Teheran, sebuah pernyataan mengejutkan dari Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, telah memicu kemarahan besar dari Republik Islam Iran. Rutte mengakui bahwa Aliansi Pertahanan Negara Atlantik Utara telah memberikan dukungan signifikan kepada Amerika Serikat dalam operasi militer melawan Teheran. Pengakuan ini sontak mendapat respons keras dari Iran, yang menuduh NATO terlibat aktif dalam "perang agresi yang melanggar hukum."
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, melalui platform media sosial X, dengan tegas menyatakan bahwa pernyataan Rutte adalah pengakuan yang tidak dapat disangkal atas "keterlibatan aktif" NATO. Menurut Baqaei, keterlibatan ini terjadi dalam apa yang ia sebut sebagai "perang agresi yang melanggar hukum terhadap sebuah negara anggota PBB yang berdaulat." Kecaman ini menyoroti pelanggaran serius terhadap norma-norma fundamental hukum internasional dan prinsip-prinsip utama Piagam PBB.
Pernyataan kontroversial Rutte tersebut muncul dalam wawancara dengan Fox News. Saat itu, Rutte tengah menanggapi kritik yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kerap mengeluh bahwa NATO dan negara-negara anggotanya kurang membantu AS dalam menghadapi Iran. Dalam kesempatan tersebut, Rutte berupaya menjelaskan kontribusi aliansi militer Barat tersebut.
Lebih lanjut, Rutte membeberkan detail dukungan yang diberikan. Ia menyebut bahwa ratusan pesawat militer AS telah lepas landas dari pangkalan-pangkalan di Italia. "Negara demi negara, sekutu demi sekutu, telah menyediakan pangkalan mereka untuk mendukung Operasi Epic Fury," kata Rutte, merujuk pada nama sandi operasi militer AS yang secara implisit menargetkan Iran. Ia secara spesifik menambahkan bahwa "sebanyak 500 pesawat Amerika lepas landas dari pangkalan AS di Italia untuk mendukung Epic Fury."
Tidak hanya Italia, Rutte juga menyinggung peran Romania. Menurutnya, Romania sempat mengurangi penerbangan komersial di bandara-bandaranya karena digunakan untuk mendukung operasi pesawat tanker selama konflik berlangsung. Pernyataan ini memberikan gambaran yang lebih luas mengenai skala dan koordinasi dukungan yang diberikan oleh anggota NATO terhadap operasi militer AS.
Namun, pengakuan Rutte segera memicu reaksi berantai di kalangan sekutu. Italia, yang disebut-sebut sebagai salah satu basis utama operasi tersebut, buru-buru mengambil jarak dari pernyataan Rutte. Kementerian Pertahanan Italia mengeluarkan bantahan keras, menyatakan bahwa komentar Rutte memberikan "gambaran yang sepenuhnya menyesatkan" karena telah mencampuradukkan jenis penerbangan yang sebenarnya diizinkan.
Kementerian Pertahanan Italia mengklarifikasi bahwa negara mereka hanya mengizinkan penerbangan AS yang bersifat "teknis dan logistik" selama berlangsungnya Operasi Epic Fury. Izin ini diberikan berdasarkan perjanjian yang telah berlaku lama antara kedua negara, yang menegaskan bahwa dukungan tersebut tidak bersifat ofensif atau agresif secara langsung. Penyangkalan cepat dari Roma ini mengindikasikan sensitivitas isu dan potensi implikasi diplomatik dari pernyataan seorang Sekretaris Jenderal NATO.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sendiri telah berlangsung selama beberapa dekade, seringkali ditandai dengan sanksi ekonomi, ancaman militer, dan persaingan geopolitik di Timur Tengah. "Operasi Epic Fury" yang disebut Rutte adalah salah satu manifestasi dari friksi yang mendalam ini. Keterlibatan sebuah aliansi militer besar seperti NATO, bahkan dalam bentuk dukungan logistik, dapat dipandang sebagai eskalasi serius oleh Teheran.
Bagi Iran, pengakuan ini menegaskan apa yang selama ini mereka curigai: adanya kolaborasi multinasional dalam upaya menekan atau bahkan menggempur Iran. Tuduhan pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB yang dilontarkan Baqaei mencerminkan pandangan Teheran bahwa tindakan semacam itu tidak hanya provokatif, tetapi juga ilegal dalam konteks hukum global. Piagam PBB secara eksplisit melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
Insiden ini juga menyoroti kompleksitas hubungan di dalam NATO itu sendiri. Meskipun AS adalah anggota paling dominan, pernyataan Sekretaris Jenderal yang mengisyaratkan dukungan militer langsung terhadap operasi kontroversial dapat menciptakan ketidaknyamanan di antara anggota lain, terutama yang memiliki kebijakan luar negeri lebih berhati-hati terhadap Iran. Reaksi Italia adalah contoh nyata dari upaya untuk menyeimbangkan komitmen aliansi dengan kedaulatan nasional dan kebijakan diplomatik mereka sendiri.
Situasi ini menambah lapisan baru dalam dinamika geopolitik yang sudah tegang di Timur Tengah. Kecaman keras dari Iran dan klarifikasi cepat dari Italia menunjukkan bahwa pernyataan NATO dapat memiliki dampak diplomatik yang signifikan dan berpotensi memperkeruh hubungan internasional. Kini, mata dunia tertuju pada perkembangan selanjutnya, bagaimana NATO akan menanggapi protes Iran, dan bagaimana sekutu akan menavigasi klaim-klaim yang saling bertentangan ini.
