Donald Trump Puji Sikap Netral Erdogan dalam Konflik AS-Iran

Heni Maulidya

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pujian kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan atas sikapnya yang tidak terlibat dalam konflik antara AS dan Iran. Trump menyebut Erdogan sebagai pemimpin yang kuat dan kooperatif dalam merespons permintaannya terkait situasi geopolitik di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya di Ruang Oval Gedung Putih pada Rabu (1/7), Trump mengakui sempat meminta Erdogan untuk menahan diri dari intervensi dalam ketegangan AS dengan Teheran. Menurut Trump, ada kekhawatiran sebelumnya bahwa Turki bisa saja memihak Iran mengingat hubungan keduanya yang cukup kompleks serta ketidaksukaan Erdogan terhadap Israel.

Trump mengungkapkan bahwa Erdogan adalah kandidat utama yang berpotensi ikut campur dalam perang tersebut. Namun, pemimpin Turki itu memilih untuk tidak ikut campur sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh pihak Amerika Serikat.

Presiden AS ke-45 itu pun menegaskan bahwa segala sesuatu yang ia minta kepada Erdogan sejauh ini selalu dipenuhi. Ia memuji sosok Erdogan sebagai pemimpin hebat yang memiliki pendirian tegas di panggung internasional.

Di sisi lain, Turki sendiri tidak pernah memberikan sinyal resmi untuk bergabung dalam konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Bahkan, selama periode konflik tersebut, Turki justru sempat tercatat menjadi sasaran serangan dari pihak Iran.

Pujian Trump ini muncul di tengah memanasnya retorika Erdogan terhadap kebijakan Israel. Baru-baru ini, Erdogan kembali mengecam agresi Israel yang dianggap mengancam keamanan dunia, termasuk Turki, terutama setelah eskalasi militer di Lebanon dan Suriah.

Hubungan bilateral antara Turki dan Israel yang sempat menjadi salah satu yang terkuat di Timur Tengah memang terus merosot sejak Erdogan berkuasa. Situasi semakin memburuk pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu agresi besar-besaran Israel ke Jalur Gaza.

Selain membahas soal Iran, Trump juga menyinggung potensi penjualan senjata canggih ke Turki, termasuk pesawat tempur siluman F-35. Ia mengisyaratkan akan melakukan langkah yang bisa membuat Ankara senang, meski proses tersebut melibatkan birokrasi Kongres Amerika Serikat.

Turki sebelumnya telah dikeluarkan dari program pengembangan F-35 oleh AS pada tahun 2019. Keputusan itu diambil setelah Ankara tetap bersikeras membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia.

Hukum di Amerika Serikat memang melarang pengoperasian sistem S-400 bagi negara yang ingin terlibat dalam program F-35. Namun, Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, menyatakan bahwa komunikasi antara Trump dan Erdogan saat ini menjadi yang paling produktif dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All