Jakarta mencatatkan angka inflasi yang tetap terjaga pada Juni 2026. Berdasarkan data terbaru, inflasi di ibu kota berada di level 0,41 persen secara bulanan atau month-to-month.
Angka tersebut tercatat mengalami kenaikan tipis sebesar 0,12 persen dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan ini terjadi di tengah dinamika kenaikan harga Bahan Bakar Minyak atau BBM.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta, Iwan Setiawan, mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi ibu kota masih relatif stabil. Inflasi Jakarta bahkan terpantau lebih rendah dibanding angka nasional yang menyentuh 0,44 persen.
Iwan menjelaskan bahwa lonjakan inflasi bulanan tersebut didorong oleh sektor transportasi. Hal ini merupakan imbas langsung dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang diberlakukan pada awal Juni 2026.
Selain harga BBM, kenaikan tarif angkutan udara juga turut memberikan tekanan pada inflasi. Peningkatan harga tiket pesawat dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat saat periode libur sekolah.
Secara tahunan atau year-on-year, inflasi DKI Jakarta pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,78 persen. Angka ini menempatkan Jakarta sebagai provinsi dengan tingkat inflasi terendah di seluruh Pulau Jawa.
Capaian tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan dengan laju inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen secara tahunan. Data ini menunjukkan efektivitas pengendalian harga di tingkat daerah.
Menurut Iwan, capaian ini membuktikan bahwa ekonomi Jakarta tetap tangguh. Inflasi tetap terkendali meskipun ada tantangan penyesuaian harga BBM sebagai dampak gejolak harga minyak serta energi global.
Pihak Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan harga di pasar. Langkah ini diambil untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi internasional.
Stabilitas inflasi menjadi fokus utama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Bank Indonesia. Sinergi ini bertujuan menjaga daya beli warga di tengah tekanan biaya energi yang cenderung fluktuatif.
Keberhasilan menekan inflasi di angka 2,78 persen secara tahunan menjadi sinyal positif bagi iklim investasi di Jakarta. Hal ini memberikan kepastian bagi para pelaku usaha untuk menjalankan roda bisnisnya.
Pemerintah optimistis bahwa tren positif ini dapat terus dipertahankan pada semester kedua tahun 2026. Masyarakat diharapkan tetap tenang dalam merespons fluktuasi harga kebutuhan pokok di lapangan.











