Chelsea Kucurkan Rp520 Miliar demi Granit Xhaka, Permintaan Khusus Xabi Alonso di Tengah Penolakan Sunderland

Danu Ilham

Chelsea dikabarkan tengah menyiapkan tawaran fantastis sebesar 30 juta euro atau setara Rp520 miliar (kurs Rp17.340) untuk memboyong gelandang Sunderland, Granit Xhaka. Langkah agresif ini merupakan respons atas permintaan khusus dari calon manajer baru mereka, Xabi Alonso, yang akan resmi menukangi The Blues mulai 1 Juli mendatang.

Xabi Alonso, yang segera memulai era kepelatihannya di Stamford Bridge, mendesak manajemen klub agar segera menuntaskan kepindahan pemain internasional Swiss tersebut. Permintaan ini tidak terlepas dari rekam jejak kolaborasi sukses keduanya di Bayer Leverkusen, di mana mereka berhasil merayakan gelar juara Bundesliga dan DFB-Pokal pada musim 2023/2024. Kebersamaan di Jerman membentuk ikatan kuat dan pemahaman taktis yang mendalam antara pelatih dan pemain.

Granit Xhaka, yang kini berusia 33 tahun, pindah ke Sunderland dari Leverkusen pada musim panas 2025 dengan nilai transfer 17,3 juta poundsterling. Sejak kedatangannya, ia langsung menjelma menjadi pilar penting di lini tengah tim berjuluk The Black Cats tersebut. Musim lalu, Xhaka tampil impresif dalam 32 pertandingan sebagai starter di Liga Inggris, menyumbangkan satu gol dan enam assist. Kontribusinya turut mengantar Sunderland finis di peringkat ketujuh klasemen Liga Inggris, sekaligus mengamankan tiket ke Liga Europa.

Meski Chelsea telah menyiapkan tawaran menggiurkan, jalan menuju kesepakatan tidak akan mudah. Media terkemuka seperti Sky Sport Germany dan Blick melaporkan bahwa Xhaka telah mencapai kesepakatan verbal mengenai persyaratan pribadi dengan Chelsea. Namun, di sisi lain, pihak Sunderland melalui football.london menegaskan sikap tegas mereka. Klub tersebut menyatakan tidak akan meladeni tawaran apa pun untuk sang kapten, mengingat Xhaka masih terikat kontrak jangka panjang hingga 2028.

Jurnalis Italia Luca Cerchione melalui akun media sosial X miliknya mengonfirmasi bahwa Granit Xhaka adalah target utama Xabi Alonso. "Chelsea on Granit Xhaka: express request from Xabi Alonso, his former coach at Leverkusen," tulis Cerchione, menekankan betapa krusialnya transfer ini bagi Alonso. Cerchione juga menambahkan bahwa tawaran awal 30 juta euro adalah langkah konkret pertama yang disiapkan oleh manajemen klub London Barat tersebut. "Blues’ first offer: 30 million euros," tambahnya.

Rasa hormat yang tinggi ditunjukkan Xhaka terhadap metode kepelatihan Alonso selama masa kebersamaan mereka di Jerman. Ia memuji pendekatan Alonso yang adil dan berdasarkan meritokrasi. "Dia bukanlah pelatih yang melihat nama atau status pemain, dalam hal siapa yang lebih tua atau lebih muda, atau siapa yang telah bermain lebih banyak," kata Granit Xhaka, kapten Sunderland.

Xhaka menjelaskan bagaimana Alonso mampu mengelola skuad secara merata, memberikan kesempatan kepada setiap pemain berdasarkan performa latihan mereka. "Selama seminggu, dia memikirkan siapa yang pantas bermain di akhir pekan karena mereka berlatih dengan baik. Dia memberikan setiap pemain kesempatan untuk membuktikan pentingnya mereka bagi tim," ujar Xhaka. Ia menambahkan bahwa mengelola beragam karakter, kebangsaan, dan bahasa dalam tim bukanlah hal mudah, namun Alonso mampu melakukannya dengan baik.

