Mengurai Misteri Guncangan Bumi: Jejak Sejarah Penjelasan Ilmiah Gempa dari Mitos ke Seismologi Modern

Yohanes

Setiap hari, gempa bumi terjadi di berbagai belahan dunia, sebagian besar dalam skala kecil yang tak terasa. Namun, ketika gempa berskala besar melanda, dampaknya bisa sangat dahsyat, mampu mengubah lanskap dan merenggut ribuan nyawa dalam sekejap. Fenomena alam yang penuh misteri ini telah memicu rasa ingin tahu dan ketakutan manusia sepanjang sejarah, mendorong pencarian pemahaman yang lebih dalam.

Jauh sebelum ilmu pengetahuan tentang Bumi dan gempa berkembang seperti sekarang, manusia purba seringkali mengaitkan guncangan tanah dengan kekuatan supernatural atau makhluk mitologis. Kepercayaan ini meluas di berbagai kebudayaan kuno, mencerminkan upaya awal untuk menjelaskan peristiwa yang tak terduga dan menakutkan ini. Di banyak peradaban, gempa dianggap sebagai manifestasi kemarahan dewa atau pergerakan entitas raksasa di bawah tanah.

Masyarakat kuno di Nusantara, khususnya di Jawa dan Bali, misalnya, memiliki keyakinan kuat tentang Bedawangnala, seekor kura-kura raksasa yang memikul Bumi. Mereka percaya bahwa setiap kali Bedawangnala bergerak atau marah, Bumi akan berguncang hebat. Kisah serupa juga ditemukan di India kuno, di mana gempa diyakini terjadi saat gajah atau ular raksasa yang menyeimbangkan Bumi mengubah posisinya, menciptakan gambaran kosmologi yang kompleks tentang alam semesta.

Namun, di tengah dominasi mitos dan kepercayaan takhayul, muncul seorang filsuf Yunani kuno yang berani melangkah lebih jauh, mencoba menjelaskan fenomena gempa bumi berdasarkan pengamatan alam. Aristoteles, yang hidup antara tahun 384-322 sebelum masehi, diakui sebagai orang pertama yang menghadirkan hipotesis ilmiah tentang penyebab gempa. Ia mengemukakan bahwa angin yang terperangkap di dalam Bumi adalah pemicu utama guncangan sesekali di permukaan.

Menurut Aristoteles, angin yang terkurung itu berusaha keras untuk mendesak keluar dari perut Bumi, yang pada akhirnya mengakibatkan guncangan atau getaran di permukaan tanah. Dalam karyanya yang monumental, Meteorologica, Aristoteles bahkan mengelompokkan gempa bumi bersama dengan fenomena atmosfer lainnya seperti petir, badai, dan komet. Pandangan ini, meskipun belum sepenuhnya akurat, merupakan lompatan besar dari penjelasan yang hanya mengandalkan mitologi.

Meski demikian, pengamatan empiris dan studi sistematis tentang dampak gempa bumi masih sangat jarang terjadi selama berabad-abad setelah Aristoteles. Titik balik signifikan baru muncul pada pertengahan abad ke-18. Tahun 1750, Inggris diguncang oleh serangkaian lima gempa kuat yang tidak biasa, yang kemudian menjadi awal dari era baru pemahaman tentang fenomena ini.

Puncaknya adalah peristiwa tragis pada Minggu, 1 November 1755, ketika gempa dahsyat disertai tsunami meluluhlantakkan kota Lisbon, Portugal. Bencana ini menewaskan sekitar 70.000 orang, meratakan bangunan-bangunan megah, termasuk gereja-gereja yang saat itu dipenuhi jemaat. Kekuatan gempa Lisbon dan gelombang pasang yang mengikutinya tidak hanya menghancurkan kota, tetapi juga mengguncang fondasi pemikiran ilmiah Eropa.

Peristiwa Lisbon 1755 inilah yang secara luas dianggap menandai awal era modern seismologi. Bencana tersebut mendorong banyak penelitian dan penyelidikan intensif mengenai dampak, lokasi, dan waktu terjadinya gempa bumi. Sebelum gempa Lisbon, para cendekiawan dan ilmuwan hampir secara eksklusif merujuk pada karya-karya Aristoteles, Plinius, dan sumber-sumber klasik kuno lainnya untuk mencari penjelasan.

