Dominasi Dolar AS Terancam, Bank Sentral Dunia Mulai Lirik Aset Alternatif

Yohanes

Status dolar Amerika Serikat sebagai mata uang cadangan utama dunia kini menghadapi tantangan serius. Sebuah survei terbaru yang dirilis oleh Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) mengungkapkan pergeseran strategis di kalangan bank sentral dunia yang mulai berencana mengurangi alokasi aset dalam mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Langkah ini dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik serta ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang dinilai semakin menekan stabilitas pasar global.

Laporan yang diterbitkan oleh lembaga pemikir berbasis di London tersebut menyoroti tren bahwa jumlah bank sentral yang ingin memangkas cadangan dolar AS kini lebih banyak dibandingkan mereka yang berencana menambahnya dalam satu dekade mendatang. Survei ini melibatkan responden kunci yang mencakup bank sentral, dana pensiun publik, hingga lembaga pengelola dana kekayaan negara atau sovereign wealth funds. Secara kolektif, para investor publik ini mengelola aset dengan nilai fantastis yang mencapai US$10 triliun.

Ekonom Senior OMFIF, Yara Aziz, menegaskan dalam laporannya bahwa asumsi lama yang meyakini investor publik dapat menunggu kondisi ekonomi global kembali normal kini dianggap tidak lagi realistis. Volatilitas pasar yang semakin tinggi dipandang sebagai kondisi permanen, memaksa para pengelola cadangan devisa untuk mencari pendekatan baru yang lebih adaptif, termasuk dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau AI dalam pengelolaan portofolio mereka.

Meski dolar AS masih menunjukkan ketangguhan dengan penguatan sekitar 3 persen sepanjang tahun ini, posisi hegemoninya mulai retak. Kekuatan dolar saat ini memang masih ditopang oleh tingginya suku bunga AS, minat investor terhadap aset-aset berbasis dolar, serta arus modal yang mencari pelabuhan aman akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Namun, fakta di lapangan menunjukkan sekitar 79 persen bank sentral dan 60 persen dana publik mulai meyakini bahwa sistem moneter global sedang bergeser menuju dunia yang lebih multipolar.

Fenomena dedolarisasi ini terlihat dari peningkatan porsi mata uang di luar delapan mata uang utama dunia dalam cadangan devisa global. Bank sentral kini mulai melirik diversifikasi ke mata uang seperti krone Norwegia, dolar Selandia Baru, hingga poundsterling Inggris. Meski euro dan yuan China tetap menjadi bagian dari rencana penambahan cadangan, kedua mata uang tersebut dinilai masih menghadapi tantangan struktural yang menghambat peran dominannya sebagai pengganti dolar. Kendati demikian, yuan tetap dianggap sebagai instrumen diversifikasi portofolio yang sangat efektif oleh hampir seluruh responden.

Di tengah ketidakpastian tersebut, emas kembali menegaskan posisinya sebagai primadona dalam strategi pengelolaan cadangan devisa. Logam mulia ini kini dimiliki oleh 82 persen bank sentral di dunia setelah mencetak serangkaian rekor harga tertinggi. Dalam jangka pendek, emas menjadi aset yang paling banyak diincar untuk ditambah kepemilikannya. Secara neto, sekitar 30 persen responden survei berencana meningkatkan alokasi emas dalam satu hingga dua tahun mendatang sebagai bentuk perlindungan nilai dari gejolak ekonomi.

Pergeseran minat ini menjadi catatan sejarah tersendiri bagi OMFIF, karena ini adalah kali pertama survei mereka menunjukkan tren penurunan minat secara konsisten terhadap dolar AS. Perdebatan mengenai masa depan dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia tidak lagi sekadar wacana, melainkan telah menjadi keputusan strategis bagi banyak otoritas moneter. Ketidakpastian kebijakan Washington menjadi katalis utama yang mempercepat langkah bank sentral untuk mencari alternatif aset yang lebih aman dan terukur.

Selain diversifikasi mata uang dan logam mulia, para pengelola dana publik juga mulai menunjukkan pergeseran minat terhadap kelas aset fisik. Hampir 60 persen responden berencana meningkatkan alokasi ke sektor infrastruktur dan properti dalam waktu dekat. Strategi ini diambil untuk menjaga nilai aset di tengah fluktuasi pasar keuangan global yang sulit diprediksi.

Menariknya, persepsi terhadap pasar negara berkembang juga mengalami perubahan signifikan. Sebanyak 38 persen dana publik global kini menyatakan rencana untuk meningkatkan investasi di pasar negara berkembang, sebuah peningkatan yang cukup tajam dari angka 27 persen pada tahun sebelumnya. Minat ini bahkan melampaui antusiasme investasi di negara maju yang justru mengalami penurunan dari 47 persen menjadi 25 persen.

Pasar Amerika Serikat dan China tetap memegang peranan vital dalam strategi investasi global, sebagian besar didorong oleh peran kedua negara tersebut sebagai motor utama dalam ledakan perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Meskipun terdapat upaya untuk mengurangi ketergantungan pada dolar, posisi kedua negara tersebut sebagai raksasa ekonomi dunia tetap menjadi faktor yang sulit diabaikan oleh para investor institusi.

Secara keseluruhan, temuan OMFIF ini memberikan sinyal kuat bahwa lanskap keuangan global sedang mengalami transformasi mendasar. Meskipun dolar AS masih menjadi mata uang dominan saat ini, tekanan dari ketidakpastian geopolitik dan keinginan untuk memiliki portofolio yang lebih terdiversifikasi telah mendorong bank sentral di berbagai negara untuk lebih berhati-hati. Dunia tampaknya sedang bergerak menjauh dari ketergantungan tunggal, menuju sistem moneter yang lebih beragam dan tahan terhadap guncangan eksternal di masa depan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All