Mantan penggawa Arsenal ini juga menilai pengalaman Alonso sebagai mantan pemain kelas dunia sangat membantu dalam membangun kepercayaan diri tim. "Tapi dia memiliki pengalaman ini sebagai pemain untuk memberikan kepercayaan diri kepada semua orang. Itulah mengapa kami tampil seperti ini juga," tambah Xhaka, menggarisbawahi dampak positif Alonso di ruang ganti.

Di tengah spekulasi transfer ke Chelsea, performa impresif Xhaka bersama Sunderland juga menarik perhatian dari klub lain, termasuk mantan pemain Manchester United, Peter Schmeichel. Melalui siniar "The Good, The Bad & The Football", Schmeichel secara terbuka menyarankan agar Setan Merah merekrut Xhaka ke Old Trafford. "Saya pikir kita harus pergi dan merekrut Xhaka," tegas Schmeichel.

Schmeichel berargumen bahwa Manchester United perlu membangun struktur skuad yang solid di sekitar para pemain muda potensial seperti Kobbie Mainoo. "Saya berpendapat, apa yang akan kita lakukan adalah membangun tim di sekitar Kobbie," kata Schmeichel. Ia menyoroti kekosongan yang akan ditinggalkan gelandang senior seperti Casemiro dan kedatangan opsi pemain muda lain yang dinilai belum teruji di level tertinggi. "Sekarang, Casemiro akan pergi. Sekarang Anda membawa seseorang seperti Wharton, Anderson, atau siapa pun… itu masih muda, itu masih belum teruji," tambahnya.

Menurut pandangan Schmeichel, United saat ini sangat membutuhkan tambahan figur pemimpin sejati di dalam ruang ganti mereka. "Apa yang kita butuhkan dan yang sebenarnya tidak kita miliki selain Harry (Maguire) dan Bruno (Fernandes) di tim itu adalah kepemimpinan yang tepat," kata legenda kiper United tersebut. Ia kemudian memuji kontribusi besar yang diberikan Xhaka di Stadium of Light sepanjang kompetisi musim lalu. "Ketika saya melihat apa yang telah dilakukan Xhaka untuk Sunderland, Xhaka adalah alasan mengapa mereka berada di posisi mereka saat ini," puji Schmeichel.

Ia menegaskan kualitas kepemimpinan gelandang berpengalaman tersebut sangat mumpuni untuk menjaga stabilitas permainan tim. "Dia benar-benar luar biasa, kualitas kepemimpinannya hebat, dia bisa bermain 80 persen dari pertandingan, dia adalah pemain yang sangat bagus," lanjut Schmeichel. Kekurangan karakter kepemimpinan yang kuat menjadi alasan utama bagi Schmeichel untuk merekomendasikan transfer sang pemain. "Kami sangat membutuhkan lebih banyak kepemimpinan," pungkasnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, mantan pemain Manchester United lainnya, Nicky Butt, memberikan pandangan tambahan mengenai dinamika peran Xhaka jika bergabung dengan tim besar. "Xhaka akan datang dan mungkin tidak bermain di setiap pertandingan, tetapi dia akan membawa banyak hal positif ke dalam skuad," kata Nicky Butt, menunjukkan bahwa kontribusi Xhaka tidak hanya terbatas pada menit bermain.

Saat ini, Granit Xhaka sedang fokus penuh membela tim nasional Swiss di ajang Piala Dunia 2026, setelah berhasil membawa negaranya lolos ke babak 32 besar sebagai juara grup. Meskipun spekulasi transfer semakin memanas, perhatian Xhaka sepenuhnya tertuju pada tugasnya bersama tim nasional. Situasi ini menambah kompleksitas dalam upaya Chelsea untuk mengamankan tanda tangan gelandang berpengalaman yang sangat diinginkan Xabi Alonso tersebut, sementara Sunderland bersikukuh mempertahankan aset berharganya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All