Turnamen Piala Dunia 2026 kembali mencatat sejarah dalam hal kedisiplinan pemain. Pertandingan pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan, yang awalnya berjalan datar di babak pertama, mendadak memanas di paruh kedua dengan keluarnya dua kartu merah untuk tim Afrika Selatan. Sphephelo Sithole menjadi pemain pertama yang diusir wasit pada menit ke-49 karena dianggap melakukan pelanggaran yang menggagalkan peluang mencetak gol, meski ia sebelumnya dinilai berkontribusi pada gol pembuka Meksiko. Menyusul Sithole, Themba Zwane juga menerima kartu merah, menjadikan Afrika Selatan sebagai tim ke-15 yang harus kehilangan dua pemain dalam satu pertandingan Piala Dunia. Pesta kartu merah belum berhenti, bek tengah Meksiko, César Montes, menyusul di masa injury time, meniru jejak manajernya, Javier Aguirre, yang pernah diusir saat masih bermain untuk Meksiko di perempat final Piala Dunia 1986.
Pertemuan antara Meksiko dan Afrika Selatan ini menjadi pertandingan ketujuh dalam sejarah Piala Dunia yang menampilkan lebih dari dua kartu merah. Tren peningkatan kartu merah di turnamen kali ini terasa signifikan. Hanya beberapa hari sebelumnya, bek Belgia, Nathan Ngoy, yang diusir dalam laga imbang tanpa gol melawan Iran, menjadi pemain kedelapan yang menerima kartu merah di Piala Dunia 2026. Jumlah ini sudah menyamai total kartu merah dalam dua edisi Piala Dunia sebelumnya, Rusia 2018 dan Qatar 2022, yang masing-masing hanya mencatat empat kartu merah.
Peristiwa di Piala Dunia 2026 ini mengingatkan kembali pada beberapa momen kelam dalam sejarah kompetisi sepak bola terbesar di dunia. Salah satunya adalah kartu merah yang diterima Denzel Dumfries di perempat final Piala Dunia 2018. Pemain Belanda itu diusir wasit karena dianggap mengejek pemain Argentina dalam drama adu penalti yang menegangkan. Mengingat reputasi Belanda yang identik dengan permainan indah dan strategis, jumlah kontroversi dan kartu merah yang melibatkan tim Oranje di Piala Dunia terkadang mengejutkan.
Belanda sendiri pernah terlibat dalam satu-satunya pertandingan Piala Dunia yang mencatat empat kartu merah: "Pertempuran Nuremberg" pada Piala Dunia 2006. Dalam laga babak 16 besar melawan Portugal itu, Belanda kalah 0-1. Pertandingan ini tidak hanya memecahkan rekor kartu merah, tetapi juga mencatat rekor kartu kuning terbanyak dengan 16 kartu yang dikeluarkan wasit. Kartu kuning pertama diberikan kepada Mark van Bommel di menit kedua karena tekel keras terhadap Cristiano Ronaldo. Tak lama kemudian, Ronaldo kembali menjadi sasaran tekel brutal dari Khalid Boulahrouz, yang berujung pada kartu kuning kedua.
Meskipun Ronaldo berhasil selamat dari kedua serangan tersebut, ia tidak mampu bertahan hingga babak pertama usai. Ia meninggalkan lapangan sambil menangis sesaat setelah Maniche mencetak gol tunggal kemenangan Portugal. Ketegangan tidak mereda, dan kartu merah pertama dikeluarkan sebelum jeda babak pertama. Costinha harus keluar lapangan setelah menerima kartu kuning kedua akibat handball yang disengaja. Harapan akan babak kedua yang lebih tenang segera pupus. Petit, pemain pengganti di babak kedua, langsung mendapat kartu kuning tak lama setelah masuk. Lebih mengejutkan lagi, jumlah kartu merah bisa saja bertambah jika wasit melihat insiden sundulan kepala Luís Figo terhadap Van Bommel sebagai pelanggaran yang lebih serius dari sekadar kartu kuning.
