Geliat Politik Israel: Mantan Panglima Militer Gadi Eisenkot Galang Kekuatan Gulingkan Netanyahu

Heni Maulidya

Panggung politik Israel kini tengah memanas seiring dengan langkah berani yang diambil oleh mantan Kepala Staf Angkatan Darat, Gadi Eisenkot. Menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober mendatang, Eisenkot secara resmi meluncurkan kampanye nasional yang bertujuan untuk melengserkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari kursi kekuasaan. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa koalisi petahana menghadapi tantangan serius di tengah krisis kepercayaan publik yang terus meruncing.

Dalam pidato kampanyenya pada Selasa (30/6), Eisenkot menegaskan bahwa Israel saat ini berada di ambang perubahan besar. Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menulis babak baru dalam sejarah negara tersebut. Salah satu poin krusial dalam orasinya adalah seruan untuk mengakhiri apa yang ia sebut sebagai pemerintahan 7 Oktober. Istilah ini merujuk pada pemerintahan Netanyahu yang dianggap gagal mencegah serangan mendadak Hamas pada tanggal tersebut, sebuah peristiwa traumatis yang memicu agresi brutal di Jalur Gaza dan mengguncang stabilitas Timur Tengah hingga saat ini.

Eisenkot memandang bahwa kepemimpinan Netanyahu saat ini telah kehilangan arah serta minim visi dan strategi yang jelas untuk masa depan Israel. Ia menekankan perlunya sebuah pemerintahan yang jujur, bermartabat, dan mampu memberikan rasa aman bagi seluruh warga, termasuk generasi mendatang. Mantan petinggi militer ini berjanji untuk membawa perubahan mendasar jika dirinya diberikan mandat, dengan mengedepankan kepemimpinan yang lebih bertanggung jawab dalam menghadapi musuh-musuh negara.

Kritik tajam yang dilontarkan Eisenkot bukan tanpa dasar. Sebagai sosok yang memiliki latar belakang militer yang kuat, ia menyoroti kebijakan-kebijakan Netanyahu terkait perang di Jalur Gaza yang dinilai tidak efektif dan penuh polemik. Popularitas Eisenkot dan partainya, Yashar, dilaporkan terus meningkat di kalangan pemilih yang kecewa dengan penanganan konflik dan situasi keamanan nasional saat ini.

Berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru dari Chanel 12, dukungan publik terhadap partai Yashar menunjukkan tren positif dengan proyeksi perolehan 22 dari 120 kursi parlemen. Angka ini menempatkan Yashar sebagai kekuatan politik kedua terbesar di Israel, hanya terpaut tipis dari partai Likud pimpinan Netanyahu yang diprediksi meraih 24 kursi. Kesenjangan yang semakin menyempit ini menjadi bukti nyata bahwa dominasi politik Netanyahu mulai goyah dan tidak lagi setangguh periode-periode sebelumnya.

Nama Gadi Eisenkot sendiri memiliki kedekatan emosional yang mendalam dengan publik Israel, terutama setelah tragedi yang menimpa keluarganya. Anaknya, Gal Eisenkot, serta dua keponakannya gugur dalam pertempuran di Jalur Gaza. Pengalaman pribadi yang pahit ini membuat posisi tawar Eisenkot sebagai pengkritik kebijakan perang menjadi sangat kuat dan berpengaruh di mata masyarakat, terutama bagi mereka yang menuntut perubahan drastis dalam cara pemerintah mengelola konflik bersenjata.

Menariknya, Eisenkot bukan sosok asing dalam lingkaran dalam Netanyahu. Ia tercatat pernah menjadi bagian dari kabinet perang yang dibentuk setelah serangan 7 Oktober 2023. Namun, perbedaan pandangan yang tajam mengenai strategi perang dan arah kebijakan negara membuatnya memutuskan untuk mengundurkan diri pada Juni 2024. Keputusan mundur dari pemerintahan tersebut kini menjadi modal politik utamanya untuk memposisikan diri sebagai alternatif kepemimpinan yang lebih kredibel.

Situasi politik yang tidak menentu ini membuat dinamika menjelang pemilu Oktober nanti menjadi salah satu yang paling dinantikan di Israel. Berbagai jajak pendapat dari berbagai lembaga survei nasional menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam tingkat popularitas Netanyahu. Banyak warga Israel merasa bahwa kepemimpinan yang ada saat ini sudah tidak lagi mampu mewakili aspirasi publik, terutama setelah serangkaian kegagalan dalam menjaga keamanan nasional dan ketidakpastian ekonomi akibat perang yang berkepanjangan.

Desakan agar Netanyahu segera mundur tidak hanya datang dari kalangan oposisi, tetapi juga dari elemen masyarakat sipil yang merasa lelah dengan konflik yang tak kunjung usai. Bagi para pendukung perubahan, pemilu mendatang bukan sekadar pergantian kursi jabatan, melainkan referendum terhadap kebijakan pemerintah selama satu tahun terakhir yang telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah.

Kini, perhatian tertuju pada bagaimana Eisenkot akan mengemas narasi kampanye dalam sisa empat bulan menuju hari pemungutan suara. Dengan modal popularitas yang terus menanjak dan basis dukungan yang solid dari warga yang mendambakan kepemimpinan baru, Eisenkot berusaha meyakinkan pemilih bahwa ia adalah figur yang tepat untuk membawa Israel keluar dari krisis. Di sisi lain, Netanyahu dipastikan akan berupaya keras untuk mempertahankan posisinya dengan menggunakan seluruh mesin politik yang dimiliki partai Likud.

Persaingan sengit antara sang petahana dan mantan anak buahnya ini akan menjadi ujian besar bagi demokrasi Israel. Apakah narasi tentang perlunya kepemimpinan baru yang lebih jujur dan strategis akan mampu memenangkan hati mayoritas pemilih, atau justru ketegangan keamanan yang masih berlanjut akan membuat masyarakat tetap memilih stabilitas di bawah Netanyahu, semua akan terjawab pada akhir Oktober nanti. Satu hal yang pasti, masa depan Israel kini berada di persimpangan jalan yang akan ditentukan oleh pilihan rakyat di bilik suara.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All