Julián Quiñones: Sang Pahlawan Sepak Bola Meksiko yang Mengusik Perdebatan Identitas Bangsa

Danu Ilham

Perhelatan akbar Piala Dunia FIFA 2026 di tanah sendiri menjadi panggung gemilang bagi Julián Quiñones. Penyerang kelahiran Kolombia ini mencetak gol pembuka kemenangan Meksiko melawan Afrika Selatan, sebuah momen bersejarah yang disambut gegap gempita oleh puluhan ribu penonton. Komentator meneriakkan namanya, dan foto-fotonya beredar luas di media sosial, membungkusnya dalam pelukan bendera Meksiko. Namun, sorak-sorai kebanggaan itu datang dari bangsa yang sama, yang kurang dari dua tahun sebelumnya, sempat melontarkan cacian rasial kepadanya.

Maret 2024, di Stadion Guadalajara, dalam laga El Clásico Nacional antara Club América melawan Chivas, Quiñones, saat itu membela América, mencetak gol. Saat ia bergerak ke tepi lapangan, teriakan "Puto negro!" (bahasa kasar untuk "hitam homoseksual") terdengar dari tribun. Tak lama kemudian, suara-suara yang meniru monyet menggema. Kejadian ini bukanlah hal baru dalam sepak bola Meksiko. Video amatir merekam insiden tersebut, para komentator menganalisisnya keesokan harinya, dan para pejabat sepak bola mengutuknya, bahkan mengumumkan penyelidikan. Namun, seperti drama mingguan lainnya di dunia sepak bola, insiden itu segera tenggelam dalam arus berita berikutnya.

Quiñones, yang kini berusia 29 tahun, telah mengukir kariernya di Meksiko sejak kedatangannya pada 2015. Ia resmi menjadi warga negara Meksiko pada 2023 dan dipanggil ke tim nasional tahun yang sama. Keputusannya membela timnas Meksiko dalam ajang Piala Dunia memunculkan pertanyaan mendasar tentang ras dan siapa yang berhak menyandang status Meksiko, sebuah isu yang selama ini coba dihindari oleh masyarakat Meksiko modern.

Tren perekrutan pemain tim nasional Meksiko kini telah bergeser. Jika dulu didominasi pemain lokal, kini federasi sepak bola Meksiko justru memperluas jangkauannya ke luar negeri, melintasi batas-batas geografis dan jaringan keluarga. California dan Texas di Amerika Serikat menjadi lahan subur baru untuk mencari talenta. Generasi pemain muda Meksiko-Amerika mulai bermunculan, termasuk mereka yang berkulit hitam. Antonio Leone dan Da’vian Kimbrough, keduanya lahir di California dari ibu Meksiko dan ayah Afrika-Amerika, telah mewakili timnas junior Meksiko.

Selain itu, pemain dari negara-negara Amerika Latin lainnya juga turut memperkaya skuad timnas. Giovani dan Jonathan dos Santos, putra dari pemain sepak bola Afro-Brasil Zizinho dan ibu Meksiko, pernah membela timnas. Melvin Brown, yang memiliki darah Jamaika dari kakeknya, juga pernah tampil di Piala Dunia 2002. Para pemain ini, dengan latar belakang multikultural mereka, seringkali tidak sesuai dengan citra visual stereotip yang selama ini diasosiasikan dengan identitas Meksiko.

Menurut Karma Frierson, seorang pengajar studi kulit hitam di University of Rochester yang mendalami budaya kulit hitam di Meksiko, keheranan yang muncul atas keberhasilan Quiñones mencetak gol di Piala Dunia mencerminkan prasangka tentang penampilan fisik orang Meksiko. "Keheranan ini menunjukkan ekspektasi orang tentang bagaimana seharusnya orang Meksiko terlihat. Ini menciptakan disonansi," jelas Frierson. "Anda tahu pemain itu adalah warga negara Meksiko karena mengenakan seragam timnas, tetapi Anda tidak pernah membayangkan orang itu akan terlihat seperti itu."

Secara historis, masyarakat Meksiko cenderung menghindari diskusi terbuka tentang ras. Konsep mestizaje, gagasan tentang perpaduan antara penduduk asli dan Eropa, menjadi salah satu mitos pendiri negara Meksiko modern. Ideologi ini menawarkan narasi pemersatu bagi bangsa yang terfragmentasi pasca-revolusi, menekankan percampuran dan kesatuan, alih-alih perbedaan. Konsep ini berbeda tajam dengan tatanan rasial di Amerika Serikat yang sarat dengan segregasi dan klasifikasi rasial.

Namun, di balik janji percampuran itu, realitasnya jauh lebih kompleks. Diskriminasi dan rasisme terhadap orang kulit hitam di Meksiko masih marak, meskipun seringkali dianggap remeh. Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, salah satu stasiun televisi terbesar Meksiko, Televisa, menampilkan karakter berwajah hitam (blackface) dengan rambut afro dan mengenakan pakaian suku, sebuah penggambaran yang sangat ofensif. Pada 2018, reporter TV Azteca juga tampil dengan blackface saat siaran langsung pertandingan Liga MX. Insiden-insiden ini menuai kritik, namun banyak yang menganggapnya sekadar lelucon.

