Nottingham Forest memiliki keyakinan kuat bahwa talenta James McAtee akan segera meledak di City Ground, terlepas dari tantangan yang dihadapinya musim lalu. Pemain muda ini tetap menjadi bagian penting dari rencana manajer Vitor Pereira untuk musim mendatang, dengan potensi besar yang diyakini dapat "meledak" berkat bakat alaminya. Kedatangannya di Forest disambut antusias oleh para penggemar, dibalut kesepakatan berdurasi lima tahun senilai sekitar 30 juta poundsterling, tak lama setelah membawa tim nasional Inggris U-21 menjuarai Euro 2025.
Keberhasilan pengembangan pemain seperti Elliot Anderson dan Morgan Gibbs-White menjadi salah satu daya tarik bagi McAtee, yang diharapkan dapat menjadi generasi penerus berikutnya yang bersinar dari akademi klub. Ia merupakan bagian dari gelontoran dana besar Forest sebesar 180 juta poundsterling pada bursa transfer, namun hanya mampu mencatatkan dua penampilan sebagai starter di Premier League musim lalu. Posisi nomor 10 yang ditempati Morgan Gibbs-White, yang tampil gemilang dengan 18 gol dan nyaris masuk skuad Piala Dunia Inggris, menjadi batu sandungan bagi menit bermain McAtee. Situasi bisa saja berbeda jika Gibbs-White memilih bergabung dengan Tottenham Hotspur pada musim yang sama.
Secara total, McAtee hanya mengumpulkan 287 menit bermain dalam perjuangan Forest bertahan di Premier League. Di kompetisi Eropa, ia tampil dalam sembilan dari 16 pertandingan Europa League yang membawa Forest melaju hingga semifinal. Perjalanan menit bermainnya terbagi di bawah tiga manajer berbeda: 50 menit di bawah Nuno Espirito Santo yang dipecat di awal musim, 161 menit selama masa singkat Ange Postecoglou, dan 441 menit bersama Sean Dyche. Di bawah kepelatihan Vitor Pereira, McAtee mencatatkan 378 menit bermain di semua kompetisi.
Statistik gol dan assist McAtee bersama Forest memang belum memuaskan. Ia hanya mencatatkan satu assist dan belum pernah mencetak gol di liga, meskipun berhasil menjaringkan satu gol dari tendangan penalti di Europa League. Puncak performa mencetak golnya terjadi saat dipinjamkan ke Sheffield United di Championship, di mana ia membukukan sembilan gol. Meskipun demikian, berbagai frustrasi yang dialami musim lalu justru menjadi pemicu semangat baru bagi McAtee. Salah satu target besarnya adalah mendapatkan panggilan tim nasional Inggris untuk Euro 2028, dan ia masih sangat dihargai dalam struktur timnas Inggris.
McAtee merasa nyaman di City Ground dan telah menjalani program latihan intensif setiap hari setelah libur singkat usai musim berakhir, dibantu oleh program khusus dari Forest dan pelatih kebugaran pribadinya. Ia meningkatkan porsi latihan kekuatan dan kondisi fisik, dan diperkirakan akan kembali dalam kondisi prima untuk pramusim. Keraguan awal mengenai kebugarannya sempat diungkapkan oleh Sean Dyche, namun McAtee berhasil membuktikan diri dengan menempati posisi kedua dalam latihan lari skuad, yang bahkan membuat Dyche meminta maaf atas keraguannya.
Sikap profesional dan fokus yang ditunjukkan McAtee patut diacungi jempol. Terlepas dari minimnya waktu bermain, ia tidak pernah mengeluh dan menunjukkan kerendahan hati. Di lingkungan klub, ia dikenal sebagai pribadi yang sopan, memiliki etos kerja tinggi, kemauan untuk terus berkembang, serta memperlakukan semua orang dengan setara. Kecerdasan bermainnya juga sangat dihargai, karena ia dinilai mampu membaca permainan dan menemukan solusi di lapangan sebelum pemain lain.
Ada pandangan bahwa McAtee masih dalam tahap pengembangan. Dengan pramusim yang baik, ekspektasi tinggi agar ia dapat bersaing memperebutkan tempat utama. Beban untuk membuktikan diri tentu ada pada McAtee, namun gaya permainan fluid ala Vitor Pereira dinilai sangat cocok dengan karakternya. Perbandingan pun sempat dibuat secara internal dengan Bernardo Silva, di mana keduanya dinilai memiliki kelemahan dalam sisi defensif namun mampu memberikan momen-momen penentu pertandingan.
Ada rasa simpati terhadap minimnya menit bermain McAtee yang membuatnya sulit menunjukkan performa konsisten. Musim Forest yang penuh gejolak, pergantian manajer, perjuangan menghindari degradasi, dan langkah jauh di Eropa, menyisakan sedikit ruang untuk merotasi pemain dan memberikan kesempatan bermain yang cukup bagi McAtee. Pemain rekrutan musim panas lainnya seperti Dan Ndoye dan Dilane Bakwa mungkin memiliki keluhan serupa, sehingga tekanan untuk tampil maksimal dalam waktu singkat lebih besar ketimbang menemukan ritme bermain secara reguler.
Namun, data menunjukkan bahwa dari para pemain yang bermain kurang dari 300 menit di liga, McAtee (dengan 287 menit) menjadi pemain yang paling banyak melakukan pembawaan bola (47 kali sejauh 560 meter) dan menciptakan peluang terbanyak (enam). Ini menjadi bukti mengapa keyakinan akan peningkatan outputnya seiring bertambahnya menit bermain sangat tinggi, dan ia diproyeksikan akan menjadi kekuatan penting bagi tim musim depan.
Elliot Anderson, yang memiliki kedekatan dengan McAtee dari timnas Inggris, menjadi motor penggerak Forest dalam perburuan poin bertahan musim lalu. Kepergiannya ke Manchester City, yang diprediksi akan segera terjadi, tentu akan meninggalkan lubang. Anderson cenderung bermain dari lini yang lebih dalam, sementara McAtee beroperasi lebih ke depan, sehingga tidak ada tekanan langsung bagi McAtee untuk mengisi kekosongan posisi Anderson.
Kepergian salah satu talenta muda Inggris dari Forest memang tak terhindarkan, namun di dalam diri James McAtee, klub masih memiliki aset berharga lainnya. Ia akan didorong untuk menempuh jalannya sendiri, meskipun perjalanan yang dilaluinya di City Ground sejauh ini jauh dari mulus. Dengan potensi yang dimilikinya dan kepercayaan yang diberikan klub, musim depan bisa menjadi momentum kebangkitan bagi James McAtee.











