Jakarta – Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia hari ini diharapkan menjadi momentum penting. Salah satu agenda utama yang dinanti adalah finalisasi kesepakatan pembelian sistem rudal BrahMos oleh Indonesia.
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, dalam jumpa pers pekan lalu mengonfirmasi rencana ini. Kunjungan Modi tidak hanya berfokus pada rudal, tetapi juga penjajakan nota kesepahaman di sektor kesehatan, antariksa, farmasi, dan ketahanan pangan.
Namun, topik BrahMos menjadi sorotan utama. Sistem rudal canggih buatan bersama India dan Rusia ini memang telah lama diincar oleh Indonesia. Chakravorty menambahkan, ada harapan kuat untuk menyelesaikan beberapa kesepakatan terkait BrahMos selama kunjungan tersebut.
Proses pembicaraan mengenai akuisisi sistem rudal ini memang sudah berlangsung cukup lama. BrahMos Aerospace pada tahun 2023 lalu sempat menyatakan tengah bernegosiasi lanjutan dengan Indonesia. Nilai kesepakatan yang dibidik berkisar antara US$200 juta hingga US$350 juta.
Perusahaan patungan India-Rusia ini sebelumnya juga telah menjalin kerja sama serupa dengan negara tetangga Indonesia, yaitu Vietnam dan Filipina. Hal ini menunjukkan minat regional terhadap teknologi pertahanan yang ditawarkan BrahMos.
Sebenarnya, pada Maret 2026 lalu, Indonesia dilaporkan telah menandatangani kesepakatan awal dengan India untuk mengakuisisi sistem rudal BrahMos. Juru bicara Kementerian Pertahanan RI, Rico Ricardo Sirait, kala itu mengonfirmasi hal tersebut.
Rico menjelaskan, akuisisi ini merupakan bagian dari upaya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan peningkatan kapabilitas pertahanan Indonesia. Fokus utamanya adalah memperkuat sektor maritim. Pengadaan ini juga diharapkan semakin mempererat kemitraan strategis antara kedua negara di bidang pertahanan.
Sistem rudal baru ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan penangkalan Indonesia. Hal ini penting dalam menjaga kedaulatan nasional. Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, pada 16 Desember lalu sempat menyinggung pentingnya kolaborasi teknologi canggih seperti BrahMos. Diskusi tersebut dilakukan saat bertemu dengan panglima Angkatan Laut India.
Meskipun demikian, Rico kala itu menolak mengonfirmasi nilai pasti dari kesepakatan tersebut. Ia tidak membenarkan laporan mengenai total harga rudal yang mencapai US$450 juta.
Selain isu BrahMos, pembicaraan di bidang pertahanan antara Indonesia dan India juga akan menyentuh aspek kesadaran maritim dan upaya pemberantasan pembajakan. Kunjungan PM Modi ini diharapkan membawa angin segar bagi kerja sama pertahanan kedua negara.











