Denpasar, Kamis (25/6/2026) – Program pemberdayaan masyarakat yang digalakkan di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali mulai menunjukkan hasil nyata dalam mendorong kemandirian ekonomi dan kapabilitas generasi muda. Festival Penjor Desa Serangan tahun ini, sebuah agenda budaya yang telah menjadi ikon lokal, kini secara penuh dikelola oleh para remaja setempat. Langkah ini menandai transisi penting dari dukungan penuh pengelola KEK Kura Kura Bali menuju kemandirian, setelah para pemuda dibekali dengan pelatihan manajemen acara yang komprehensif.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) didirikan dengan tujuan utama untuk mempercepat pengembangan ekonomi di wilayah tertentu melalui insentif fiskal dan non-fiskal, serta kemudahan regulasi. KEK Kura Kura Bali, yang berlokasi strategis di Denpasar, tidak hanya berfokus pada pengembangan infrastruktur dan investasi pariwisata, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia di komunitas sekitar. Inisiatif menjadikan Festival Penjor sebagai sarana praktik manajemen acara bagi pemuda Desa Serangan adalah manifestasi nyata dari komitmen tersebut. Program ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan, di mana masyarakat lokal menjadi bagian integral dari pertumbuhan kawasan.
Zefri Alfaruqy, Kepala Departemen Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID) – entitas pengelola KEK Kura Kura Bali – menjelaskan latar belakang program pemberdayaan ini. Menurut Zefri, pihaknya telah menjalankan program manajemen acara selama beberapa tahun terakhir, dengan Festival Penjor menjadi salah satu sarana pembekalan utama yang efektif. "Beberapa tahun belakangan kami mempunyai program event management, nah festival penjor ini salah satu pembekalannya. Sebelumnya kami yang menyelenggarakan festival, tapi tahun ini sudah yowana (kelompok pemuda)," ujar Zefri di Denpasar, Kamis (25/6/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa peran aktif para pemuda bukanlah terjadi secara instan, melainkan hasil dari proses pembinaan dan pendampingan berkelanjutan yang dilakukan oleh KEK Kura Kura Bali.
Pergeseran tanggung jawab pengelolaan acara ini bukan tanpa hasil yang gemilang. Pada gelaran festival ketiga ini, para yowana Desa Serangan telah membuktikan kapasitas mereka dengan mampu menggali potensi ekonomi dari agenda budaya tersebut secara mandiri. Keterlibatan aktif mereka dalam mencari pendanaan membuahkan hasil signifikan: mereka berhasil menggaet sepuluh perusahaan sebagai sponsor acara. Keberhasilan ini tidak hanya meringankan beban finansial KEK Kura Kura Bali, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan dan kepercayaan diri di kalangan pemuda. Mereka kini terlatih dalam negosiasi, penyusunan proposal, hingga manajemen logistik yang krusial untuk sebuah acara besar.
Di depan Pura Sakenan, yang menjadi pusat perayaan Festival Penjor, kini telah terpasang lima penjor megah yang memukau. Penjor-penjor ini, yang masing-masing dibuat dengan modal antara Rp8 juta hingga Rp10 juta, bukan hanya simbol budaya, tetapi juga objek perlombaan yang menarik perhatian ribuan pengunjung dan wisatawan. "Dua kali festival penjor sebelumnya memang 100 persen dari kami, nah yang ketiga ini karena sudah dibekali akhirnya pemuda pemudi Serangan dapat 10 sponsor cari sendiri, sekarang mereka bisa melihat potensi-potensi yang bisa dikerjasamakan," tambah Zefri, menyoroti peningkatan kemampuan pemuda dalam berjejaring, bernegosiasi, dan mengidentifikasi peluang ekonomi. Inilah bukti konkret dari keberhasilan program pemberdayaan yang dijalankan.
Festival Penjor sendiri merupakan sebuah perayaan yang kental dengan nuansa budaya Bali. Penjor adalah tiang bambu melengkung yang dihiasi dengan janur, hasil bumi, dan ornamen tradisional lainnya, umumnya didirikan sebagai persembahan dan simbol rasa syukur kepada Tuhan pada hari raya keagamaan seperti Galungan dan Kuningan. Namun, dalam konteks Festival Penjor Desa Serangan, tradisi ini dikemas menjadi sebuah acara publik yang lebih besar, menarik wisatawan dan masyarakat lokal untuk mengagumi keindahan seni budaya Bali. Mengelola festival sebesar ini tidak hanya membutuhkan pemahaman tentang tradisi, tetapi juga keterampilan logistik, promosi, dan koordinasi yang mumpuni, yang kini telah dikuasai oleh para pemuda Desa Serangan.
Program kolaborasi antara KEK Kura Kura Bali dan Desa Serangan ini diharapkan dapat menjadi model inspiratif bagi pengembangan komunitas lainnya di Bali, bahkan di tingkat nasional. Dengan memberdayakan generasi muda melalui pelatihan praktis, KEK Kura Kura Bali tidak hanya menciptakan acara budaya yang lebih hidup, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang relevan untuk menghadapi tantangan ekonomi masa depan. Kemampuan manajerial, kewirausahaan, dan adaptasi yang mereka peroleh melalui pengalaman langsung ini akan menjadi modal berharga dalam mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Desa Serangan. Inisiatif ini juga selaras dengan visi KEK untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan, di mana pengembangan kawasan tidak hanya diukur dari investasi fisik, tetapi juga dari peningkatan kualitas hidup dan kemandirian masyarakat lokal, serta memperkuat identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi.
Kesuksesan Festival Penjor Desa Serangan 2026 sebagai ajang praktik nyata manajemen acara bagi yowana menegaskan bahwa sinergi antara entitas pengelola kawasan ekonomi dan komunitas lokal mampu menciptakan dampak positif yang multidimensional. Dengan semangat kemandirian dan dukungan pembekalan yang solid, para pemuda Desa Serangan kini tidak hanya menjadi penerus tradisi dan penjaga budaya, tetapi juga agen perubahan yang mampu menggerakkan roda ekonomi lokal, menjanjikan masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan bagi desa mereka serta pariwisata Bali secara keseluruhan.
