Platform streaming Vidio kembali menghadirkan inovasi dengan meluncurkan program orisinal bertajuk The Scene – Living and Lifestyle in Southeast Asia. Acara ini membuka ruang bagi para kreator muda Tanah Air untuk unjuk gigi di panggung global.
Peluncuran program disambut dengan diskusi panel bertema “Shaping The Future: How Young Indonesian Drive Change”. Sesi ini mengupas tuntas bagaimana kreativitas anak muda dapat bersinergi kuat dengan identitas bangsa.
Para narasumber menyoroti tantangan adaptasi budaya modern. Mereka juga membahas cara meyakinkan masyarakat lokal akan nilai budaya luar negeri. Pemanfaatan alam sebagai inspirasi musik menjadi poin menarik lainnya. Tak lupa, kesadaran akan futurisme dalam kearifan lokal masyarakat adat juga turut dibahas.
Duo musisi elektronik Bottlesmoker dan grup tari hip hop Duo Twineester asal Aceh hadir sebagai bintang tamu. Mereka berbagi pengalaman unik dalam menghadapi stigma. Keduanya memaparkan strategi jitu mengemas tradisi agar tetap relevan di mata generasi muda.
Moderator Dinda dari DW mengawali diskusi dengan pertanyaan kepada Duo Twineester. Ia menyoroti tantangan menekuni tarian hip hop di Aceh. Alisa, salah satu personel, mengakui adanya pandangan skeptis dari masyarakat. Terlebih, Aceh dikenal dengan penegakan syariat Islam yang kuat.
Alisa menekankan bahwa tari adalah bentuk ekspresi diri yang menuntut disiplin dan tanggung jawab. Ia menjelaskan, masuk ke dunia dance di Aceh mengharuskan konsistensi dengan adat istiadat setempat. Demi menghormati aturan, mereka melakukan penyesuaian penampilan. Penggunaan pakaian longgar dan sopan menjadi salah satu strateginya.
Aliya menambahkan, meyakinkan warga lokal tentang budaya luar yang mereka usung sempat menjadi kendala. Masyarakat awalnya menganggap hip hop sebagai budaya Barat murni. Namun, Duo Twineester tidak menyerah. Mereka terus berusaha mengubah persepsi negatif melalui pendekatan positif.
Modifikasi gerakan agar lebih santun dan penyesuaian pakaian menjadi kunci. Hal ini dilakukan agar tetap sesuai dengan norma masyarakat lokal. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menjembatani perbedaan pandangan.
Beralih ke dunia musik, Bottlesmoker membagikan proses kreatif mereka yang tak kalah unik. Ryan, salah satu personel, menceritakan ketertarikan mereka pada media tak lazim untuk memproduksi suara. Inspirasi utama mereka kini datang dari tanaman, sebuah eksplorasi yang dimulai saat pandemi.
Ryan menjelaskan, penggunaan medium alam adalah bentuk terima kasih kepada lingkungan. Melalui teknologi, sinyal dari tanaman diterjemahkan menjadi komposisi musik harmonis. Ini menciptakan jalur komunikasi baru antara manusia dan alam lewat perangkat digital.
Agung, personel Bottlesmoker lainnya, berbagi momen kesadaran akan “local distance”. Ia sempat merasa tertinggal zaman jika hanya mengikuti tren global. Namun, pandangannya berubah drastis setelah mendalami kehidupan masyarakat adat Indonesia.
Ia menemukan nilai-nilai tradisional ternyata sangat modern, berkelanjutan, dan futuristik. Konsep rumah adat ramah lingkungan dan gaya hidup berkelanjutan menjadi contoh nyata. Hal ini memicu Bottlesmoker membawa unsur kearifan lokal ke dalam karya mereka.
Sebagai simbol penghormatan, mereka kerap menyertakan elemen unik seperti buah nanas. Nanas menjadi simbol tradisional penyambutan tamu yang dipadukan dengan performa modern. Ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat diinterpretasikan ulang dengan sentuhan kontemporer.
Melalui serial The Scene, penonton diajak melihat definisi ulang gaya hidup generasi muda Asia Tenggara. Program ini hadir dalam 10 episode eksklusif di Vidio. Kolaborasi Vidio dan Deutsche Welle (DW) ini menjadi wadah penting bagi talenta muda Indonesia.
