Luka 30 Tahun Inggris di Euro 96: Mengenang Malam Dramatis Kontra Jerman dan Adu Penalti yang Pahit

Danu Ilham

Pada Rabu, 26 Juni 1996, presenter legendaris BBC Des Lynam menutup siaran semifinal Kejuaraan Eropa antara Inggris dan Jerman dengan sebuah pesan profetik. Ia meminta para penonton untuk "mengingat di mana Anda menonton pertandingan malam ini, karena 30 tahun lagi seseorang mungkin akan menanyakannya." Tiga dekade berselang, momen pahit itu masih membekas kuat dalam ingatan banyak penggemar sepak bola, terutama di Inggris, sebagai salah satu kekalahan paling menyakitkan dalam sejarah tim nasional. Kisah-kisah personal dari para saksi mata membuktikan betapa dalam luka yang ditinggalkan malam itu.

Pertandingan di Stadion Wembley itu adalah puncak dari euforia "Football’s Coming Home" yang menyelimuti Inggris selama Euro 96. Harapan publik melambung tinggi, didukung oleh penampilan apik tim Tiga Singa. Namun, mimpi indah itu harus pupus dalam drama adu penalti melawan rival bebuyutan, Jerman. Enam jurnalis Guardian diajak menelusuri kembali kenangan mereka, dan tak dapat dimungkiri, itu adalah perjalanan emosional yang mengungkap berbagai reaksi dan pengalaman personal.

Salah satu saksi mata, PC, masih menyimpan tiket pertandingan dan tiket kereta bawah tanah berwarna merah muda bertuliskan "Wembley Park." Ia menonton dari sisi di atas sudut kanan, tempat Paul Gascoigne (Gazza) melewatkan kesempatan emas di perpanjangan waktu dan adu penalti. Kegembiraan gol cepat Alan Shearer terasa campur aduk dengan kekhawatiran bahwa itu terlalu dini. Ketakutan itu terbukti saat Jerman menyamakan kedudukan. PC mengingat dengan jelas momen-momen menegangkan, termasuk peluang emas Steve McManaman yang sering terlupakan, serta gol emas Jerman yang dianulir karena pelanggaran yang hanya terlihat oleh wasit. Bahkan setelah Gareth Southgate gagal mengeksekusi penalti, ia masih berharap itu belum berakhir. Namun, perjalanan pulang yang sunyi ke stasiun bawah tanah menjadi saksi bisu kekalahan. Ketika ia mencoba mencari sisi positif, seorang penggemar Inggris yang marah justru menanggapi seolah-olah ia telah menghina Putri Diana.

Pengalaman berbeda datang dari AB, yang saat itu berusia 16 tahun dan mengaku tidak terlalu gandrung sepak bola. Namun, pertandingan Inggris melawan Jerman di semifinal Euro 96 ini adalah tontonan wajib. Kebetulan, ia berada di Prancis dalam liburan sekolah setelah ujian GCSE. Pemilik tempat mereka menonton pertandingan mengklaim TV rusak di masa perpanjangan waktu, kemungkinan untuk menghindari kerusuhan remaja jika Inggris kalah. Mereka akhirnya mengikuti drama adu penalti melalui radio transistor di perkemahan, dengan seorang guru menerjemahkan. AB mengaku tidak pernah belajar bahasa Prancis untuk kata "Southgate," sebuah pengingat betapa momen itu begitu melekat.

Di Dublin, Irlandia, LM menyaksikan pertandingan dari sebuah bar hotel besar di Booterstown, tempat ia bekerja paruh waktu sebelum kuliah. Seorang rekan kerja asal Inggris dengan mabuknya menyarankan untuk menyerang Kedutaan Besar Jerman setelah adu penalti. Yang mengkhawatirkan, LM merasa rekannya serius, dan lebih mengkhawatirkan lagi, kedutaan itu hanya sepelemparan batu dari lokasi mereka. Kombinasi suporter Inggris dan alkohol berlebih memang seringkali tidak menghasilkan hal yang positif. Teman-teman Irlandia mereka, tentu saja, tidak terlalu kecewa melihat Inggris tersingkir, setelah penantian panjang untuk merasakan "schadenfreude" (kegembiraan atas penderitaan orang lain).