Para pemain kulit hitam di Liga MX juga pernah mengalami perlakuan serupa. Darwin Quintero dari Kolombia dan Felipe Baloy dari Panama pernah menuduh tim lawan melontarkan hinaan rasial. Pada 2021, pemain Ekuador Félix Torres meninggalkan lapangan sambil menangis setelah melaporkan dugaan hinaan rasial dari pemain lawan. Meskipun Federasi Sepak Bola Meksiko melakukan investigasi, mereka menyatakan tidak dapat menguatkan tuduhan tersebut sehingga tidak ada tindakan disipliner yang diambil.

Menanggapi insiden rasial pada Maret 2024, Quiñones sendiri cenderung meremehkannya. Melalui pernyataan di Instagram, ia lebih menekankan perlunya melindungi putrinya dari pelecehan daring, sambil menyatakan bahwa ia cukup kuat secara mental untuk menghadapi segala bentuk hinaan, terutama yang berkaitan dengan warna kulitnya yang sering ia terima.

Namun, kehadiran Quiñones yang bersinar di Piala Dunia yang diselenggarakan di Meksiko berpotensi membawa isu ras ke permukaan diskursus publik dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Frierson berpendapat bahwa momen ini dapat mendorong Meksiko untuk lebih terbuka dalam membahas identitas rasialnya.

Di sisi lain, pemain-pemain Meksiko yang bermain di Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat juga membawa perspektif baru saat kembali ke tanah air. Jonathan dos Santos, saat membela LA Galaxy pada 2020, mengungkapkan bahwa ia merasa lebih nyaman di Amerika Serikat karena tidak mengalami ejekan rasial. Ia bahkan menyatakan bahwa banyak negara perlu belajar dari Amerika Serikat terkait rasa hormat terhadap atlet.

Membuka diskusi tentang ras dalam olahraga nasional Meksiko dapat mengarah pada penjelajahan lebih dalam terhadap sejarah negara itu sendiri, yang memiliki akar Afrika. Selama periode kolonial, ratusan ribu budak Afrika dibawa ke New Spain. Keturunan mereka membentuk komunitas di berbagai wilayah, terutama di Veracruz dan sepanjang Costa Chica di Guerrero dan Oaxaca. Mereka turut berperan dalam pembentukan masyarakat Meksiko sejak awal berdirinya. Tokoh-tokoh pahlawan kemerdekaan seperti Vicente Guerrero dan José María Morelos diketahui memiliki darah Afro-Meksiko, meskipun warisan ini jarang disebut.

"Kehitaman (Blackness) terintegrasi dalam struktur fundamental bangsa ini," ujar Frierson. Dari perspektif ini, bukan hanya sepak bola Meksiko yang semakin beragam, tetapi juga kesadaran akan keberadaan ras di Meksiko yang menjadi lebih terlihat.

Sepak bola, dalam banyak hal, berfungsi sebagai cermin bagi sebuah bangsa. Tim nasional mewakili lebih dari sekadar negara, melainkan juga sebuah gagasan tentang negara itu sendiri. Piala Dunia adalah salah satu dari sedikit arena publik di mana bangsa-bangsa dipamerkan. Setiap pengumuman daftar pemain inti, setiap lagu kebangsaan, setiap gol, menjadi forum perdebatan – sadar atau tidak sadar – tentang siapa yang pantas menjadi bagian dari bangsa.

Meksiko sedang mengalami perubahan. Pendatang baru dari Eropa dan Amerika Serikat menetap di Mexico City, membuka kafe dan toko yang mencerminkan gaya internasional. Pengungsi dari Haiti, Kuba, dan Amerika Selatan juga semakin banyak yang bermukim di Meksiko, sebagian terhalang untuk bermigrasi ke AS. Sementara itu, banyak warga Meksiko yang telah lama tinggal di AS kini kembali ke tanah air bersama keluarga Amerika mereka, baik atas pilihan sendiri maupun karena deportasi.

Skuad tim nasional Meksiko mulai mencerminkan keberagaman ini. Dalam skuad Piala Dunia 2026, terdapat pemain kelahiran Spanyol (Álvaro Fidalgo), Alaska (Obed Vargas), Argentina (Santiago Giménez), dan tentu saja, Quiñones dari Kolombia.

Keberadaan Quiñones menantang ekspektasi yang masih melekat tentang penampilan fisik orang Meksiko. Keberagaman di Meksiko selalu ada, namun sepak bola memiliki kekuatan unik untuk menyoroti realitas tersebut. Ketika seorang pemain mencetak gol, dan penonton berdiri bersorak, kamera mencari wajah-wajah di kerumunan. Untuk sesaat, sebuah bangsa merenungkan dirinya sendiri – bukan seperti yang dibayangkannya, melainkan seperti apa adanya ia selama ini.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All