Nilai tukar Rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa, ditutup melemah terhadap Dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini dipicu oleh memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut mendorong penguatan Dolar AS.
Pada Selasa, 23 April 2024, nilai tukar Rupiah tercatat ditutup pada level Rp17.744 per Dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan dibandingkan penutupan sebelumnya, mengindikasikan tekanan yang dihadapi mata uang Garuda di pasar global.
Analis pasar keuangan, Riska Afriani, menjelaskan bahwa sentimen negatif dari Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan Rupiah. “Ketegangan di Timur Tengah selalu menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global. Investor cenderung mencari aset yang lebih aman (safe haven) seperti Dolar AS,” ujar Riska.
Selain faktor geopolitik, penguatan Dolar AS yang berkelanjutan juga turut memperparah pelemahan Rupiah. Data ekonomi Amerika Serikat yang solid belakangan ini menjadi penopang utama penguatan mata uang Paman Sam. “Data-data ekonomi AS yang membaik memberikan keyakinan kepada pasar bahwa Federal Reserve mungkin akan menunda penurunan suku bunga lebih lama. Ini tentu membuat Dolar AS semakin menarik bagi investor,” tambah Riska.
Pergerakan Rupiah sepanjang hari menunjukkan fluktuasi, namun tekanan jual lebih dominan terjadi menjelang penutupan perdagangan. Pihak Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan nilai tukar dan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
