Dari Ibu Rumah Tangga Menjadi Pemenang Penghargaan Sastra Bergengsi, Kisah Inspiratif Ratna Damayanti Taha

Heni Maulidya

Ratna Damayanti Taha, seorang ibu rumah tangga berusia 44 tahun, berhasil meraih penghargaan bergengsi Epigram Books Fiction Prize 2026 berkat novel perdananya, "Mind The Gap". Kemenangan ini bukan hanya membawa hadiah S$25.000 dan kontrak penerbitan, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa impian bisa terwujud melalui dedikasi dan ketekunan, bahkan di tengah kesibukan rumah tangga.

Setiap hari kerja, dari Februari hingga Juni 2025, Ratna meluangkan tiga jam waktunya, dimulai pukul 09.00 pagi, untuk menekuni naskahnya. Duduk di meja dapur dengan secangkir kapucino tanpa gula dan banyak susu, ia tenggelam dalam dunia novel yang digarapnya. "Mind The Gap" mengisahkan perjalanan Nora, seorang gadis Melayu yang introspektif, yang tumbuh dewasa seiring dengan perkembangan jaringan Mass Rapid Transit (MRT) Singapura dari tahun 1990-an hingga kini. Kisah Nora bergulat dengan isu meritokrasi, ras, dan pencarian jati diri di tengah perubahan kota.

Momen yang paling berkesan bagi Ratna bukanlah pengumuman kemenangan, melainkan saat ia menyerahkan naskah novelnya ke kantor Epigram Books di Toa Payoh North pada Juli 2025. Setelah menyerahkan lima salinan manuskrip dalam tas jinjingnya, Ratna duduk di area parkir terbuka di samping gedung. Di bawah terik matahari Singapura yang cerah, ia menangis tersedu-sedu. Perasaan lega karena berhasil menyelesaikan sebuah karya besar, disusul kebahagiaan karena impian masa kecilnya terwujud, membanjirinya. "Saya benar-benar diliputi berbagai emosi," ujar Ratna, ibu dari empat anak yang juga aktif sebagai akademisi paruh waktu, peneliti pasar, dan penerjemah lepas.

Kecintaan Ratna pada cerita berakar kuat sejak masa kecil. Ayahnya yang bekerja dengan sistem shift sering menuturkan kisah-kisah spontan sebagai pengantar tidur. Ibunya, yang belajar bahasa Inggris secara otodidak melalui perpustakaan umum, juga berperan besar dalam menumbuhkan minat literasi. Ibu Ratna gemar membaca novel, buku masak, hingga buku anak-anak, serta berlatih pelafalan dengan tetangga dan menonton acara edukatif seperti Sesame Street dan The Electric Company bersama Ratna.

Titik balik dalam kepercayaan diri Ratna sebagai penulis terjadi saat ia duduk di bangku Primary 5 (setara kelas 5 SD). Gurunya, Ibu Irene De Silva, menerapkan sistem membacakan karangan siswa terbaik di depan kelas. Ketika esai alegori Ratna tentang "singa tua" yang menjaga wilayahnya (sebuah representasi Perdana Menteri pendiri Singapura, Lee Kuan Yew) terpilih, Ratna merasa mendapatkan pengakuan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Pengalaman ini semakin diperkuat di sekolah menengah berkat guru bahasa Melayu, Ibu Roziyah. Saat Ratna dan teman-temannya mengusulkan sebuah proyek drama komprehensif, mulai dari menulis naskah hingga menjual tiket, mereka justru mendapat dukungan penuh. "Proyek seperti itu fundamental bagi saya," kata Ratna, "Membuat saya jauh lebih percaya diri di bidang seni kreatif." Ibu Roziyah juga mengajarkan pentingnya memandang kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Ia pernah memberikan catatan pada karangan Ratna yang mendapat nilai rendah, "Cerita ini akan sangat bagus jika dikembangkan lebih jauh; saya tunggu." Ajaran ini menanamkan keyakinan bahwa tidak apa-apa jika tulisan tidak selalu sempurna, dan yang terpenting adalah terus berusaha.

Selama bertahun-tahun, ide-ide fiksi Ratna terpecah dalam fragmen-fragmen berbahasa Inggris dan Melayu, mulai dari puisi untuk anak-anaknya hingga catatan tentang orang-orang yang ia temui. Ia menulis utamanya untuk memahami dunia di sekelilingnya. Pada 2018, Ratna menyimpan tautan pendaftaran Epigram Books Fiction Prize di penanda perambannya, meskipun saat itu belum memiliki satu naskah utuh.

Cerita lengkap pertamanya mulai terbentuk di masa pandemi COVID-19. Ayahnya yang merasa terisolasi selama pembatasan sosial dan kebingungan dengan aplikasi digital seperti TraceTogether, menjadi inspirasi. Ratna sering menelepon ayahnya, mendengarkan cerita masa mudanya dan pengalamannya mengangkut jemaah haji. "Saya ingin merekam pengalaman beliau untuk generasi mendatang," ujar Ratna, yang menemukan detail-detail unik dari obrolan tersebut yang tidak ditemukan di buku sejarah.

