Piala Dunia 2026 mendatang tak hanya memicu antusiasme penggemar sepak bola, tetapi juga memunculkan kembali perdebatan hangat mengenai keseimbangan antara karier profesional pesepak bola dan momen fundamental kehidupan keluarga. Situasi yang dihadapi Jeremy Doku, penyerang muda Belgia, menjadi sorotan utama. Doku berpotensi melewatkan babak perempat final jika timnya berhasil melaju, karena tanggal perkiraan kelahiran anak pertamanya jatuh pada minggu kedua bulan Juli, bertepatan dengan jadwal krusial turnamen akbar tersebut.
"Jika Anda bertanya apa yang saya inginkan, jawaban saya adalah tidak ada yang ingin melewatkan kelahiran anak pertama mereka," ujar Doku, 24 tahun, kepada Reuters. Namun, ia menyadari kompleksitas situasi tersebut. "Saya tahu sepak bola melibatkan banyak pertimbangan lain. Saya tahu federasi mendukung para pemainnya dan memahami situasi mereka. Kita lihat saja apa yang bisa kita lakukan." Keputusan ini tentu tidak mudah bagi Doku, yang telah menunjukkan performa impresif di beberapa pertandingan sebelumnya. Ia bermain penuh selama 86 menit dalam laga pembuka Belgia melawan Mesir yang berakhir imbang 1-1, namun absen pada pertandingan berikutnya melawan Iran karena sakit.
Dukungan bagi Doku datang dari berbagai kalangan. Striker Inggris, Ollie Watkins, yang sudah memiliki dua anak, menyatakan dukungannya secara gamblang. "Saya pikir ada yang melabelinya menjijikkan, dan menurut saya itu bukan cara untuk melabeli sebuah kelahiran," kata Watkins. Ia menekankan betapa berharganya momen menyambut anak pertama ke dunia. "Ini hanya terjadi sekali – menyambut anak pertama Anda ke dunia – dan itu adalah sebuah berkah. Ada begitu banyak waktu di mana Anda jauh dari keluarga dan teman-teman selama musim kompetisi, dan itu sangat sulit, jadi melewatkannya akan terasa berat dan saya mengerti dari mana dia berasal."
Asosiasi Pesepak Bola Profesional (PFA) juga angkat bicara, menegaskan bahwa tuntutan yang dibebankan pada pemain seharusnya tidak mengorbankan "momen keluarga yang fundamental." Juru bicara PFA menyatakan, "Meskipun setiap situasi berbeda, kami percaya pemain harus didukung dalam menyeimbangkan tanggung jawab profesional mereka dengan peristiwa penting dalam hidup. Mendukung pemain sebagai pribadi, bukan hanya atlet, adalah bagian penting dari menciptakan lingkungan kerja profesional yang sehat."
Pandangan serupa datang dari Fatherhood Institute, sebuah organisasi yang mendukung peran ayah sebagai pengasuh utama. Deputi Kepala Eksekutif Jeremy Davies mengatakan kepada BBC Sport, "Ini membuat saya teringat pada gladiator di Colosseum. Kita ingin mereka menjadi sosok pahlawan yang ada untuk hiburan kita. Mereka dibayar mahal, tetapi ada beberapa hal yang nilainya jauh lebih berharga." Pernyataan ini menyoroti ekspektasi masyarakat terhadap pesepak bola sebagai hiburan, terkadang mengesampingkan sisi kemanusiaan mereka.
Peraturan FIFA sendiri memberikan perhatian lebih pada cuti melahirkan bagi pesepak bola putri, dengan ketentuan minimal 14 minggu cuti berbayar, delapan di antaranya wajib setelah kelahiran. Namun, tidak ada regulasi spesifik mengenai cuti ayah (paternity leave) bagi pemain pria. Hal ini memaksa mereka yang berada di dunia sepak bola pria untuk menavigasi sendiri antara tuntutan karier dan kewajiban keluarga.
Fenomena ini bukan hal baru di dunia sepak bola. Ada kisah klub yang menyiapkan mobil siaga di luar stadion untuk pemain yang pasangannya akan segera melahirkan. Bahkan, seorang manajer di klub papan atas Eropa pernah memilih untuk tidak mendampingi timnya bertanding demi mendampingi sang istri yang akan melahirkan anak kedua. Ia menyaksikan pertandingan dari rumah dan memberikan instruksi melalui telepon. "Saya ada di earpiece dengan staf pelatih dan 10 menit setelah pertandingan dimulai, dia mulai merasakan kontraksi," kenang manajer tersebut. "Kami unggul 2-1 saat jeda, tetapi persalinannya semakin intens. Saya menelepon rumah sakit untuk mengatakan kami akan datang, tetapi harus berhenti karena kami mendapat penalti. Kami mencetak gol, saya tahu kami memenangkan pertandingan, dan kami langsung menuju rumah sakit. Putri kami lahir dua jam kemudian." Ia menambahkan, "Ini lebih jarang terjadi pada manajer karena biasanya mereka lebih tua, tetapi permainan tidak berhenti… Anda perlu memenangkan pertandingan berikutnya."
Sejarah mencatat beberapa pemain bintang yang memilih mendahulukan kelahiran anak mereka. Pada Piala Dunia 2018, Fabian Delph meninggalkan kamp latihan timnas Inggris di Rusia untuk kembali ke Inggris demi kelahiran putrinya. David Silva juga pernah melewatkan dua pertandingan Manchester City akibat kelahiran prematur putranya pada tahun 2018. Kiper legendaris Manchester United, David de Gea, mendapatkan cuti yang diperpanjang selama pandemi COVID-19 saat pasangannya melahirkan putri mereka pada tahun 2021.
Namun, ada pula cerita yang menunjukkan sisi lain dari dilema ini. Belum lama ini, bek Norwegia, Leo Østigård, harus menyaksikan kelahiran putranya melalui panggilan video (FaceTime) saat berada di Piala Dunia. Pengalaman serupa juga dialami Ruben Neves pada Januari 2021. Ia terpaksa menyaksikan kelahiran anak ketiganya melalui ponsel dari bus tim Wolves setelah kekalahan 1-0 melawan Crystal Palace. Istrinya kembali ke Portugal karena dokter kandungannya berada di sana, tetapi rencana Neves untuk menyusul terhambat oleh pembatasan perjalanan akibat pandemi.
Situasi Jeremy Doku di Piala Dunia 2026 kembali membuka diskusi penting tentang bagaimana sepak bola profesional, yang semakin mendunia dan menuntut komitmen tinggi, dapat lebih akomodatif terhadap kebutuhan fundamental para pemainnya sebagai manusia dan sebagai ayah. Perdebatan ini tidak hanya menyangkut Doku, tetapi juga menjadi cerminan tantangan yang dihadapi banyak pesepak bola dalam menyeimbangkan ambisi karier dengan peran penting dalam keluarga, terutama saat momen-momen tak tergantikan seperti kelahiran anak pertama.











