Ekspor senjata Rusia mengalami penurunan drastis sebesar 64%, membuka celah signifikan yang kini mulai dimanfaatkan oleh China. Lonjakan permintaan dari pasar global, terutama di Asia Tengah, menjadi momentum bagi Beijing untuk memperkuat posisinya melalui penjualan jet tempur J-10CE, peningkatan perdagangan, serta proyek-proyek energi strategis.
Penurunan tajam dalam ekspor senjata Rusia ini sebagian besar disebabkan oleh sanksi internasional yang semakin ketat dan isolasi politik yang dialami Moskow pasca-invasi ke Ukraina. Kondisi ini memberikan keuntungan kompetitif bagi China, yang selama ini gencar berupaya meningkatkan kapabilitas industri pertahanannya dan memperluas jangkauan pasar globalnya.
Salah satu langkah strategis China adalah penetrasi pasar Asia Tengah dengan menawarkan jet tempur J-10CE. Pesawat ini dikenal memiliki kemampuan tempur yang mumpuni dan harga yang kompetitif, menjadikannya pilihan menarik bagi negara-negara di kawasan tersebut yang mungkin sebelumnya mengandalkan pasokan dari Rusia. Keberhasilan China dalam menawarkan alternatif yang layak ini menegaskan pergeseran kekuatan di pasar alutsista global.
Selain sektor pertahanan, China juga memperkuat pengaruhnya di Asia Tengah melalui jalur perdagangan yang semakin intensif dan investasi pada proyek-proyek energi. Sinergi antara diplomasi pertahanan dan ekonomi ini memungkinkan China untuk membangun hubungan bilateral yang lebih kokoh, sekaligus mengurangi ketergantungan negara-negara tersebut pada Rusia.
Analis pertahanan memperkirakan bahwa tren ini akan terus berlanjut, dengan China berpotensi menjadi pemain dominan di pasar senjata internasional dalam beberapa tahun mendatang. Kemampuannya untuk menawarkan produk pertahanan yang modern dan terjangkau, ditambah dengan kekuatan ekonominya, menempatkan China pada posisi yang kuat untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Rusia.
