Kepolisian New York terpaksa mengamankan dua orang individu setelah nekat memanjat antena di puncak gedung ikonik Empire State Building, Amerika Serikat. Insiden yang terjadi pada Rabu (1/7) siang waktu setempat ini memicu perhatian publik.
Kedua orang yang diketahui bernama Angela Nikolau dan Ivan Kuznetsov tersebut diduga melakukan aksi lamaran ekstrem di ketinggian gedung pencakar langit itu. Mereka terlihat mengenakan topeng saat menjalankan aksinya.
Dalam momen tersebut, pasangan ini membentangkan spanduk besar. Spanduk itu bertuliskan pesan berbunyi, Ketika kekuatan cinta mengalahkan cinta atas kekuasaan, dunia akan mengenal perdamaian.
Sebagai informasi, antena di puncak Empire State Building bukan sekadar hiasan. Struktur tersebut berfungsi memancarkan sinyal siaran untuk hampir seluruh stasiun televisi dan radio lokal di New York.
Sementara itu, situasi internasional juga diwarnai ketegangan besar di Ukraina. Rusia melancarkan serangan udara masif ke Kyiv dan sejumlah kota lainnya pada Kamis (2/7) dini hari.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan lebih dari 20 rudal balistik serta rudal jelajah ditembakkan ke arah Kyiv hanya dalam kurun waktu dua jam pertama serangan.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, mengonfirmasi dampak tragis dari serangan tersebut. Sebanyak lima orang dinyatakan tewas dan 34 lainnya mengalami luka-luka.
Sebanyak 32 korban luka di antaranya harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif. Serangan itu juga menyebabkan kehancuran infrastruktur, termasuk gedung apartemen dan atap hotel yang terbakar hebat.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan setelah melontarkan pernyataan ringan terkait kondisi fisiknya. Netanyahu mengaku berat badannya hanya berkurang sedikit meskipun saat ini negaranya sedang dalam situasi perang.
Pernyataan tersebut langsung menuai kritik tajam dari berbagai lawan politiknya di dalam negeri. Fenomena ini kemudian memicu diskusi mengenai profil kepemimpinan Netanyahu.
Psikolog klinis senior dan psikoanalis dari Tel Aviv University, Dr. Ofer Grozberg, sempat membedah kepribadian Netanyahu melalui wawancara dengan Maariv tahun lalu. Analisis ini meninjau sejarah keluarga serta pola pengambilan keputusan sang Perdana Menteri.
Menurut pandangan Grozberg, Netanyahu merupakan seorang orator yang sangat ulung. Ia dinilai memahami cara memikat khalayak luas, khususnya bagi mereka yang mendambakan drama dan pathos.
Strategi retorika tersebut sering digunakan Netanyahu sebagai sarana untuk membangun narasi persatuan nasional. Profil ini menjadi semakin relevan mengingat Netanyahu telah menjabat selama 29 tahun sejak terpilih pertama kali pada 29 Mei 1996.