Dari obrolan itu, lahir sebuah cerpen berbahasa Melayu tentang keterasingan lansia di masa pandemi, yang mengisahkan persahabatan tak terduga antara seorang pria lanjut usia dan remaja penyandang autisme. Cerpen ini kemudian memenangkan Golden Point Award kategori cerita pendek bahasa Melayu pada 2021, yang menjadi "TBRO" (to-be-read-out) versi dewasanya. Pengakuan di panggung nasional ini semakin memupuk kepercayaan dirinya untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi: menulis novel.

Ide untuk "Mind The Gap" bermula dari observasi Ratna terhadap para penumpang di MRT, membayangkan kehidupan mereka. Pengamatan ini membawanya kembali ke masa remajanya di tahun 1990-an, membentuk inti novelnya. Sebagai penulis debutan, Ratna memilih pendekatan realisme dengan sudut pandang seorang gadis Melayu di Singapura. Salah satu pertimbangan utamanya adalah representasi. Ia menyadari bahwa anak-anaknya, meski gemar membaca, jarang menemukan tokoh utama yang bisa mereka jadikan cerminan diri.

Melalui "Mind The Gap", Ratna ingin memberikan kontribusi kecil bagi suara kritis masyarakat Melayu, agar kisah mereka tidak hanya muncul saat Racial Harmony Day atau sekadar menjadi simbol keberagaman yang dangkal. Kesadaran akan pentingnya representasi ini berakar dari pengalaman pribadinya sebagai seorang Muslimah yang identitasnya kerap menimbulkan berbagai asumsi di ruang publik. Ia mengenang pertanyaan seorang wanita Tionghoa lansia yang meragukan kewarganegaraannya, sebuah pengalaman sehari-hari yang ingin ia tuangkan dalam tulisannya. "Sebagai penulis, ini cara saya mengatakan: jika kita tahu sesuatu itu stereotip, mari kita bicarakan. Beri orang kesempatan sebelum terburu-buru menarik kesimpulan," katanya.

Perjalanan menulis Ratna tidak lepas dari cobaan. Titik terendah terjadi pada tahun 2023 ketika ayahnya meninggal dunia di usia 78 tahun. Duka yang mendalam membuatnya berhenti menulis selama hampir setahun. "Begitu banyak yang saya rasakan, tanpa tahu bagaimana menempatkannya," ujarnya. Setelah perlahan melewati masa berkabung dan merenungkan warisan ayahnya, Ratna akhirnya bisa kembali menulis. Ia sempat berucap lirih, "Andai saja saya bisa bilang ke ayah saya bahwa saya sudah menyelesaikan buku ini."

Memasuki usia 30-an, Ratna sempat merasakan goyah pada kepercayaan dirinya terkait pilihan hidup. Masyarakat seringkali menetapkan jalur hidup tertentu, dan ketika seseorang tidak mengikutinya, pertanyaan pun muncul. "Kamu kan punya gelar master, yakin mau jadi jadi ibu rumah tangga?" atau "Kamu kan kerja di bidang komunikasi, yakin mau pakai jilbab?" Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuinya. Suaminya, seorang insinyur, menjadi jangkar yang mendorongnya untuk merenungkan tujuan hidupnya. Jawabannya sederhana: menjadi orang baik, bermanfaat, dan hidup bahagia. Ia menyadari bahwa ia mencintai perannya sebagai ibu rumah tangga dan merasa cukup ketika melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik. "Kita harus mengukur kesuksesan dengan standar kita sendiri, bukan berdasarkan definisi sukses orang lain," tegasnya.

Pada malam penganugerahan Epigram Books Fiction Prize Januari 2026, Ratna tak menyangka akan menjadi pemenang. Ia telah melewati dua tahap seleksi ketat, masuk daftar panjang dari lebih dari 50 karya dari seluruh Asia Tenggara, dan menjadi salah satu dari empat finalis. Baginya, sekadar masuk daftar pendek yang menjamin kontrak penerbitan sudah merupakan kemenangan besar. Ketika namanya diumumkan sebagai pemenang, ia merasa paiseh (malu dalam dialek Hokkien) sekaligus diakui, seolah kembali merasakan momen "TBRO" masa kecilnya.

Kini, dengan kepercayaan diri yang kian menguat, Ratna bangga dengan kemampuannya mempercayai suaranya sendiri dalam menulis cerita-cerita realisme sosial. "Itu adalah suara Ratna," katanya. Pesannya bagi para penulis yang berjuang di sela kesibukan adalah untuk menyimpan setiap fragmen pengalaman, karena kekacauan hidup justru merupakan bahan mentah yang berharga bagi proses berkarya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All