Namun, setelah kehancuran Lisbon yang tak terbayangkan, sikap ini ditinggalkan. Pendekatan baru yang menekankan gagasan berdasarkan pengamatan modern mulai diterapkan secara serius. Para ilmuwan mulai menyadari pentingnya data empiris dan observasi langsung untuk memahami fenomena alam yang begitu merusak ini.

Dari sinilah muncul tokoh-tokoh penting yang menjadi pelopor seismologi modern. John Michell di Inggris dan Elie Bertrand di Swiss memimpin upaya pengamatan waktu dan lokasi gempa bumi, serta studi mendalam tentang dampak fisik yang ditimbulkannya. Mereka berdua meletakkan dasar bagi metodologi ilmiah yang akan digunakan untuk mempelajari gempa di masa mendatang.

Seiring dengan semakin umumnya komunikasi antarberbagai belahan dunia, pengamatan gempa dari berbagai penjuru dapat digabungkan dan dianalisis secara komprehensif. Setelah gempa di Chile pada tahun 1822, penulis Maria Graham melaporkan adanya perubahan sistematis pada ketinggian garis pantai Chile. Ini adalah salah satu observasi awal yang menunjukkan bahwa gempa dapat mengubah geografi suatu wilayah secara fisik.

Pengamatan tentang perubahan garis pantai ini kemudian dikonfirmasi kembali setelah gempa Chile tahun 1835. Saat itu, Robert FitzRoy, kapten HMS Beagle, bersama dengan naturalis Charles Darwin yang sedang berada di darat untuk memeriksa geologi Pegunungan Andes, menyaksikan langsung dampak perubahan tersebut. Kolaborasi tidak langsung antara eksplorasi alam dan studi geologi ini semakin memperkuat bukti empiris tentang efek gempa bumi.

Di Amerika Serikat, Grove Karl Gilbert membuat terobosan penting setelah mempelajari patahan yang diakibatkan oleh gempa Owens Valley, California, pada tahun 1872. Ia menyimpulkan bahwa patahan atau sesar adalah ciri utama gempa, bukan sekadar ciri sekunder. Hingga zamannya, banyak orang masih beranggapan bahwa gempa adalah hasil dari ledakan bawah tanah, dan patahan yang terlihat di permukaan hanyalah efek samping dari ledakan tersebut. Penemuan Gilbert ini mengubah paradigma tentang mekanisme dasar terjadinya gempa bumi.

Akhir tahun 1800-an dan awal 1900-an juga menjadi saksi dimulainya penyelidikan ilmiah gempa yang signifikan oleh para peneliti Jepang. Jepang, sebagai negara yang sering dilanda gempa, memiliki urgensi besar untuk memahami fenomena ini. Seikei Sekiya menjadi orang pertama yang diangkat sebagai profesor di bidang seismologi, sebuah tonggak sejarah penting dalam formalisasi studi gempa. Ia juga merupakan salah satu ilmuwan pertama yang menganalisis rekaman seismik gempa secara kuantitatif, membuka jalan bagi pengukuran yang lebih presisi.

Peneliti Jepang terkenal lainnya dari masa itu adalah Fusakichi Omori. Di antara banyak karyanya, Omori secara khusus mempelajari laju peluruhan aktivitas gempa susulan setelah gempa bumi besar. Persamaan yang ia kembangkan untuk menjelaskan fenomena ini, yang kini dikenal sebagai Hukum Omori, masih digunakan secara luas hingga saat ini dalam analisis seismik.

Memasuki abad ke-20, minat dalam studi ilmiah tentang gempa bumi semakin meningkat secara eksponensial. Bidang seismologi berkembang menjadi sangat kompleks dengan berbagai cabang keilmuan yang saling terkait. Kontribusi penelitian kini datang dari berbagai daerah yang rentan terhadap dampak gempa di seluruh dunia, mencakup Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Rusia, Kanada, Meksiko, Cina, Amerika Tengah dan Selatan, Selandia Baru, dan Australia, serta banyak negara lainnya.

Dari mitos tentang kura-kura raksasa hingga pemahaman modern tentang pergerakan lempeng tektonik, perjalanan manusia dalam mengurai misteri guncangan Bumi adalah bukti nyata evolusi pemikiran ilmiah. Kini, dengan teknologi canggih dan jaringan sensor global, para seismolog terus bekerja keras untuk memprediksi, memahami, dan memitigasi risiko gempa bumi, memastikan keselamatan jutaan jiwa yang hidup di wilayah rawan bencana.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All