Di tengah euforia kemenangan tim nasional Amerika Serikat (USMNT) atas Paraguay dan Australia dalam fase grup Piala Dunia, Alejandro Zendejas hanya bisa menjadi penonton setia dari pinggir lapangan. Posisi ini tentu bukan yang ia impikan saat bergabung dengan skuad. Pemain berusia 28 tahun ini merupakan figur penting dalam keputusan memilih membela negara tempat ia tumbuh besar, mengalahkan tawaran dari Meksiko, negara kelahirannya dan tempat ia meniti sebagian besar karier profesionalnya.
Kehadiran Zendejas di skuad AS cukup mengejutkan bagi banyak pihak, terutama para penggemarnya di Meksiko. Di sana, ia dikenal sebagai playmaker andal dari klub raksasa, Club América. Data menunjukkan performa impresifnya sejak awal musim 2023-24, dengan catatan 24 gol dan 21 assist dalam 5.462 menit bermain di liga domestik. Kualitas dan performa apik ini membuat para pendukungnya di Meksiko bertanya-tanya mengapa bintang mereka belum mendapatkan kesempatan bermain sama sekali di turnamen akbar ini.
"Saya sangat menghargai dukungan para penggemar di Meksiko," ujar Zendejas sebelum sesi latihan pada Senin. "Saya melihat pesan-pesan mereka dan semua yang mereka lakukan, itu memberi saya kepercayaan diri untuk siap ketika saya tidak mendapatkan menit bermain. Saya sangat menghargainya." Dukungan dari para penggemar menjadi suntikan moral penting bagi Zendejas di saat ia harus bersabar menanti debutnya.
Keputusan Zendejas untuk mewakili USMNT adalah sebuah cerita tersendiri. Sebagai pemain berdarah ganda, ia dihadapkan pada pilihan krusial. Mengingat rekam jejaknya yang gemilang di Liga MX, banyak yang menganggapnya sebagai salah satu kejutan dalam daftar pemain yang dipilih oleh pelatih Mauricio Pochettino. Ia bahkan tidak masuk dalam skuad uji coba AS pada November dan Maret lalu, yang sempat mengindikasikan statusnya sebagai pemain luar untuk turnamen musim panas ini. Namun, di balik bangku cadangan, Zendejas tetap menunjukkan komitmen dan integrasi yang kuat dengan tim, sering terlihat bersama para pemain inti setelah pertandingan dan aktif di konten media sosial tim.
Dalam sesi latihan terbarunya, Zendejas terlihat berlatih bersama Christian Pulisic. Pulisic, yang sebelumnya mengalami cedera betis, tampak sudah pulih sepenuhnya tanpa menggunakan pelindung lengan. Keduanya terlibat dalam sesi latihan bola kontrol dengan gaya permainan "lantai adalah lava", saling bertukar umpan pendek. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi Zendejas untuk memberikan dukungan moril kepada Pulisic yang sempat diragukan tampil melawan Australia.
"Kami membicarakan hal-hal lain, mencoba mengalihkan pikirannya dari tekanan," ungkap Zendejas. "Saya dan dia punya hubungan baik, begitu juga dengan pemain lain yang mendukungnya. Itu sangat membantunya, memiliki seseorang untuk diajak bicara. Jadi, saya hanya berusaha ada untuknya." Sikap suportif ini mencerminkan kedalaman ikatan antar pemain di dalam skuad USMNT, terlepas dari status di lapangan.
Situasi Grup D Piala Dunia kini membuka peluang bagi Zendejas untuk mendapatkan menit bermain. Dengan AS yang sudah memastikan diri lolos ke babak selanjutnya berkat keunggulan head-to-head, pertandingan melawan Turki yang akan datang menjadi pertandingan yang tidak lagi menentukan nasib grup. Turki sendiri telah tersingkir setelah dua kekalahan melawan Australia dan Paraguay. Dalam tradisi turnamen besar, pelatih sering kali memanfaatkan laga terakhir fase grup untuk melakukan rotasi pemain, memberikan kesempatan kepada pemain yang jarang tampil untuk menunjukkan kemampuannya.
"Saya berlatih keras dan menunggu kesempatan, saya yakin itu akan datang," ujar Zendejas mengenai pendekatannya dalam menghadapi minimnya jam terbang. "Itu tentu saja keputusan pelatih, dan sesuatu yang harus saya hormati. Saya bekerja keras, bersenang-senang, dan benar-benar menikmati mimpi yang sedang saya jalani saat ini, jadi saya tidak bisa meminta lebih. Saya senang berada di sini bersama rekan-rekan tim. Saya hanya bahagia." Keyakinan dan sikap positif Zendejas menjadi modal penting dalam menghadapi ketidakpastian ini.
Di luar lapangan, para pemain cadangan memiliki peran penting dalam menjaga semangat tim selama pertandingan. Saat Alex Freeman mencetak gol ke gawang Australia, para pemain pengganti sempat menggoda Freeman yang berlari ke arah yang salah, menyuruhnya untuk datang ke arah mereka. Momen tersebut menunjukkan dinamika positif dan keakraban yang terjalin di bangku cadangan.
Bagi seorang pemain yang mendapatkan kesempatan langka tampil di Piala Dunia, yang kebetulan juga diselenggarakan di negara tempat timnasnya berlaga dan negara kelahirannya, Zendejas tentu sangat mendambakan kesempatan untuk unjuk gigi di lapangan. Jika kesempatan itu datang, ia telah membuktikan kesiapannya melalui dedikasi dan kerja kerasnya.
"Tim bersenang-senang. Latihan intens, tapi dalam artian yang baik," kata Zendejas. "Kami bersaing. Saya pikir ini sudah terjadi sejak awal kamp pelatihan. Ini sudah sebulan penuh. Tapi itu menunjukkan banyak hal tentang grup ini, bahkan saat kamp hanya sepuluh hari. Suasananya sangat positif, jadi bayangkan jika kami bersama selama sebulan. Sangat menyenangkan berada di sekitar orang-orang ini. Ada banyak candaan di antara kami. Namun, ketika berbicara tentang pekerjaan, latihan, dan pertandingan, kami menjadi serius. Kami telah membuktikannya dalam beberapa pertandingan terakhir." Semangat kompetitif yang sehat dan suasana kekeluargaan ini menjadi fondasi kuat bagi USMNT dalam mengarungi turnamen.











