Pembalap andalan Aprilia, Jorge Martin, menepis anggapan bahwa Grand Prix Belanda di Sirkuit Assen akhir pekan ini merupakan balapan "wajib menang" bagi timnya. Pernyataan ini muncul di tengah periode sulit yang melanda pabrikan Italia tersebut, sementara rival utama mereka, Ducati, justru menunjukkan performa yang semakin menanjak di ajang MotoGP musim 2026.
Dominasi awal musim yang sempat ditunjukkan Aprilia kini benar-benar diuji. Serangkaian insiden di lintasan balap dalam beberapa seri terakhir telah menggoyahkan posisi mereka di klasemen, membuka peluang bagi Ducati untuk memperlebar keunggulan. Kondisi ini menciptakan tekanan besar, namun Martin memilih untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Jorge Martin sendiri menjadi salah satu pembalap yang merasakan langsung dampak dari periode sulit ini. Ia terlibat dalam tabrakan yang mengakhiri balapannya di Grand Prix Catalunya, sebelum kemudian memicu insiden beruntun di Tikungan 1 pada seri Hungaria yang turut menyeret rekan setimnya, Marco Bezzecchi. Serangkaian kejadian ini tentu sangat merugikan bagi perolehan poinnya.
Tak hanya itu, pimpinan klasemen sementara saat itu, Marco Bezzecchi dari tim VR46 Ducati, juga menghadapi masalah serius. Pada Grand Prix Ceko pekan lalu, Bezzecchi dijatuhi sanksi larangan balap setelah insiden menabrak marshal pasca-kecelakaan dalam sesi sprint race. Sanksi ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi ambisinya meraih gelar juara dunia.
Situasi tersebut secara langsung menguntungkan para pesaingnya. Marc Marquez berhasil memangkas jarak menjadi 40 poin dari posisi teratas, sementara Fabio Di Giannantonio dari VR46 Ducati juga mendekat dengan selisih hanya 23 poin. Bezzecchi sendiri masih unggul delapan poin dari Jorge Martin, menunjukkan betapa ketatnya persaingan di papan atas.
Ketika ditanya pada Kamis menjelang Grand Prix Belanda apakah Assen adalah akhir pekan "wajib menang" bagi Aprilia, Martin menjawab dengan tenang. "Saya tidak berpikir untuk saat ini ada yang namanya wajib menang; yang terpenting bagi saya adalah saya harus mendapatkan kembali feeling terhadap motor," ujarnya. Ia menekankan pentingnya koneksi dengan motor sebagai kunci utama.
Martin yakin bahwa jika ia berhasil menemukan kembali feeling yang tepat, ia akan mampu bersaing memperebutkan podium dan kemenangan di setiap seri. Ia melihat seri Assen ini sebagai semacam "tes" untuk memahami bagaimana ia bisa meningkatkan performanya. Menurutnya, sejak seri Le Mans, proses peningkatan performa mereka seolah terhenti.
"Kami harus terus berbenah karena para pesaing lain, seperti yang sudah saya duga, semakin mendekat," jelas Martin. Ia menambahkan bahwa perbaikan pada set-up dasar motor sangat krusial agar mereka bisa kembali bertarung dalam perebutan gelar juara dunia. Peningkatan ini menjadi prioritas utama di tengah gempuran performa tim rival.
Martin mengakui bahwa ia telah berjuang keras dengan masalah pada bagian depan motor Aprilia-nya dalam beberapa seri terakhir. Isu ini bahkan menghambatnya untuk langsung lolos ke Q2 pada sesi kualifikasi di Brno pekan lalu, menunjukkan betapa signifikan dampaknya terhadap kecepatan dan kepercayaan dirinya di lintasan.
Ia mengungkapkan bahwa timnya akan menyiapkan beberapa hal baru untuk dicoba pada hari Jumat di Assen. Namun, Martin menegaskan keinginannya untuk fokus pada perannya sebagai pembalap ketimbang harus terlalu dalam memikirkan aspek teknis layaknya seorang insinyur. "Saya tidak ingin menjadi seorang insinyur," katanya.
"Saya ingin menjadi pembalap," lanjut Martin, menegaskan kembali prioritasnya. "Saya sudah menyampaikan masukan saya kepada tim, dan saya yakin mereka punya beberapa ide untuk dicoba besok." Kepercayaan terhadap tim teknis menjadi fondasi penting bagi Martin untuk bisa tampil maksimal.
Pembalap Spanyol ini merasa bahwa ia masih "kehilangan kilometer" dengan motornya, merujuk pada waktu yang kurang untuk beradaptasi dan menemukan ritme terbaik. Meskipun ia seringkali cepat di banyak balapan, Martin merasa bahwa ia belum mencapai 100% dari kemampuannya. Hanya di Le Mans ia merasa menemukan "feeling sempurna."
"Jadi, kami perlu memahami dan merefleksikan hal itu, dan mencoba menemukan feeling itu lagi," pungkas Martin. Ia percaya bahwa ketika feeling tersebut kembali dan motornya dalam kondisi terbaik, ia pasti bisa bersaing untuk kemenangan. Namun, tanpa feeling tersebut, akan sangat sulit baginya untuk mencapai performa puncak.
Dengan posisi Aprilia yang berada di persimpangan jalan dan persaingan ketat di kejuaraan dunia MotoGP 2026, Grand Prix Belanda di Assen akan menjadi balapan yang sangat krusial. Meskipun Jorge Martin menolak label "wajib menang," performa tim dan hasil balapan di sirkuit legendaris ini akan sangat menentukan arah sisa musim bagi Aprilia dalam upaya mereka mengejar gelar juara.
