Kondisi kesehatan aktor senior Tio Pakusadewo dilaporkan menurun drastis dalam enam bulan terakhir, memaksanya harus keluar-masuk rumah sakit akibat komplikasi berbagai penyakit. Pria berusia 62 tahun ini bahkan telah menjalani prosedur pemasangan ring jantung dan kini membutuhkan perawatan intensif di rumah.
Perjuangan Tio Pakusadewo melawan berbagai gangguan kesehatan bermula dari gejala yang awalnya terkesan ringan, namun tak kunjung hilang. Dilansir dari Detik Hot pada Rabu (24/6/2026), Tio mengungkapkan bahwa salah satu keluhan utamanya adalah cegukan yang tak henti-hentinya selama berbulan-bulan. Gangguan yang mengganggu ini bahkan mewarnai aktivitas sehari-harinya, mulai dari tidur, bangun, hingga makan.
"Touring, touring rumah sakit," ujar Tio Pakusadewo dengan nada bercanda saat menjadi bintang tamu di acara Rumpi: No Secret, Rabu (24/6/2026), menggambarkan rentetan perjalanannya ke berbagai fasilitas kesehatan.
Keheranan Tio semakin bertambah ketika cegukan tersebut sempat mereda sementara waktu saat ia tengah disibukkan dengan jadwal syuting di luar kota. "Lucu ini ganti-ganti ya. Awalnya dari cegukan. Cegukan, tapi ini empat bulan nggak berhenti. Sampai tidur, bangun, tidur, makan, semua cegukan," tuturnya.
Namun, kondisi fisik Tio mendadak memburuk secara signifikan setelah ia menyelesaikan seluruh rangkaian proses pengambilan gambar dan kembali ke Jakarta. Titik kritis terjadi di malam hari setelah kepulangannya ke ibu kota, di mana ia mengalami kesulitan bernapas. Situasi darurat ini langsung membawanya ke rumah sakit dan memerlukan penanganan segera.
"Selesai dari Bandung, balik Jakarta sehari, malamnya sudah nggak ada napas. Terus rumah sakit, langsung dirujuk ke rumah sakit pertama, pasang ring karena penyumbatannya sudah 94 persen," cerita Tio Pakusadewo mengenai kronologi peristiwa tersebut. Prosedur pemasangan ring jantung ini dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pembuluh darah koroner yang mencapai tingkat kritis.
Meskipun telah menjalani operasi pemasangan ring jantung, perjuangan Tio belum usai. Setelah keluar dari rumah sakit, ia kembali dihadapkan pada masalah kesehatan lain, yaitu saraf kejepit atau Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Rasa sakit yang luar biasa akibat kondisi ini membuatnya mendadak tidak dapat menggerakkan badannya saat terbangun di pagi hari.
"Ya, terus itu selesai dari situ, cegukannya nggak sembuh," lanjut Tio. "Jadi pulang ke rumah itu, di jalan meriang. Meriang, meriang, meriang gitu, sampai di rumah, tidur, pagi-pagi nggak bisa bangun. Sudah nggak bisa bangun."
Kondisinya sempat menunjukkan sedikit perbaikan, namun sebuah acara reuni bersama rekan-rekan seniornya kembali memicu kambuhnya rasa sakit. Tio harus kembali dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah terlalu lama duduk saat menghadiri acara tersebut.
"Terus sembuh sebentar. Ada acara reunian senior. Datang ke sana, pokoknya kelamaan duduk di kursi roda, 4 jam. Dari situ, pulang ke rumah, back to zero, sakit lagi. Masuk lagi ke rumah sakit," ungkapnya.
Pemeriksaan medis lanjutan yang dilakukan kemudian mengungkap adanya berbagai komplikasi penyakit lain yang menggerogoti tubuh Tio. Tim dokter mendeteksi adanya kebocoran pada katup jantungnya, yang mengharuskan ia dirujuk ke Rumah Sakit Harapan Kita untuk penanganan lebih spesifik. Selain itu, pemeriksaan juga menunjukkan adanya gangguan fungsi pada organ ginjal serta kebocoran pada saluran pencernaan di lambungnya.
"Ternyata ada ginjal juga, ada lambung juga, pencernaannya bocor. Tapi itu semua sudah, sudah diobati, sudah membaiklah," aku Tio Pakusadewo, menunjukkan optimisme bahwa kondisinya berangsur membaik berkat penanganan medis yang intensif.
Menyadari pentingnya kondisi psikologis dalam proses pemulihan, Tio kini berupaya keras untuk menjaga pola pikirnya agar tetap positif dan bahagia. Ia percaya bahwa kebahagiaan dapat menjadi faktor pendukung yang signifikan dalam penyembuhan penyakitnya.
"Sekarang nggak boleh sedih, harus happy-happy saja. Ya, happy-happy saja. Kalau ngomong bisa kuat atau masih bisa," tukas Tio Pakusadewo, menegaskan komitmennya untuk berjuang melawan penyakit dengan semangat yang membara. Perjuangannya ini juga dilaporkan menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan, menunjukkan akses terhadap layanan kesehatan bagi masyarakat.











