Emas Terjun Bebas di Bawah $4.000, Dolar Perkasa dan Suku Bunga AS Jadi Biang Kerok

Wibowo

JAKARTA – Harga emas dunia untuk pertama kalinya sejak November 2025 anjlok di bawah level psikologis 4.000 dolar AS per troy ounce. Penurunan tajam ini menandai koreksi signifikan yang dipicu oleh penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi dari Federal Reserve. Investor kini mengalihkan minat dari komoditas logam mulia ini, yang sebelumnya dianggap sebagai aset safe haven utama.

Pada perdagangan terbaru di pasar spot New York, Kamis (25/6/2026) WIB, harga emas sempat jatuh hingga 3,8 persen ke level 3.960 dolar AS per troy ounce. Meskipun kemudian ditutup di kisaran 3.992,44 dolar AS per troy ounce, penurunan ini sangat mencolok. Ini merupakan koreksi lebih dari 20 persen sejak emas menyentuh level tertinggi sepanjang masa (all-time high) di sekitar 5.600 dolar AS pada akhir Januari lalu.

Analis pasar komoditas Sutopo Widodo menjelaskan kepada Kompas, dinamika pasar emas kini jauh berbeda. Jika sebelumnya kekhawatiran geopolitik sempat melambungkan harga, kini sentimen tersebut mulai memudar. Gejolak harga minyak yang sempat terjadi akibat perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, kini telah mereda.

Pada periode akhir Maret, pecahnya konflik bersenjata tersebut membuat harga minyak melambung dari di bawah 70 dolar AS per barel, hingga mencapai 90-100 dolar AS per barel sampai awal Juni lalu. Kenaikan harga energi ini sempat memicu kekhawatiran inflasi global. Namun, setelah negosiasi perdamaian AS-Iran yang meredakan ketegangan, harga minyak dunia berhasil kembali ke level 70-an dolar AS per barel, bahkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat 69 dolar AS per barel pada hari ini.

“Pecahnya konflik AS-Iran sempat melambungkan harga energi dan memicu kekhawatiran inflasi. Seiring prospek stabilisasi di Selat Hormuz, premi ‘ketakutan’ tersebut menguap dengan cepat dan memicu aksi jual (emas) massal oleh investor,” ujar Sutopo. Dengan meredanya ketegangan geopolitik, salah satu penopang utama harga emas pun turut melemah.

Selain faktor geopolitik yang mereda, emas kini menghadapi tekanan kuat dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Sinyal hawkish atau pengetatan kebijakan makro dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menjadi pemicu utama lainnya. The Fed, yang kini dipimpin Kevin Warsh, memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral akan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi.

Ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, atau yang dikenal sebagai ‘higher for longer’, sangat membebani emas. Kondisi ini meningkatkan daya tarik instrumen berbasis imbal hasil seperti obligasi pemerintah, yang menawarkan keuntungan pasti. Emas, sebagai aset non-yielding atau tidak menghasilkan bunga, menjadi kurang menarik di tengah kenaikan imbal hasil obligasi.

“Ekspektasi suku bunga tinggi higher for longer ini meningkatkan daya tarik instrumen berbasis imbal hasil seperti obligasi, sekaligus membebani emas yang bersifat non-yielding asset (tidak menghasilkan bunga),” tutur Sutopo, menjelaskan mengapa investor beralih dari emas. Kebijakan The Fed ini secara fundamental mengubah daya tarik relatif emas dibandingkan aset lain.

Faktor keperkasaan dolar AS terhadap mata uang dunia juga turut menekan pamor emas. Data Bloomberg Dollar Spot Index menunjukkan penguatan dolar ke level tertinggi dalam 14 bulan terakhir. Penguatan ini secara otomatis membuat komoditas yang berdenominasi dolar AS, termasuk emas, menjadi jauh lebih mahal bagi pemegang mata uang asing. Hal ini mengurangi permintaan dari pembeli internasional.

Selain itu, Sutopo mengamati adanya arus keluar dana investor dari produk exchange-traded funds (ETF) berbasis emas. Instrumen investasi emas ini menunjukkan absennya dukungan dari investor institusional, yang sebelumnya menjadi pendorong utama kenaikan harga. Ditambah lagi, adanya diskon harga domestik di China terhadap harga Comex New York mengindikasikan melemahnya daya serap impor dari negara konsumen emas terbesar di dunia tersebut.

