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Sementara Argentina telah mengamankan tiket ke babak selanjutnya, Yordania harus pulang dengan kepala tegak, meskipun mereka tidak memiliki peluang untuk lolos karena aturan head-to-head.
Yordania berhasil mencetak gol yang mungkin menjadi gol paling terstruktur dalam pertandingan ini. Ketika skor sudah 2-0 untuk Argentina dan Messi sedang bersiap masuk, kapten Yordania, Ehsan Haddad, melewati Nico Paz dengan gerakan kaki yang cerdik. Umpan terobosannya kepada Essan Haddad sangat sempurna, dan umpan silang satu sentuhan Essan Haddad berhasil dikonversi oleh Musa Al-Tamari. Gol cerdas dan cepat itu menunjukkan bahwa Yordania mampu membobol gawang ketiga lawan mereka di musim panas ini.
Pelatih kepala Yordania, Jamal Sellami, dengan bangga mengakui pencapaian tersebut. "Namun, karena kami bersaing dengan tim-tim level tinggi, kesalahan kecil sangatlah mahal," keluhnya. Yordania bisa berargumen bahwa penalti yang diberikan kepada Argentina pada menit ketujuh terlalu keras setelah Abu Taha dianggap melakukan pelanggaran. Dari tendangan bebas tersebut, Giovani Lo Celso berhasil mencetak gol pembuka Argentina, memanfaatkan posisi kiper Abulaila yang terlalu condong ke kiri. Lo Celso, yang absen di Piala Dunia 2018 karena cedera, dengan gembira merayakan gol penting ini.
Sementara itu, sub-plot lain bagi Argentina adalah duet Lautaro Martinez dan Julian Alvarez di lini depan. Hanya satu dari mereka yang kemungkinan besar akan mendampingi Messi melawan Cape Verde, namun keduanya diberi kesempatan bermain bersama. Alvarez terlihat bugar setelah masalah pergelangan kakinya, tetapi Martinez tampil dengan penekanan yang lebih besar. Ia berhasil mencetak gol dari tendangan penalti yang diberikan melalui VAR setelah setengah jam pertandingan, menyusul insiden di mana Nizar Al-Rashdan menendang wajah Marcos Senesi di dalam kotak penalti. Martinez juga sempat membentur tiang gawang dari jarak jauh, dan tampaknya lebih mungkin untuk menjadi starter di Miami.
Selebihnya, semua diserahkan kepada Messi. Scaloni tertawa ketika ditanya apa yang dia katakan kepada Messi sebelum masuk lapangan. "Saya hanya berkata: ‘Bersiaplah, Anda akan masuk’," kata Scaloni. "Apa lagi yang akan saya katakan padanya?" Sekali lagi, Messi telah menyiapkan skenario sempurna bagi dirinya dan tim. Kemenangan ini menegaskan posisi Argentina sebagai kandidat kuat juara, dengan Messi sebagai jantung magis yang terus berdenyut, siap menantang setiap rintangan di fase gugur.











