Dolar AS Menggila, Mata Uang Asia Kompak Rontok Termasuk Rupiah

Emanuel

Seluruh mata uang di kawasan Asia berada dalam tekanan berat pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Sentimen negatif global membuat indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali perkasa, yang pada akhirnya memicu aksi jual masif terhadap mata uang negara-negara Asia, termasuk Rupiah. Kondisi ini mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve atau The Fed.

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.45 WIB, sebanyak 10 mata uang utama Asia yang dipantau kompak melemah di hadapan greenback. Won Korea Selatan mencatatkan pelemahan paling dalam sebesar 0,65% ke posisi KRW 1.557 per dolar AS. Rupiah menempati posisi kedua sebagai mata uang dengan koreksi terdalam setelah melemah 0,53% ke level Rp17.970 per dolar AS. Dengan angka tersebut, mata uang Garuda kini semakin terperosok mendekati level psikologis krusial di angka Rp18.000 per dolar AS.

Tren negatif ini tidak hanya menjangkiti Won dan Rupiah. Peso Filipina juga mengalami tekanan jual yang cukup tajam, terkoreksi 0,42% menjadi PHP 61,580 per dolar AS. Diikuti oleh Baht Thailand yang melemah 0,30% ke posisi THB 33,34 per dolar AS, serta Dong Vietnam yang turun 0,24% ke level VND 26.319 per dolar AS. Sementara itu, Ringgit Malaysia menyusul di zona merah dengan pelemahan 0,20% ke level MYR 4,090 per dolar AS.

Mata uang kawasan lainnya seperti Dolar Singapura dan Dolar Taiwan juga tak luput dari tren pelemahan ini, masing-masing turun 0,19% dan 0,16%. Yen Jepang, yang belakangan menjadi sorotan dunia, melemah 0,14% ke posisi JPY 162,76 per dolar AS. Meski persentase pelemahannya tidak sedalam mata uang Asia lainnya, posisi Yen saat ini berada pada titik terlemahnya dalam empat dekade terakhir atau sejak 1986. Yuan China pun turut tertekan tipis sebesar 0,11% ke posisi CNY 6,7927 per dolar AS.

Kompaknya pelemahan mata uang Asia ini dipicu oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) di pasar global. Pada pukul 09.45 WIB, DXY yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,12% ke level 101,311. Indeks dolar kembali menunjukkan tajinya setelah sempat mengalami koreksi pada awal pekan ini. Investor saat ini sedang menahan diri dan bersikap wait and see sembari menunggu rilis data tenaga kerja bulanan AS yang dianggap sebagai indikator vital bagi stabilitas ekonomi Amerika.

Data tenaga kerja tersebut diproyeksikan akan memberikan petunjuk konkret mengenai kekuatan pasar kerja domestik AS sekaligus menjadi acuan utama bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga mereka. Selain data tersebut, dolar AS juga mendapatkan katalis positif dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury AS tenor 10 tahun tercatat naik sekitar 10 basis poin pada perdagangan sebelumnya, yang membuat aset berbasis dolar AS kembali menjadi instrumen investasi yang lebih menarik bagi para pelaku pasar global.

Di sisi lain, fundamental ekonomi AS menunjukkan sinyal yang cukup kuat, terutama dari sektor tenaga kerja. Data yang dirilis pada Selasa menunjukkan bahwa jumlah lowongan kerja di AS pada Mei naik menjadi 7,594 juta, meningkat 9.000 dari bulan sebelumnya. Angka ini secara signifikan melampaui ekspektasi pasar yang hanya memprediksi angka di kisaran 7,296 juta. Selain itu, data bulan April juga direvisi naik menjadi 7,585 juta.

Kuatnya data lowongan kerja ini mengindikasikan bahwa permintaan tenaga kerja di Amerika Serikat masih cukup solid meskipun terdapat indikasi bahwa laju perekrutan mulai melambat. Kondisi ekonomi yang tangguh ini memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap kebijakan moneternya yang ketat dalam jangka waktu yang lebih lama. Pada pertemuan Juni lalu, The Fed telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,50% hingga 3,75%. Namun, para pejabat The Fed sempat memberikan sinyal bahwa potensi kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka lebar sepanjang tahun ini.

Ketidakpastian ini semakin dipertegas oleh data dari CME FedWatch Tool. Pelaku pasar saat ini memperhitungkan probabilitas sebesar 33,70% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Juli mendatang. Sementara itu, mayoritas pasar dengan peluang 66,30% masih meyakini bahwa bank sentral AS akan memilih untuk menahan suku bunga di level saat ini.

Di luar dinamika kebijakan moneter, para investor global juga masih mencermati perkembangan geopolitik, khususnya terkait upaya pembicaraan damai antara AS dan Iran di Qatar. Meski belum ada ekspektasi akan adanya negosiasi langsung antara kedua belah pihak, harapan akan tercapainya gencatan senjata jangka panjang terus dipantau sebagai faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

Hingga penutupan perdagangan, tekanan terhadap mata uang Asia diprediksi masih akan berlanjut selama indeks dolar AS belum menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang signifikan. Bagi pasar keuangan Indonesia, pergerakan Rupiah yang semakin mendekati angka Rp18.000 menjadi perhatian utama para pelaku pasar dan otoritas moneter. Ketahanan ekonomi regional kini tengah diuji oleh dominasi dolar AS yang dipicu oleh data ekonomi Amerika yang di luar ekspektasi, memaksa seluruh mata uang di kawasan Asia untuk tetap waspada terhadap volatilitas lebih lanjut di tengah penantian keputusan besar The Fed akhir bulan ini.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All