Dunia hiburan Tanah Air kembali berduka dengan berpulangnya aktor Icuk Nugroho, yang dikenal luas melalui perannya sebagai Saep Copet dalam sinetron populer "Preman Pensiun". Aktor kelahiran 28 April 1976 ini menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (20/6/2026) pagi, di usia 50 tahun, setelah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat, Kota Cimahi, Jawa Barat, akibat sakit.
Kabar duka ini telah dikonfirmasi oleh sejumlah pihak, termasuk Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widyatmoko, serta rekan sesama pemeran "Preman Pensiun", Marco Abenk dan Dadan Rustian. Kepergian Icuk Nugroho menambah daftar panjang aktor berbakat yang pernah menghiasi layar kaca melalui serial televisi fenomenal ini, menyusul kepergian Didi Petet dan Ica Naga yang lebih dulu mendahului.
Sebelum namanya dikenal luas di kancah televisi nasional sejak tahun 2015, Icuk Nugroho telah menempuh perjalanan panjang dan penuh perjuangan dalam merintis kariernya. Sejak masa sekolah, ia sudah aktif sebagai pembawa acara karang taruna dan bahkan sempat bekerja sebagai tukang servis kompor di kawasan Brigade Infanteri 15 Cimahi. Langkah awalnya di dunia seni peran dimulai dari film lokal "Gede Rasa" yang ditayangkan di stasiun TV lokal PJTV.
Namun, titik awal karier profesionalnya di dunia akting tidaklah mulus. Icuk konsisten mengikuti berbagai audisi di Jakarta dan Bandung, meski kerap kali harus menghadapi penolakan. Perjuangan ini semakin berat ketika ia beralih menjadi pemeran figuran dengan bayaran yang sangat minim. Situasi ekonomi yang sulit bahkan sempat menyebabkan perpisahan dengan mantan istrinya pada tahun 2013.
Titik balik dalam kariernya terjadi ketika ia menunjukkan totalitas luar biasa dalam sebuah audisi untuk sinetron "Preman Pensiun". Icuk datang paling awal, bahkan sebelum audisi dimulai, sebagai wujud dedikasi dan obsesinya untuk mendapatkan peran. Peran sebagai Saep Copet inilah yang kemudian berhasil melambungkan namanya dan membuatnya dikenal oleh jutaan penonton di seluruh Indonesia.
Icuk Nugroho sendiri pernah menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh liku dalam sebuah dokumentasi wawancara digital. Ia mengungkapkan bahwa sejak duduk di bangku SMA, ia sudah didaulat menjadi Ketua Karang Taruna dan seringkali diminta menjadi MC di berbagai acara kelurahan. Pengalaman ini melatihnya untuk tidak grogi di depan umum dan memupuk rasa percaya diri yang kuat.
"Di situlah saya dididik untuk tidak grogi di depan umum. Di situlah mulai urat malu saya putus. Saya tidak punya malu, saya punya modal PD," ungkap Icuk Nugroho dalam wawancara tersebut, menggambarkan bagaimana keberanian dan modal kepercayaan diri menjadi kunci awal perjalanannya.
Setelah aktif sebagai MC, Icuk mulai merambah dunia akting dengan mendaftarkan diri pada berbagai pemilihan pemeran film dan sinetron. Namun, puluhan kali kegagalan harus ia hadapi. "Saya 20 kali ikut casting tak pernah diterima, bolak-balik Bandung-Jakarta, Bandung-Jakarta, patungan pakai mobil, berangkat. Tapi tetap bukan rezeki, dan saya juga belum pengalaman di bidang itu," kenangnya.
Pendapatan yang tidak menentu sebagai pemeran figuran baru juga menimbulkan goncangan besar dalam kehidupan rumah tangganya. Minimnya pemasukan finansial membuat keluarganya, termasuk mantan istrinya, sempat tidak mendukung keputusannya menekuni dunia seni peran. "Akhirnya keluarga tidak mendukung, karena tidak menghasilkan uang. Mantan istri saya pernah ngomong, ‘apa-apaan kaya gini enggak bakal jadi artis’," tuturnya.
Namun, tekad Icuk tak pernah padam. Ia menunjukkan motivasi tinggi dan kedisiplinan penuh ketika mengetahui adanya kesempatan audisi massal untuk proyek sinetron baru di Bandung. "Di Preman Pensiun saya datang yang pertama, tidak ada siapa-siapa masih kosong. Casting jam 8, saya jam setengah 8 sudah di situ. Saking rajin dan obsesi saya pengen jadi (aktor), (dan) menunjukkan saya juga bisa," jelasnya.
Usaha kerasnya membuahkan hasil. Ia berhasil mendapatkan peran ikonik Saep Copet setelah menerima panggilan telepon krusial dari pihak stasiun televisi pada tengah malam. Icuk menggambarkan momen tersebut sebagai sebuah firasat yang membuatnya sulit tidur. "Malamnya, dua hari kemudian ditelepon dari RCTI, jam 12 malam. Kenapa waktu itu saya tidak bisa tidur. Biasanya jam segitu udah tidur, itu firasat. Kalau saya kebablasan enggak tahu tuh, kalau enggak diangkat mungkin perannya diganti orang. Ternyata Tuhan menghendaki hal lain, saya harus mengangkat telepon itu," pungkas Icuk Nugroho.
Kepergian Icuk Nugroho meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan para penggemar "Preman Pensiun". Kehidupan dan perjuangannya menjadi inspirasi bagi banyak orang yang bercita-cita meniti karier di industri hiburan, membuktikan bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan keyakinan, impian dapat diraih meski harus melewati berbagai rintangan.











