Jakarta, Indonesia – Museum, khususnya di wilayah DKI Jakarta, didorong untuk terus melakukan inovasi guna menarik minat masyarakat luas, terutama generasi muda, agar lebih aktif berkunjung dan terlibat dalam berbagai kegiatan di lingkungan museum. Salah satu strategi utama yang diusulkan adalah mentransformasi museum menjadi ruang publik multifungsi, di mana beragam aktivitas dapat diselenggarakan, bahkan yang tidak selalu berkaitan langsung dengan fungsi inti museum sebagai lembaga pelestari sejarah dan budaya.
Usulan ini mencuat dalam diskusi bertema "Peran Museum dan Media Dalam Mendukung Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Kota Jakarta" yang diselenggarakan oleh Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta Paramita Jaya bekerja sama dengan Harian Kompas/Kompas.id. Acara Temu Museum Galeri dan Monumen (Mugalemon) Paramita Jaya ini berlangsung di Galeri Bentara Budaya Jakarta (BBJ) pada Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut Bayu Niti Permana, Kepala Seksi Bidang Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, pendekatan ini diharapkan dapat memicu rasa penasaran pengunjung. "Dengan begitu masyarakat diharapkan juga akan tertarik sekalian melihat-lihat koleksi museum saat mereka tengah berada di sana," ujar Bayu, menyoroti potensi daya tarik tidak langsung dari kegiatan non-museum. Strategi ini, lanjut Bayu, telah lama diterapkan di banyak negara maju, di mana acara kuliner bisa digelar di museum sejarah sambil mengulas narasi di balik sejarah kuliner itu sendiri.
Bayu menambahkan bahwa beberapa museum di Indonesia, seperti Museum Betawi, telah mencoba menerapkan konsep serupa. Museum tersebut mengundang masyarakat untuk menonton pentas seni, dengan harapan para penonton akan memanfaatkan waktu luang sebelum atau sesudah acara untuk melihat-lihat koleksi yang dipamerkan. Konsep "keriaan" atau acara hiburan yang bersifat menghibur kini dianggap sangat mungkin diselenggarakan di dalam lingkungan museum.
Dalam konteks yang lebih luas, museum memiliki peran krusial dalam Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK). Bayu menjelaskan bahwa museum bertindak sebagai infrastruktur dan ekosistem kebudayaan yang secara signifikan membantu penguatan Sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Peran konkret museum dalam IPK meliputi aspek pelestarian (preservation), pendidikan (education), dokumentasi dan pengetahuan, diseminasi atau penyebaran informasi, serta penguatan identitas budaya bangsa.
Meskipun demikian, terdapat kendala serius yang dihadapi, terutama dalam hal pendanaan dan sumber daya manusia. Bayu menyoroti kurangnya dorongan bagi SDM museum untuk memiliki kemampuan kewirausahaan dalam mencari mitra. "Seharusnya bisa cari mitra, entah dalam bentuk sponsor maupun komunitas," imbuhnya, menekankan pentingnya kreativitas dalam menggali sumber daya finansial dan non-finansial. Keterbatasan ini menghambat museum untuk berinovasi dan memperluas jangkauan kegiatan mereka.
Menanggapi tantangan ini, Ketua AMI DKI Jakarta Paramita Jaya, Yiyok T Herlambang, menggarisbawahi pentingnya sinergi dan kolaborasi erat antara pihak museum, galeri, monumen, dan media massa. Yiyok percaya bahwa melalui pemberitaan media, proses literasi kepada masyarakat mengenai sejarah dan koleksi museum dapat dipercepat dan diperluas. Saat ini, terdapat sedikitnya 516 museum di Indonesia dengan beragam genre yang masih memerlukan promosi dan pengenalan lebih lanjut kepada publik.
"Media seperti Kompas diharapkan bisa menjadi semacam sokoguru atau fasilitator sehingga museum-museum kita bisa lebih dikenal," tutur Yiyok, menyoroti peran strategis media dalam mengangkat profil museum dan koleksinya ke permukaan. Dengan jangkauan media yang luas, informasi tentang kekayaan budaya dan sejarah yang tersimpan di museum dapat diakses oleh lebih banyak orang, termasuk generasi muda yang akrab dengan media digital.
Salah satu topik sentral dalam diskusi adalah bagaimana melibatkan generasi muda, khususnya Generasi Z, agar tertarik pada sejarah dan warisan budaya, bukan hanya pada hal-hal instan. General Manager Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Ilham Khoiri, menyarankan agar museum melakukan perubahan tampilan di beberapa ruang pameran. Perubahan ini bisa mencakup desain yang lebih menarik dan berwarna, menciptakan "pojokan" yang segar dan tidak terkesan muram.
Ilham bahkan mengusulkan pembuatan "photobooth" yang instagrammable di dalam museum. Hal ini terbukti efektif dalam menarik pengunjung, seperti yang terlihat pada event Artjog. "Walau event Artjog kemarin dikritik tapi pengunjungnya tetap banyak karena mereka (penyelenggara) mengemas karya-karya yang dipamerkan asyik, secara audio, video, animasi. Semua dieksplorasi dengan sangat menarik," jelas Ilham, memberikan contoh konkret tentang bagaimana presentasi visual dan interaktif dapat memikat audiens muda.
Selain itu, pemanfaatan platform digital menjadi kunci. Akun-akun media sosial museum perlu dioptimalkan untuk mempresentasikan wajah museum secara lebih menarik dan relevan bagi generasi muda. Bahkan, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dapat dieksplorasi untuk menciptakan pengalaman interaktif yang imersif dan personal bagi pengunjung. Transformasi digital ini krusial untuk menjembatani kesenjangan antara tradisi dan tren kekinian.
Hilmi Faiq, Kepala Desk Budaya Kompas, menambahkan perspektif lain mengenai strategi engagement dengan Gen Z. Ia mengusulkan agar penyelenggara museum memanfaatkan berbagai platform populer, baik media sosial maupun film, tempat berkumpulnya anak-anak muda. "Misalnya meniru Artjog, Punthuk Setumbu, atau Gereja Ayam muncul dalam film Ada Apa Dengan Cinta? 2. Saat filmnya rilis kunjungan ke tempat-tempat itu langsung ramai," ujar Faiq, menyoroti kekuatan promosi tidak langsung melalui budaya populer.
Faiq juga memberikan contoh lain dari kesuksesan integrasi museum dengan media populer. Ketika film Mencuri Raden Saleh menjadi fenomena, minat masyarakat, terutama anak muda, untuk mencari tahu tentang Raden Saleh dan karya-karya lukisannya melonjak drastis. Fenomena ini menunjukkan bahwa museum dapat belajar dan meniru strategi serupa untuk meningkatkan daya tarik mereka. Dengan demikian, museum diharapkan tidak lagi menjadi sekadar gudang benda bersejarah, melainkan menjadi pusat aktivitas budaya yang dinamis dan relevan bagi setiap generasi.