CL, yang baru memulai kariernya di jurnalisme sepak bola, tidak mendapatkan tiket ke Wembley. Ia menonton di sebuah apartemen di London barat bersama sembilan temannya, beberapa di antaranya juga menonton semifinal Piala Dunia Italia 90 bersama. Pengalaman bersama itu menciptakan ketakutan yang sama dan percakapan intens selama pertandingan. Namun, keheningan gugup menyelimuti ruangan saat Gareth Southgate melangkah maju untuk mengambil penalti. Pertanyaan muncul, "Mengapa dia? Bagaimana dengan Ince, Anderton, atau McManaman? Seharusnya salah satu dari mereka yang mengambilnya." Kegagalan Southgate disambut dengan erangan kolektif dan kekecewaan mendalam. Perjalanan pulang yang panjang dan sedih diiringi harapan kosong, "Jangan khawatir, kita akan memenangkan adu penalti berikutnya, kan?"

Bagi EG, pertandingan itu memiliki dimensi personal yang unik. Istrinya yang sekarang, Barbara, adalah orang Jerman. Jelas, ia tidak bisa menonton pertandingan bersamanya. Ia meninggalkan Barbara di rumah mahasiswa mereka, ditemani calon mertuanya yang datang untuk wisuda keesokan harinya. EG berjalan menanjak ke bar kampus untuk menyaksikan "hal yang tak terhindarkan" itu terungkap: gol Shearer, balasan Kuntz, peluang Gazza yang nyaris, hingga kegagalan Southgate. Rinciannya tak perlu diulang, karena rasa sakitnya masih sama. Perjalanan pulang menuruni bukit terasa lebih panjang, namun ia disambut oleh pelukan simpatik pasangannya yang menekan "schadenfreude" miliknya. Sembilan tahun kemudian, tanggal 26 Juni memiliki makna yang sangat berbeda di rumah mereka, ketika putri mereka, Isabel, lahir. Tanggal itu kini menjadi hari ulang tahun putrinya yang ke-21.

SN memiliki kenangan yang lebih sentimental. Ia berusia 15 tahun dan menonton pertandingan di rumah, setelah menghabiskan beberapa jam sebelumnya untuk belajar ujian GCSE. Namun, di level yang lebih luas, malam itu menandai akhir dari salah satu masa terbaik dalam hidupnya. Tumbuh besar di Wembley pada musim panas 1996 terasa seperti berada di pusat semesta sepak bola. Ia juga penggemar berat timnas Inggris, sebelum hubungannya dengan tim nasional menjadi "rumit dan sulit." Ia menyaksikan pertandingan melawan Skotlandia, merayakan gol Gazza dengan gembira, dan sangat ingin Inggris memenangkan turnamen itu. Namun, harapan itu pupus pada 26 Juni. Meskipun kekalahan itu menyakitkan, kini hanya ada kehangatan yang tersisa untuk malam itu, untuk masa itu. Des Lynam benar, SN mengingatnya dengan sangat baik.

Kekalahan Inggris dari Jerman di semifinal Euro 96 adalah lebih dari sekadar pertandingan sepak bola; itu adalah peristiwa yang membentuk ingatan kolektif, memicu emosi mendalam, dan menjadi penanda dalam sejarah olahraga Inggris. Dari euforia di Wembley hingga kekecewaan di sudut-sudut benua Eropa, setiap cerita personal menambahkan lapisan pada narasi tentang malam dramatis tersebut. Adu penalti yang gagal Gareth Southgate bukan hanya mengakhiri mimpi Inggris di turnamen itu, tetapi juga mengukir jejak luka yang akan diingat selama beberapa dekade, bahkan hingga 30 tahun kemudian, membuktikan bahwa Des Lynam tidak salah. Momen itu memang tak terlupakan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All