JAKARTA – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi sorotan utama. Para pakar dan pelaku industri melihatnya sebagai solusi potensial. AI dinilai mampu membuka akses layanan keuangan. Terutama bagi masyarakat akar rumput yang belum tersentuh sistem formal.
Dalam forum bergengsi "The 2026 Asia Grassroots Forum", sebuah diskusi panel menarik digelar. Topiknya adalah "Grassroot Economies in the Age of AI". Tushar Agarwal, Managing Director & Partner BCG, membeberkan data penting. Sekitar 51 persen masyarakat Indonesia sudah memiliki rekening bank.
Namun, angka tersebut belum mencerminkan realitas penuh. Hanya kurang dari 20 persen yang aktif menggunakan layanan keuangan. Kesenjangan ini sangat signifikan. Ini menunjukkan ruang besar untuk inovasi. Layanan keuangan yang lebih dekat dan relevan sangat dibutuhkan.
Pandangan Tushar Agarwal ini disambut baik. Para pelaku industri sepakat. AI adalah alat yang ampuh. Tujuannya adalah memperluas inklusi keuangan. Harapannya, lebih banyak masyarakat dapat mengakses peluang ekonomi. Pertumbuhan usaha dan kesejahteraan mereka pun bisa terdorong.
Avnish Kalhan, Chief Product Officer Amartha, turut memberikan pandangannya. Ia menyoroti kelompok masyarakat paling rentan. Mereka justru memiliki jejak data yang minim. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Teknologi AI menjadi jembatan penting. Ia membantu menjangkau mereka yang belum terlayani.
"Banyak pelaku usaha akar rumput sebenarnya sudah memiliki usaha yang berjalan," jelas Avnish. "Tetapi aktivitas ekonomi mereka belum banyak tercatat dalam sistem keuangan formal."
Ia melanjutkan, tantangan utama bukanlah sekadar mengumpulkan data. Melainkan bagaimana membuat mereka lebih terlihat. "Bagaimana membantu mereka agar lebih terlihat dan dapat memperoleh akses layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan mereka," tegas Avnish.
Dengan AI, data alternatif dapat diolah. Ini membuka peluang penilaian kredit. Bagi mereka yang sebelumnya sulit mendapatkan pinjaman. Teknologi ini dapat memprediksi kelayakan. Berdasarkan pola perilaku dan transaksi non-tradisional.
Potensi AI dalam memetakan kebutuhan pasar juga besar. Algoritma dapat menganalisis tren. Menyesuaikan produk dan layanan keuangan. Agar lebih relevan bagi segmen masyarakat tertentu. Termasuk pelaku UMKM di daerah terpencil.
Kolaborasi antara regulator, pelaku teknologi, dan lembaga keuangan sangat krusial. Untuk mewujudkan potensi AI ini. Demi tercapainya inklusi keuangan yang merata. Dan pada akhirnya, mendorong pemerataan ekonomi nasional.











