Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola Prancis. Pelatih klub Ligue 1, Stade Brestois 29, Eric Roy, meninggal dunia pada usia 58 tahun. Pengumuman duka ini disampaikan langsung oleh pihak klub pada hari ini, meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar Brest dan para penggemar sepak bola.
Roy telah berjuang melawan penyakit kanker pankreas selama tiga setengah tahun terakhir. Hal ini diungkapkan oleh pernyataan keluarga yang dirilis bersamaan dengan kabar kepergiannya. Kepergian Roy menjadi kehilangan besar, terutama mengingat kontribusinya yang signifikan bagi Stade Brestois dalam waktu singkat.
Sebelum terjun ke dunia kepelatihan di Brest, Eric Roy memiliki rekam jejak yang cukup berwarna di kancah sepak bola Inggris. Ia pernah menjadi bagian dari tim Sunderland pada musim 1999-2000, tampil dalam 27 pertandingan dan mencetak satu gol. Pengalaman bermainnya ini memberikannya perspektif unik yang kemudian ia bawa dalam karirnya di dunia manajemen sepak bola.
Tak hanya di Inggris, Roy juga memiliki ikatan kuat dengan sepak bola Prancis. Ia pernah bermain dan bahkan sempat menukangi klub lamanya, OGC Nice. Namun, perannya di Watford pada tahun 2019, saat klub tersebut berlaga di Premier League sebagai direktur olahraga, juga menjadi sorotan tersendiri dalam perjalanan kariernya di sepak bola Inggris.
Bergabung dengan Stade Brestois pada Januari 2023, Eric Roy dengan cepat menunjukkan kapasitasnya sebagai pelatih yang visioner. Di bawah kepemimpinannya, klub yang berbasis di wilayah Brittany tersebut berhasil menorehkan sejarah gemilang. Roy sukses mengantarkan Brest lolos ke kualifikasi Liga Champions UEFA untuk musim 2024-2025. Pencapaian ini menandai pertama kalinya dalam sejarah klub mereka akan berlaga di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa tersebut.
"Sungguh sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa sedihnya kami atas kepergian pelatih kami, Eric Roy," demikian pernyataan resmi Stade Brestois yang diunggah melalui platform X (sebelumnya Twitter). Klub menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga Roy, termasuk istri, dua orang anak, serta seluruh kerabat dan orang-orang terdekatnya.
Keluarga Eric Roy juga merilis pernyataan pribadi yang menggambarkan sosok almarhum. Mereka mengenang Roy sebagai pribadi yang "sangat baik hati, lembut, teguh, dan jujur." Ia dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam memberikan semangat, berbagi pengetahuan, serta mendorong orang lain untuk melampaui batas diri mereka sendiri dan menjadi versi terbaik dari diri mereka. Sifat menuntut, keadilan, dan kemanusiaannya menjadi ciri khas yang tak terlupakan.
Kanker pankreas memang dikenal sebagai salah satu jenis kanker yang agresif dan seringkali didiagnosis pada stadium lanjut, sehingga menyulitkan pengobatan. Perjuangan Roy selama lebih dari tiga tahun melawan penyakit ini menunjukkan ketangguhan dan semangat juangnya yang tinggi, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
Sejarah Stade Brestois yang mencetak gol pertama di ajang Liga Champions, berkat tangan dingin Eric Roy, kini akan menjadi kenangan manis sekaligus penanda warisan abadi yang ditinggalkannya. Kualifikasi Liga Champions bukan hanya pencapaian olahraga semata, tetapi juga membangkitkan optimisme dan kebanggaan bagi masyarakat Brest dan para pendukungnya.
Kepergian Eric Roy di usia yang relatif masih produktif ini tentu menjadi pukulan telak bagi Stade Brestois yang sedang berada di puncak performa. Tantangan selanjutnya bagi klub adalah bagaimana mereka dapat melanjutkan momentum positif ini tanpa kehadiran sosok pelatih yang telah memberikan kontribusi luar biasa.
Proses transisi kepelatihan di tengah musim kompetisi, apalagi setelah pencapaian historis, bukanlah hal yang mudah. Klub akan dihadapkan pada keputusan krusial dalam memilih pengganti yang mampu meneruskan visi dan filosofi permainan yang telah dibangun oleh Eric Roy. Penggemar sepak bola Prancis, khususnya pendukung Brest, akan menantikan bagaimana klub akan bangkit dari duka ini dan terus bersaing di level tertinggi.
Semangat juang dan dedikasi Eric Roy di akhir masa hidupnya, yang mampu mengukir sejarah bagi klubnya meski dalam kondisi sakit, patut menjadi inspirasi. Kisahnya akan terus dikenang sebagai pengingat akan kekuatan semangat manusia dalam menghadapi cobaan dan meraih prestasi luar biasa.











