David De Gea, kiper veteran asal Spanyol yang kini memperkuat Fiorentina, dikabarkan hanya memiliki satu tujuan jika memutuskan untuk meninggalkan klub asal Italia tersebut. Laporan terbaru menyebutkan bahwa De Gea hanya bersedia kembali ke Manchester United, klub yang pernah dibelanya selama bertahun-tahun. Keputusan ini diambil meskipun ada potensi tawaran dari klub besar lainnya, termasuk Juventus.
Kepindahan De Gea dari Fiorentina tampaknya menjadi keniscayaan. Keputusan ini didorong oleh kebijakan baru klub di bawah direktur olahraga anyar, Fabio Paratici, yang fokus pada pemangkasan beban gaji. Dengan gaji mencapai 5,6 juta euro per tahun di Stadion Artemio Franchi, De Gea menjadi salah satu pemain dengan nominal tertinggi. Kondisi ini semakin mendesak mengingat performa Fiorentina yang sedang merosot, kini tertahan di peringkat ke-15 Serie A.
Selain itu, rencana perombakan skuad Fiorentina juga menjadi faktor penentu. Klub berencana melakukan regenerasi pemain, dan kehadiran pelatih kiper baru, Claudio Filippi, semakin memperkuat sinyal adanya perubahan besar di lini pertahanan. Hal ini membuka peluang bagi De Gea untuk mencari petualangan baru, meski prioritas utamanya jelas mengarah ke Manchester United.
Sebuah momen emosional yang dialami De Gea pada musim panas sebelumnya, saat ia kembali ke Stadion Old Trafford untuk laga uji coba, tampaknya menjadi penanda kuat akan kerinduannya pada klub berjuluk Setan Merah. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam baginya, menciptakan ikatan emosional yang erat dengan para penggemar Manchester United.
"Itu adalah pertandingan yang tidak akan pernah saya lupakan, pastinya," ujar David De Gea mengenang atmosfer laga tersebut. Ia menambahkan bahwa terkadang sulit untuk menggambarkan perasaan di lapangan, melihat kerumunan penonton yang begitu besar. "Itu sangat emosional bagi saya," tuturnya lebih lanjut.
Kebutuhan Manchester United akan penjaga gawang pelapis baru berpotensi menjadi jembatan untuk reuni kedua belah pihak. Media Italia melaporkan bahwa saat ini Manchester United sangat bergantung pada Senne Lammens sebagai kiper utama. Situasi ini diperparah dengan spekulasi kepergian Andre Onana dan Altay Bayindir pada bursa transfer musim panas ini, yang membuat klub berupaya mencari solusi di bawah mistar gawang.
Karier David De Gea di Manchester United terbilang gemilang. Ia bergabung dengan Setan Merah pada tahun 2011 dari Atletico Madrid dan menjadi salah satu kiper terbaik di Liga Primer Inggris selama lebih dari satu dekade. Selama membela United, De Gea meraih berbagai gelar bergengsi, termasuk Liga Primer Inggris, Piala FA, Piala Liga, dan Liga Europa.
Namun, perjalanannya di Old Trafford berakhir pada akhir musim 2022-2023. Meskipun menjadi ikon klub, posisinya sebagai kiper utama mulai tergeser seiring dengan kedatangan Andre Onana. Keputusannya untuk tidak memperpanjang kontraknya membuka pintu bagi era baru di bawah mistar gawang Manchester United.
Kepindahan De Gea ke Fiorentina pada bursa transfer musim panas lalu sempat mengejutkan banyak pihak. Ia bergabung dengan status bebas transfer, mencari tantangan baru di Serie A setelah bertahun-tahun membela satu klub. Namun, tampaknya nostalgia dan ikatan emosional dengan Manchester United tetap kuat menghantuinya.
Kebijakan pemangkasan gaji yang diterapkan Fiorentina memang menjadi tren di banyak klub Eropa saat ini, terutama setelah era pandemi. Klub-klub dituntut untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan mereka, termasuk mengurangi pengeluaran untuk gaji pemain. Hal ini seringkali berujung pada perpisahan dengan pemain-pemain bergaji tinggi yang usianya sudah tidak muda lagi.
Situasi di lini pertahanan Manchester United juga menjadi sorotan. Setelah kepergian De Gea, klub mendatangkan Andre Onana dari Inter Milan dengan harapan besar. Namun, performa Onana di musim pertamanya belum sepenuhnya memuaskan para penggemar. Beberapa kali ia melakukan kesalahan yang berujung pada gol lawan, menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas lini pertahanan tim.
Altay Bayindir, kiper lain yang didatangkan untuk menjadi pelapis, juga belum mendapatkan banyak kesempatan bermain. Kepergiannya yang potensial semakin memperkuat dugaan bahwa Manchester United akan aktif mencari kiper baru pada bursa transfer mendatang.
Kemungkinan kembalinya David De Gea ke Manchester United, meskipun hanya sebagai pelapis, bukanlah hal yang mustahil. Pengalamannya yang luas dan kepemimpinannya di lapangan dapat memberikan kontribusi berharga bagi tim, terutama bagi kiper muda seperti Senne Lammens.
Meskipun begitu, keputusan akhir tetap berada di tangan manajemen Manchester United dan tentu saja David De Gea sendiri. Lantas, apakah reuni manis ini akan benar-benar terjadi? Waktu dan bursa transfer musim panas mendatang akan memberikan jawabannya. Para penggemar Manchester United tentu akan menyambut hangat kembalinya salah satu kiper terbaik dalam sejarah klub, jika memang hal tersebut terealisasi.