Rekor kartu kuning terbanyak di Piala Dunia juga dipegang oleh pertandingan yang melibatkan Belanda, yaitu perempat final melawan Argentina pada Piala Dunia 2022. Wasit mengeluarkan total 18 kartu kuning, termasuk dua untuk staf pelatih, dalam pertandingan yang sarat fisik dan tensi tinggi ini. Argentina akhirnya memenangkan adu penalti setelah bermain imbang 2-2. Momen tersebut diwarnai ketegangan yang mendalam antar kedua tim, terlihat dari selebrasi pemain Argentina yang dianggap provokatif di depan para pemain Belanda setelah adu penalti.
Pendekatan agresif juga ditunjukkan Belanda di final Piala Dunia 2010 melawan Spanyol. Tim Oranje berusaha merusak ritme permainan Spanyol dengan serangkaian tekel keras. Pertandingan tersebut mencatat 14 kartu kuning, dengan delapan dari sebelas pemain inti Belanda masuk dalam daftar penerima kartu. Hanya Maarten Stekelenburg, Wesley Sneijder, dan Dirk Kuyt yang lolos dari catatan wasit.
Bahkan, wasit Howard Webb kala itu dinilai terlalu berbaik hati. John Heitinga memang diusir karena dua kartu kuning, namun Webb memutuskan tidak memberi kartu merah kepada Nigel de Jong atas tindakannya menendang dada Xabi Alonso dengan kedua sepatunya. Webb sendiri kemudian mengakui kekeliruannya. Ia menyatakan bahwa jika bisa memutar waktu, ia akan mengubah warna kartu untuk tekel De Jong menjadi merah. Pengakuan ini menjadi ironi bagi filosofi "Total Football" yang identik dengan permainan bersih dan indah dari Belanda.
John Heitinga menjadi pemain terakhir yang diusir di final Piala Dunia, dan yang kelima sepanjang sejarah. Kartu merah pertama di final Piala Dunia baru terjadi pada edisi 1990, ketika Argentina harus kehilangan dua pemain dalam kekalahan melawan Jerman Barat. Pedro Monzón diusir 20 menit setelah masuk sebagai pemain pengganti, disusul oleh Gustavo Dezotti yang juga menerima kartu merah. Pada final 1998, bek tangguh Prancis, Marcel Desailly, harus keluar lapangan akibat kartu kuning kedua setelah melanggar Cafu. Namun, Prancis tetap mampu meraih kemenangan telak 3-0 atas Brasil.
Piala Dunia 1998 juga menjadi saksi momen ikonik Zinedine Zidane. Ia mencetak dua gol di final tersebut, namun di fase grup, ia sempat diusir wasit karena menginjak pemain Arab Saudi saat Prancis menang telak 4-0. Delapan tahun kemudian, Zidane kembali mencatat sejarah dengan kartu merah di final. Ia menjadi pemain Prancis kedua yang diusir dalam partai puncak, setelah sundulannya terhadap bek Italia, Marco Materazzi, yang sebelumnya juga sempat mendapat kartu merah di turnamen yang sama. Insiden tersebut menjadi penutup karier internasional Zidane yang tak terduga, mengingat statusnya sebagai salah satu pemain paling elegan dan berbakat. Zidane tidak sendirian dalam sejarah kartu merah ganda di Piala Dunia; bek Kamerun, Rigobert Song, juga mengalami hal serupa di edisi 1994 dan 1998.
Kartu merah pertama dalam sejarah Piala Dunia tercatat pada hari kedua turnamen perdana tahun 1930 di Montevideo. Plácido Galindo, kapten Peru, diusir wasit dalam kekalahan 1-3 melawan Rumania. Saat itu, kartu merah belum diperkenalkan, sehingga ia hanya diminta meninggalkan lapangan. Pertandingan tersebut dilaporkan diwarnai banyak perkelahian hingga harus dilerai oleh polisi.
Hampir seabad kemudian, pemain terus menciptakan cerita baru terkait kartu merah. Miguel Almirón mencatatkan namanya dalam sejarah Piala Dunia 2026 setelah diusir wasit dalam kemenangan Paraguay 1-0 atas Turki. Almirón menerima kartu merah bukan karena permainan keras atau provokasi fisik, melainkan karena gestur yang dinilai tidak pantas: "menutupi mulutnya saat berbicara dengan lawan dalam situasi konfrontatif." Kejadian ini menyoroti bagaimana aturan dan interpretasi wasit terus berkembang, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele.











