Produktivitas kelapa sawit rakyat di Kabupaten Seluma, Bengkulu, sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) para pekebunnya. Hal ini ditegaskan oleh para ahli, yang menekankan bahwa ketersediaan bibit unggul, pupuk yang memadai, luas lahan yang dimiliki, serta usia tanaman yang produktif, belum cukup untuk mendongkrak hasil panen secara optimal.
Menurut Prof. Dr. Ir. Budi Santoso, seorang pakar perkebunan, pekebun perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni. “Pekebun yang terampil akan tahu bagaimana cara merawat tanaman sawit dengan benar, mulai dari pemupukan yang tepat dosis dan waktu, pengendalian hama dan penyakit, hingga teknik panen yang efisien,” ujarnya dalam sebuah diskusi yang digelar pada 15 Mei 2024.
Prof. Budi menambahkan, “Tanpa SDM yang kompeten, potensi bibit unggul dan pupuk berkualitas tidak akan tersalurkan secara maksimal. Ini seperti memiliki mobil sport dengan mesin canggih, tetapi pengemudinya tidak ahli, tentu tidak akan bisa mencapai performa terbaiknya.” Ia mencontohkan, pekebun yang paham akan pentingnya pemupukan berimbang akan mampu mengaplikasikan pupuk sesuai kebutuhan tanaman, sehingga nutrisi terserap optimal dan pertumbuhan sawit menjadi lebih baik.
Data dari Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas kelapa sawit rakyat di Seluma masih belum mencapai target ideal. Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit Rakyat, Ir. Bambang Wijaya, mengakui bahwa ada tantangan besar dalam hal peningkatan kapasitas pekebun. “Kami telah berupaya menyediakan bibit unggul bersertifikat dan memastikan ketersediaan pupuk melalui program subsidi. Namun, di lapangan, masih banyak pekebun yang belum sepenuhnya mengadopsi praktik-praktik perkebunan yang baik (Good Agricultural Practices/GAP),” jelas Bambang pada 20 Mei 2024.
Bambang menjelaskan, GAP mencakup berbagai aspek, mulai dari pemilihan bibit, penanaman, pemeliharaan, hingga pascapanen. “Teknik panen yang salah, misalnya, bisa merusak tandan buah segar (TBS) dan menurunkan kualitas minyak sawit yang dihasilkan. Begitu pula dengan penanganan pascapanen yang tidak tepat waktu, dapat menyebabkan penurunan rendemen,” katanya.
Oleh karena itu, lanjut Bambang, pemerintah daerah dan pihak terkait perlu lebih gencar melakukan program penyuluhan dan pendampingan bagi para pekebun. “Pelatihan rutin, workshop, dan kunjungan lapangan ke kebun-kebun yang sudah berkinerja baik akan sangat membantu. Kita perlu membangun ekosistem perkebunan yang kuat, di mana pekebun menjadi aktor utama yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola kebunnya secara profesional,” tegas Bambang.
Dengan peningkatan kualitas SDM pekebun, diharapkan produktivitas kelapa sawit rakyat di Kabupaten Seluma dapat meningkat signifikan, memberikan dampak ekonomi yang lebih baik bagi para petani dan daerah.