Meskipun emas telah mencatatkan keuntungan dua digit dalam tiga tahun terakhir dan harganya sempat melonjak lebih dari dua kali lipat akibat masifnya pembelian, reli panjang tersebut kini kehabisan tenaga. Bloomberg melaporkan pada Rabu (24/6/2026), sejumlah bank investasi raksasa Wall Street mulai memangkas prediksi harga emas mereka dalam sepekan terakhir.

Lembaga keuangan besar seperti Goldman Sachs, misalnya, saat ini memotong proyeksi harga emas hingga akhir tahun sebesar 500 dolar AS, menjadi ke level 4.900 dolar AS per troy ounce. Deutsche Bank AG juga memangkas estimasi harga emas untuk triwulan keempat sebesar 17 persen. Deutsche Bank mencatat dukungan yang biasanya menopang pasar emas kini sudah tidak ada, tercermin dari terus terjadinya aksi jual pada dana lindung nilai berbasis emas (ETF emas).

Sutopo mengatakan, meskipun target harga akhir tahun dari berbagai institusi besar masih berada di kisaran 4.900-5.400 dolar AS per troy ounce, dalam jangka pendek, emas tengah mencari pijakan baru. “Secara teknikal, level support kritis berada di sekitar 3.930 dolar AS per troy ounce. Sementara level resisten jangka pendek yang harus ditembus untuk pemilihan berada di rentang 4.178-4.200 dolar AS per troy ounce,” kata Sutopo, memberikan gambaran teknis bagi para pelaku pasar.

Di tengah berbagai sentimen negatif yang menekan, aktivitas pembelian oleh bank-bank sentral global menjadi satu-satunya titik cerah bagi masa depan logam mulia. Head of Commodities DWS Group, Darwei Kung, meyakini bahwa tahun ini akan tetap menjadi periode yang kuat bagi pembelian emas oleh bank sentral. Institusi-institusi moneter dunia kedapatan terus menambah kepemilikan emas mereka dengan laju tercepat dalam setahun terakhir pada kuartal pertama.

Data survei juga mengindikasikan bahwa bank sentral masih berniat untuk membeli lebih banyak lagi. “Banyak bank sentral, terutama di negara-negara seperti China dan Rusia, masih melihat adanya kebutuhan mendesak untuk mendiversifikasi aset cadangan devisa mereka keluar dari dolar,” katanya. Survei Cadangan Emas Bank Sentral 2026 oleh World Gold Council (WGC) pada Januari-Mei 2026 menunjukkan 89 persen manajer cadangan devisa memperkirakan total kepemilikan emas bank sentral global akan meningkat dalam 12 bulan ke depan.

Angka ini diperkuat dengan fakta bahwa 45 persen bank sentral berencana meningkatkan cadangan emas institusi mereka sendiri dalam setahun ke depan, sebuah rekor tertinggi baru, naik dari 43 persen pada 2025. Laporan WGC juga mencatat momen bersejarah saat emas baru-baru ini melampaui obligasi Pemerintah AS sebagai aset cadangan terbesar di dunia. Diversifikasi portofolio dalam rangka menahan risiko ekonomi dan ketidakpastian mata uang utama menjadi alasan nomor satu bank sentral mengakumulasi emas.

Tren pembelian emas oleh bank sentral ini kini meluas ke bank sentral baru yang sebelumnya tidak aktif, termasuk Indonesia, Malaysia, Guatemala, dan El Salvador. Tidak hanya pasar berkembang, sebanyak 18 persen bank sentral dari negara maju juga berencana menambah kepemilikan emas mereka. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran strategis dalam manajemen cadangan devisa global, di mana emas kembali dipandang sebagai penyeimbang risiko yang krusial.

Dengan demikian, pasar emas global kini berada di persimpangan jalan, di mana tekanan makroekonomi dari penguatan dolar dan suku bunga AS yang tinggi beradu dengan permintaan institusional yang kuat dari bank sentral. Investor ritel dan institusi lainnya mungkin merasakan dampak koreksi harga, namun dukungan dari bank sentral bisa menjadi bantalan penting bagi logam mulia ini di tengah gejolak pasar yang tak menentu.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All