Meski Amerika Serikat menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, kehadiran mantan Presiden Donald Trump di stadion untuk menyaksikan langsung pertandingan tampaknya masih menjadi tanda tanya. Hingga kini, batang hidung Trump belum terlihat di antara kerumunan penonton, bahkan ketika pertandingan berlangsung di tanah kelahirannya. Situasi ini kontras dengan Presiden FIFA Gianni Infantino yang kerap terlihat di berbagai laga penting.
Fokus perhatian saat ini tertuju pada jadwal kehadiran Trump yang rencananya baru akan menyapa publik pada laga final. Acara puncak turnamen sepak bola terbesar di dunia itu dijadwalkan berlangsung di Stadion New York New Jersey pada Minggu sore waktu setempat atau Senin dini hari WIB. Kehadirannya bukan sekadar sebagai penonton, melainkan memiliki peran simbolis yang signifikan.
Presiden FIFA Gianni Infantino sendiri yang mengumumkan rencana tersebut. Ia menyatakan bahwa Trump dijadwalkan untuk ikut serta dalam seremoni penyerahan trofi Piala Dunia kepada tim pemenang. Langkah ini, menurut Infantino, merupakan bentuk penghargaan dan pengakuan terhadap Amerika Serikat sebagai salah satu negara penyelenggara. "Kami akan bersama-sama dengan presiden [Trump] menikmati laga final dan menyerahkan trofi. Tentu, bersama-sama. Kami selalu bersama-sama," ujar Infantino, mengutip pemberitaan dari Al Jazeera.
Namun, alasan spesifik di balik absennya Donald Trump dari pertandingan-pertandingan awal Piala Dunia 2026 hingga kini masih belum terungkap secara gamblang. Meskipun berada di Amerika Serikat dan Piala Dunia digelar di negaranya, Trump memilih untuk belum mendatangi stadion. Spekulasi mengenai hal ini pun mulai bermunculan, mengingat posisinya sebagai mantan presiden dan tuan rumah bersama.
Keputusan FIFA untuk memberikan kesempatan kepada Trump menyerahkan trofi final Piala Dunia 2026 memang cukup menarik perhatian. Terlebih lagi, ini bukan kali pertama Trump terlibat dalam seremoni penyerahan trofi di ajang sepak bola internasional. Pengalaman serupa pernah terjadi pada Piala Dunia Antarklub 2025, di mana Chelsea keluar sebagai juara.
Saat itu, Trump juga turut hadir dan memberikan trofi kepada tim The Blues. Namun, momen tersebut diwarnai dengan tingkah yang sedikit tidak biasa. Trump yang kala itu berusia 80 tahun, dilaporkan tidak segera beranjak dari podium setelah trofi diserahkan kepada kapten Chelsea, Reece James. Situasi ini sempat menciptakan momen canggung, bahkan salah satu pemain Chelsea, Cole Palmer, terlihat menunjukkan ekspresi kebingungan terhadap perilaku Trump yang dianggap tidak lazim.
Insiden pada Piala Dunia Antarklub 2025 tersebut mungkin menjadi salah satu pertimbangan atau latar belakang mengapa kehadiran Trump di Piala Dunia 2026 ini dinanti-nantikan. Apakah ia akan mengulangi tingkah yang sama atau menampilkan sikap yang berbeda, masih menjadi sebuah misteri. Pengalaman sebelumnya tersebut mengindikasikan bahwa kehadiran Trump dalam acara penyerahan trofi seringkali menjadi sorotan tersendiri.
Piala Dunia 2026 sendiri merupakan edisi yang bersejarah karena pertama kalinya diselenggarakan oleh tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen ini juga menjadi yang terbesar dalam sejarah dengan partisipasi 48 tim nasional, menambah semarak dan skala kompetisi yang lebih luas. Dengan Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah utama, euforia sepak bola global seharusnya terasa kental di berbagai kota di negara Paman Sam tersebut.
Partisipasi Trump dalam seremoni final tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat dengan makna politik dan diplomatik. Sebagai mantan presiden, kehadirannya dapat dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap citra Amerika Serikat di kancah internasional melalui olahraga. FIFA, melalui undangannya, tampaknya ingin menunjukkan adanya sinergi antara institusi sepak bola dunia dan para pemimpin negara tuan rumah.
Namun, di balik segala seremonial tersebut, pertanyaan mengenai alasan absennya Trump di laga-laga awal tetap menjadi pokok bahasan. Beberapa kemungkinan bisa dipertimbangkan. Bisa jadi, Trump memiliki kesibukan lain yang membuatnya tidak dapat hadir di setiap pertandingan. Atau, ia sengaja memilih momen final untuk memberikan dampak yang lebih besar. Faktor keamanan dan logistik dalam pengamanan mantan presiden juga bisa menjadi pertimbangan kompleks.
Selain itu, politik domestik Amerika Serikat yang kerap dinamis juga bisa memengaruhi keputusan publik seorang figur seperti Trump. Meskipun tidak ada pernyataan resmi yang mengaitkan absennya dengan isu politik, publik selalu mencari makna di balik setiap langkah tokoh publik.
Kehadiran Gianni Infantino yang konsisten di berbagai pertandingan menunjukkan komitmen FIFA dalam mempromosikan turnamen ini. Ia aktif berinteraksi dengan para penggemar, pemain, dan ofisial, serta memastikan jalannya acara berjalan lancar. Perannya sebagai wajah FIFA dalam gelaran ini sangat krusial.
Piala Dunia 2026 diharapkan menjadi ajang yang sukses, tidak hanya dari sisi kompetisi di lapangan, tetapi juga dari penyelenggaraan dan dampak positifnya bagi negara-negara tuan rumah. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Donald Trump di momen puncak, meskipun tertunda, diharapkan dapat menambah prestise acara tersebut. Namun, misteri di balik penundaannya tetap menjadi salah satu cerita menarik di luar lapangan hijau gelaran akbar ini. Publik pun akan menanti bagaimana penampilan Trump saat menyerahkan trofi di final nanti, dan apakah akan ada kejutan lain dari mantan presiden yang selalu penuh kontroversi tersebut.











