Berdayakan Purna Pekerja Migran di Cirebon, BRI Bekali Keterampilan Kewirausahaan Agar Mandiri Ekonomi

Yohanes

Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional dengan menyasar para Purna Pekerja Migran Indonesia (PMI). Kali ini, inisiatif pemberdayaan tersebut difokuskan di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dengan memberikan pelatihan kewirausahaan intensif bagi 60 mantan pekerja migran yang baru saja menyelesaikan masa kontrak kerja mereka di luar negeri. Pelatihan yang berlangsung di Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon ini dirancang sebagai jembatan bagi para purna PMI untuk kembali berintegrasi ke dalam ekonomi domestik melalui jalur kemandirian usaha.

Program pemberdayaan ini mencakup serangkaian kurikulum yang komprehensif, mulai dari pelatihan dasar kewirausahaan hingga teknis manajemen bisnis. Para peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai cara mengidentifikasi potensi usaha yang sesuai dengan kondisi pasar lokal, menyusun rencana bisnis yang realistis, serta mengelola operasional perusahaan yang meliputi aspek produksi, pemasaran, hingga tata kelola keuangan. Tidak hanya berfokus pada sisi teknis, BRI Peduli juga menyentuh aspek psikologis dengan memberikan penguatan mental dan motivasi kewirausahaan, yang sangat krusial bagi para purna PMI untuk membangun rasa percaya diri dalam memulai babak baru kehidupan mereka di tanah air.

Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata kepedulian bank dalam membekali purna PMI dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini. Menurutnya, tujuan utama dari inisiatif ini adalah menciptakan ekosistem ekonomi yang tangguh di daerah asal para pekerja migran, sehingga mereka tidak lagi perlu bergantung pada pekerjaan di luar negeri. Dengan memberikan bekal pengetahuan yang tepat, BRI berharap para purna PMI dapat bertransformasi menjadi pengusaha produktif yang mampu menggerakkan roda ekonomi di desa masing-masing.

Lebih lanjut, Dhanny menegaskan bahwa dukungan BRI tidak berhenti pada saat pelatihan selesai. Para peserta akan mendapatkan pendampingan bisnis secara intensif guna memastikan usaha yang mereka rintis dapat tumbuh dengan optimal, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dengan bimbingan mentor-mentor yang berpengalaman, diharapkan para purna PMI dapat segera menata kehidupan mereka dengan lebih baik sekaligus berkontribusi langsung dalam pembangunan ekonomi daerah melalui penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka.

Pemilihan Kabupaten Cirebon sebagai lokasi prioritas pemberdayaan ini bukan tanpa alasan kuat. Merujuk pada data Pusat Data dan Informasi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia per Desember 2025, Provinsi Jawa Barat menempati posisi puncak sebagai daerah asal PMI terbanyak di Indonesia dengan kontribusi mencapai 21,93 persen dari total nasional. Tren ini terus menunjukkan peningkatan, yang menandakan besarnya potensi sumber daya manusia yang perlu dikelola dengan bijak setelah mereka kembali ke tanah air.

Di tingkat kabupaten, Cirebon termasuk dalam lima besar daerah penyumbang PMI di Jawa Barat. Tercatat terjadi peningkatan jumlah purna PMI di wilayah ini dari 767 orang menjadi 886 orang pada tahun 2025, atau melonjak sekitar 15,51 persen. Angka ini menegaskan urgensi intervensi pemerintah dan sektor swasta seperti BRI untuk memastikan para purna PMI memiliki kapasitas ekonomi yang cukup. Dengan pendampingan yang tepat, potensi besar ini dapat dialihkan menjadi motor penggerak ekonomi produktif di level lokal, sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap migrasi kerja ke luar negeri.

Salah satu peserta pelatihan, Tanipa, yang berasal dari Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, menyambut baik langkah strategis yang dilakukan oleh BRI Peduli. Sebagai mantan pekerja migran yang pernah mengadu nasib di Hong Kong, Bahrain, dan Singapura, Tanipa merasakan langsung urgensi dari materi yang disampaikan. Menurutnya, pelatihan ini sangat aplikatif karena tidak hanya menyentuh teori, tetapi juga memberikan pemahaman konkret mengenai literasi keuangan dan validasi bisnis yang sering kali menjadi kendala utama bagi pemula.

Tanipa mengakui bahwa materi mengenai pengelolaan keuangan usaha dan strategi pengembangan bisnis menjadi bekal paling berharga baginya. Pengalaman bekerja di luar negeri memang memberikan modal finansial, namun tanpa manajemen bisnis yang baik, modal tersebut seringkali cepat habis tanpa menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan. Ia berharap program serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan oleh BRI agar lebih banyak purna PMI di berbagai daerah lain yang mendapatkan kesempatan yang sama untuk membangun kemandirian ekonomi.

Pentingnya integrasi ekonomi bagi purna PMI menjadi perhatian serius mengingat tantangan ekonomi domestik yang semakin dinamis. Program pemberdayaan dari BRI ini diharapkan menjadi model percontohan bagi berbagai pihak untuk saling bersinergi dalam menata kehidupan purna migran. Dengan memberikan akses terhadap edukasi bisnis dan pendampingan, diharapkan tercipta ketahanan ekonomi keluarga yang lebih stabil. Hal ini pada gilirannya akan mengurangi kerentanan sosial yang kerap dialami oleh mantan pekerja migran setelah masa kontrak mereka berakhir.

Ke depan, BRI berkomitmen untuk terus memantau perkembangan usaha yang dirintis oleh para alumni program ini. Fokus utama ke depan adalah memastikan bahwa setiap usaha yang telah divalidasi selama pelatihan mendapatkan dukungan yang tepat, baik dari sisi akses permodalan maupun akses pasar yang lebih luas. Dengan sinergi antara semangat juang para purna PMI dan dukungan infrastruktur serta pendampingan dari BRI, masa depan ekonomi purna migran di Kabupaten Cirebon diharapkan menjadi jauh lebih cerah dan berkelanjutan.

Langkah strategis ini juga sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran secara menyeluruh, tidak hanya saat mereka bekerja, tetapi juga saat mereka kembali ke Indonesia. Sinergi antara perbankan dan otoritas ketenagakerjaan daerah terbukti menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan program pemberdayaan yang tepat sasaran. Melalui inisiatif ini, BRI tidak hanya berperan sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai agen pembangunan yang aktif mendukung pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi kelompok yang paling membutuhkan dukungan untuk memulai kehidupan baru di tanah air.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All